
Dengan langkah gontai Niko memasuki ruang kantornya. Hari ini dia sepertinya tidak semangat untuk bekerja setelah mendengar ucapan ibunya barusan. Begitu hendak duduk di kursinya tiba-tiba pak Iwan muncul di hadapannya.
“Pak Niko sakit ya?” tanya Pak Iwan memperhatikan wajah Niko yang terliaht pucat.
Niko hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian pak Iwan mendekatinya sambil menepuk bahu teman dekatnya.
“Pak Niko kenapa? Pasti lagi ada masalah ya?” tanya pak Iwan ingin tau.
“Biasalah Pak, masalah kecil pasti ada,” jawab Niko.
“Makanya dari sekarang cari istri lagi biar masalahnya bisa dibagi sama istri jadi nggak terlalu berat,” canda pak Iwan sambil tertawa.
Niko hanya tersenyum mendengar ucapan pak Iwan
“Coba pak Niko ceritakan manatau saya bisa ngasih solusi.”
Setelah didesak oleh pak Iwan akhirnya Niko mulai bercerita tentang keinginan ibunya yang bertentangan dengan hati nuraninya. Pak Iwan terlihat mendengarkan dengan tekun.
“Kalau saran saya, pak Niko utamakan hati nurani Bapak biar tidak ada penyesalan. Tapi Bapak juga harus pertimbangkan lagi kalau bapak mengutamakan keinginan Bapak untuk rujuk kembali dengan mantan istri Bapak, sementara mantan istri Bapak tidak mau. Kan nggak mungkin terjadi pernikahan lagi. Berarti jalan satu-satunya Bapak harus menuruti omongan ibu bapak.”
“Tapi pak Iwan, saya nggak mencintai sepupu saya itu dan saya sudah menganggap dia adik.”
“Kalau masalah itu gampang Pak karena cinta akan datang dengan sendirinya.”
“Tapi yang jadi masalah pak Iwan, kalau Ririn itu orang lain mungkin lama-kelamaan saya bisa mencintainya. Tapi Ririn itu sudah saya anggap seperti adik saya sendiri kan nggak mungkin saya mencintai adik saya sendiri.”
Pak Iwan hanya diam saja mendengar penjelasan Niko.
“Bapak harus berusaha keras untuk menghilangkan anggapan bahwa Ririn adalah adik Bapak supaya Bapak bisa mencintai Ririn dengan sepenuh hati.”
“Tapi perasaan saya sangat berat pada Widya, Pak.”
__ADS_1
“Buktinya Widya nggak mau menerima Bapak lagi, jadi kan nggak bisa dipaksa Pak. Sementara Ririn mau menerima bapak. Ya udah lebih baik Bapak menikahi Ririn dari pada Widya yang memang nggak mau sama sekali. Masalah cinta Pak, yakinlah cinta akan datang dengan sendirinya karena seringnya kita bersama. Kalau Bapak nanti sudah menikah dengan Ririn dan tinggal satu rumah lama kelamaan Bapak pasti bisa mencintai Ririn seperti istri. Apalagi kalau di Ririn langsung hamil pasti Bapak sayang dengan anak Bapak dan juga dengan ibunya,” jelas pak Iwan.
Setelah mendengarkan penjelasan pak Iwan, Niko hanya diam sambil memikirkannya. Apa yang dikatakan pak Iwan ada baiknya juga dari pada mengharapkan yang tidak pasti yaitu Widya lebih baik menikahi yang sudah pasti yaitu Ririn.
Walaupun pak Iwan sudah menasehati Niko agar memilih Ririn dari pada Widya, tapi Niko tetap mengharapkan Widya juga. Hatinya belum bisa berpaling dari Widya.
Dia berencana pulang kantor mau lewat di depan rumah Widya lagi. Walaupun tidak melihat orangnya paling tidak melihat rumahnya Niko sudah merasa puas.
***
Saat jam kerja selesai Andre menghampiri Anton yang merupakan supir pribadinya.
“Anton, kita pulangnya nanti aja ya karena masih ada kerjaan yang harus saya selesaikan,” jelas Andre.
“Baik Pak.”
“Oh ya Anton, nanti kita pulang melewati rumah yang semalam lagi ya,” pinta Andre pada Anton.
Anton hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum sendiri.
“Kamu mau tau aja.”
Anton langsung tertawa mendengar ucapan Andre.
“Saya penasaran Pak, karena sejak dari semalam Bapak memperhatikan rumah itu.”
“Nanti kamu pasti tau sendiri,” jawab Andre.
***
Andre langsung masuk ke ruang kerjanya dan menghabiskan waktunya di ruang kerjanya sambil tiduran di kursinya. Belakangan ini kalau pulang kerja Andre tidak langsung pulang tapi dia asik dengan komputer yang ada di hadapannya dan tidak jarang juga Andre sampai tertidur di kursinya.
__ADS_1
Begitu juga hari ini ketika bangun dari tidurnya ternyata waktu maghrib sudah tiba. Andre langsung menunaikan sholat magrib di ruang kerjanya dan setelah itu baru dia keluar menemui Anton.
Tidak lama kemudian Anton melajukan kendaraannya keluar dari tempat kerja Andre yang merupakan perusahaan milik mertuanya. Perusahaan itu terlihat sangat besar dan megah.
Sejak awal berdiri perusahaan itu, perusahaan itu tidak terlalu besar dan pegawainya juga tidak terlalu banyak. Tapi begitu dipegang oleh Andre perusahaan itu langsung berkembang dan sekarang pegawainya juga sudah banyak.
Sikap Andre yang selalu ramah pada pegawainya membuat pegawainya merasa senang dan menyukai Andre. Terlihat Andre dengan pegawainya juga sangat akrab karena dia tidak membeda-bedakan antara atasan dan bawahan baik pegawai rendahan atau pegawai tingkat tinggi. Andre selalu menganggapnya sama dalam bergaul. Hal inilah salah satu yang membuat pegawainya banyak menyukainya Andre.
***
“Pak, kita berhenti di depan rumah itu lagi?” tanya Anton saat sudah dekat rumah Widya.”
Andre berpikir sesaat dan langsung menjawab.
“Kita berhenti pun nggak apa-apa.”
Kemudian Anton memperlambat laju kendaraannya dan begitu melewati rumah Widya, Anton menghentikan kendaraannya. Tanpa rasa ragu Andre keluar dari mobil. Tapi begitu sampai halaman rumah Widya, Andre kembali lagi menuju mobilnya.
“Anton, temani saya ya.”
Anton yang merasa penasaran langsung turun dari mobil dan mengikuti majikan. Rasa ingin taunya sangat besar karena sejak semalam Andre tidak memberitau rumah siapa yang sedang didatangi mereka.
Saat yang bersamaan Niko juga sampai di depan rumah Widya. Dia langsung mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil karena melihat dari jauh Andre dan Anton sedang menuju ke rumah Widya.
Niko langsung membulatkan matanya sempurna untuk mengamati kedua pria yang masuk ke halaman rumah Widya. Betapa terkejutnya Niko saat diperhatikan ternyata pria itu adalah pria yang mengantarkan Noval ke rumah sakit.
‘Bukankah pria itu orang tua temannya Noval yang mengantarkan Noval ke rumah sakit. Berarti pria itu pacarnya Widya,’ batin Niko geram.
Niko langsung mengepalkan tangannya seolah-olah akan menghajar Andre yang membuatnya kesal.
‘Ternyata diam-diam Widya sudah memiliki pria lain. Pantas saja dia tidak mau ku ajak untuk rujuk kembali,’ batin Niko kesal.
__ADS_1
Kemudian Niko memperhatikan dengan seksama saat Andre dan Anton masuk ke rumah Widya. Walaupun perasaannya geram tapi Niko tetap mengamati kedua pria itu saat masuk ke rumah Widya.
Perasaan Niko sangat sakit saat melihat Widya membukakan pintu dan langsung tersenyum ramah pada kedua pria itu. Sebenarnya Widya merasa terkejut saat membuka pintu ternyata tamu yang datang adalah Andre. Melihat wajah Widya yang seperti orang bingung Andre langsung tersenyum. Sedangkan Widya hanya berdiri sambil terbengong.