After Divorce

After Divorce
AD BAB 119 - Bisakah Menyembuhkan Lukaku?


__ADS_3

Sebelum Karin pergi, untunglah Daniel sempat membaca kartu tanda pengenal dokter wanita itu.


Kini nama Karin memenuhi otaknya. Di langkah kakinya yang kembali menuju ruangan Jia, dia terus mengucapkan nama Karin di dalam hatinya.


Dia harus merekam nama itu, mengingatnya dan kapan-kapan meminta maaf dengan benar, mengirimkan sebuket bunga mawar merah mungkin?


Sampai di kamar Jia, Daniel langsung masuk dan ternyata disana sudah ramai, ada Sofia, Rayden dan Ina, juga ada Karin dan ibunya sendiri.


Ha? untuk apa ibunya datang kesini? pikir Daniel.


"Loh Niel, kamu darimana saja? bukannya tadi datang lebih dulu?" tanya ibu Daniel, Stefanny. Biasa dipanggil Nyonya Fan.


Daniel bingung mau menjawab apa, tidak mungkin mengatakan jika tadi dia cemburu dan butuh waktu untuk menenangkan diri dulu.


Lantas dengan cepat, Daniel menjawab bohong.


"Macet."


"Macet apanya?" gerutu Fan, perasaan dia di jalan tadi lancar-lancar saja.


Daniel melirik Karin dan mengediplan sebelah matanya genit. Memberi isyarat untuk menjaga rahasianya.

__ADS_1


Tapi Karin tetap tidak menunjukan ekspresi apapun, tetap setia dengan wajahnya yang datar dan dingin. Tapi Karin dengan segera bisa memahami situasi, jika ada cinta segitiga disini, Alex, Jia dan Daniel.


Dan Daniel adalah orang yang kalah.


Menyadari itu, Karin tersenyum kecil. Dalam hatinya berkata, kapok!


Pertemuan hangat pun terjadi disana, Daniel hanya melihat baby Aleia dan tidak berani menggendongnya. Dia malah menggendong Rayden dan membujuk anak laki-laki ini untuk tinggal bersama dia selama baby Aleia masih kecil. Nanti kalau baby Aleia sudah besar dan bisa diajak main barulah Rayden pulang.


Usul Daniel dan membuat semua orang tertawa, tapi tidak dengan karin yang hanya geleng-geleng kepala.


Karin masih disini setelah menyampaikan pesan salam dari ibunya, ucapan selamat untuk semua keluarga Carter atas kelahiran baby Aleia.


15 menit disana, Karin memutuskan pamit. Dia juga harus kembali bekerja.


Tentu saja Daniel patuh.


Mereka berdua keluar, berjalan beriringan.


"Tidak perlu mengantar saya Tuan, terima kasih atas niat baik anda," ucap Karin ketika dia dan Daniel sudah berada di luar kamar Jia, sudah kembali menutup pintu dengan rapat.


"Ayo jalan, dimana ruangan mu?" tanya Daniel, dia tidak biasa bicara formal seperti Karin tadi.

__ADS_1


"Tidak perlu mengantar saya Tuan_"


"Dimana ruangan mu?" potong Daniel.


"Kenapa Anda kukuh sekali mengantar saya, apa ingin kabur dari situasi yang menyesakkan hati?" sindir Karin, karena kesal dia sampai mengucapkan kalimat itu.


"Apa begitu terlihat jika aku sedang patah hati?" tanya Daniel pula.


Karin kira Daniel akan marah ketika ranah pribadinya disentuh, tapi ternyata pria ini malah menanggapinya biasa saja. Malah mengaku jika dia patah hati.


"Terlihat sangat jelas," balas Karin dengan suara yang mulai lembut pula, tidak sedingin tadi.


Tanpa disadari oleh mereka banyak pembicaraan tercipta selama di perjalanan. Sampai akhirnya langkah mereka terhenti ketika sudah sampai dihadapan pintu ruang kerja Karin.


"Sudah sampai, terima kasih karena Anda sudah mengantar saya." ucap Karin, dia bahkan sedikit menundukkan kepalanya tanda hormat.


"Kamu kan dokter, bisakah kamu menyembuhkan luka hatiku?" tanya Daniel.


"Bisa, saya bisa membius Tuan sampai tidak sadar, sampai Anda lupa jika punya sakit hati," jawab Karin dengan tersenyum, manis sekali.


Tapi ucapannya ...

__ADS_1


Jahat sekali, batin Daniel.


__ADS_2