After Divorce

After Divorce
Maafkan Aku


__ADS_3

Begitu Niko dan keluarganya tiba di rumah Ririn, mereka disambut dengan ramah. Rasa senang dan bahagia terpancar dari wajah Ririn. Ririn terlihat sangat bahagia sehingga senyum manisnya selalu tergambar pada bibirnya.


Para undangan dan pak penghulu juga sudah hadir di tempat itu. Pernikahan dilaksanakan di rumah orang tua Ririn.


Ririn keluar dari rumahnya dan menuju area pernikahan di halaman rumahnya yang sudah ditata secantik mungkin. Dia didampingi oleh temannya yang bernama Rita. Ririn menggenggam tangan Rita erat. Ririn terlihat sangat gugup menghadapi pernikahan ini. Jantungnya berdetak sangat kencang saat berjalan menuju meja pernikahan yang telah disiapkan.


“Ririn, tangan kamu dingin sekali,” bisik Rita di telinga Ririn.


“Iya Rit, aku gugup sekali,” jelas Ririn dengan suara pelan.


“Kamu tarik napas panjang dan buang perlahan. Tenangkan pikiran kamu dan jangan terlalu takut supaya tidak gugup,” bisik Rita.


Ririn berusaha melakukan apa yang dikatakan Rita barusan. Dia berusaha sekuat tenaga untuk lebih tenang.


‘Kenapa aku sangat gugup seperti ini,’ batin Ririn saat berjalan di pelataran.


Semua tamu yang hadir langsung memandang ke arah Ririn yang berjalan menuju meja pernikahan. Semuanya tampak takjub dengan kecantikan Ririn yang terlihat sangat alami.


Ririn terlihat sangat cantik dengan memakai kebaya berwarna putih dengan bertaburkan manik-manik yang berkilauan di sana-sini. Sedangkan untuk bawahannya berbahan batik sepadan dengan atasannya.


Tubuh Ririn yang sudah tinggi memakai sepatu yang berhak tinggi juga membuat tubuhnya tinggi semampai seperti boneka barbie yang terpajang di etalase toko.


‘Subhanallah cantiknya Ririn,’ batin bu Tanti memandang Ririn tidak berkedip.


Semua orang memandang Ririn dengan perasaan takjub dan senang melihat calon pengantin yang sangat cantik.


Niko tampak biasa saja dan sedikit pun tidak ada melihat ke wajah Ririn. Wajahnya juga tidak memancarkan rasa bahagia. Berbeda dengan Ririn yang terlihat sangat bahagia dengan pernikahannya.

__ADS_1


Kemudian Ririn dan Niko duduk bersanding. Keduanya tampak sangat serasi. Ririnnya sangat cantik dan Niko juga terlihat gagah.


“Gimana Pak, udah bisa acaranya dimulai?” tanya pak penghulu pada ayahnya Ririn.


“Sudah Pak, silakan...”


Kemudian acara ijab kabul digelar. Ririn terlihat sangat bahagia dengan senyuman manisnya selalu menghiasi wajahnya. Sedangkan Niko sedikit pun tidak menunjukkan rasa bahagia ataupun senang. Wajahnya tampak tegang.


“Gimana Bapak Ibu, sah....” ucap pak penghulu.


“Sah.... sah....” jawab semua pengunjung serentak.


“Alhamdulillah....” jawab semua pengunjung yang hadir.


Setelah acara ijab kabul selesai dilanjutkan dengan acara doa bersama yang dipimpin oleh salah seorang ustad. Terlihat kedua orang tua Ririn sangat bahagia menyaksikan pernikahan putri satu-satunya.


Dari wajah Niko terlihat kalau Niko kurang menyukai pernikahan ini. Niko sepertinya terpaksa untuk menikahi Ririn sehingga di depan orang banyak dia bersikap biasa saja walaupun batinnya menolak.


***


Setelah acara ijab kabul selesai, acara selanjutnya adalah resepsi pernikahan. Resepsi pernikahan digelar semeriah mungkin karena ini adalah pesta pertama kali yang digelar oleh orang tua Ririn. Banyak tamu yang diundang sehingga kedua pengantin dan kedua orang tua Ririn lelah juga bersalaman dengan semua para undangan. Teman-teman kerja Ririn juga diundang semuanya.


Setelah acara pesta pernikahan selesai, Ririn masuk ke kamarnya untuk bersih-bersih. Malam ini adalah malam pertama baginya membuat Ririn sedikit takut dan gugup menghadapi malam pertama.


Di depan cermin dia berdandan. Sengaja dia memakai bedak yang sangat tipis dan juga parfum sedikit supaya tidak begitu menyengat. Malam ini adalah malam pertama baginya sehingga dia berdandan secantik dan sewangi mungkin.


Begitu Niko keluar dari kamar mandi jantung Ririn berdetak kencang. Ririn merasa gugup. Untuk menghilangkan rasa gugupnya Ririn kemudian duduk di sisi ranjang sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


Niko yang selesai memakai baju langsung menyisir rambutnya di depan cermin. Dia sedikit pun tidak melihat ke arah istrinya. Sedangkan Ririn tampak gelisah dan ada perasaan takut membayangkan malam pertama yang akan dialaminya malam ini.


Selesai menyisir rambutnya Niko langsung mengambil bantal dan selimut yang ada di atas tempat tidur. Bantal dan selimut itu lalu diletakkan di atas sofa yang ada di kamarnya tanpa berbicara sedikit pun pada istrinya.


Setelah itu Niko langsung rebahan di sofa itu sambil memainkan ponselnya. Ririn yang melihat kelakuan Niko merasa kesal sendiri. Ririn merasa tidak diperhatikan oleh Niko, padahal mereka sudah menikah.


Akhirnya Ririn memberanikan diri untuk bertanya. “Mas Niko kenapa tidak tidur di sini aja,” ucap Ririn yang sudah berada di atas tempat tidur.


“Aku tidur di sini aja Rin.”


Akhirnya Ririn diam saja. Dengan perasaan kecewa dia kemudian berbaring di tempat tidurnya. Perasaanya sangat sedih dan sakit melihat kelakuan Niko yang tidak memperdulikannya. Padahal mereka sudah menikah tapi Niko sepertinya tidak menganggap Ririn istrinya.


‘Kenapa mas Niko tidak mau tidur dengan aku, padahal kami sudah resmi menjadi suami istri,’ batin Ririn sedih.


Niko kemudian bangkit dari tidurnya dan memandang ke arah istrinya.


“Maafkan aku Ririn. Beri kesempatan bagiku untuk menerima kamu sebagai istriku. Saat ini aku belum bisa menerima kamu sebagai istriku karena selama ini aku menganggap kamu sebagai adik,” ucap Niko.


Akhirnya Ririn pun terdiam dan perasannya sangat sedih dengan pengakuan Niko barusan. Ririn tidak pernah membayangkan kalau Niko belum bisa menerimanya sebagai istri.


‘Pantas saja mas Niko sepertinya sangat berat saat tante Tanti memintanya untuk menjadikan aku sebagai istrinya. Aku pikir karena mas Niko sayang sama aku maka dia dapat memperlakukan aku sebagai istrinya, ternyata dugaanku selama ini salah.’


Walaupun Ririn merasa kecewa tapi dia berusaha untuk tetap kuat. Dia yakin kalau suatu saat Niko akan menerimanya sebagai istrinya. Semua ini memerlukan proses yang tidak singkat. Yang penting Ririn harus sabar dan sembari berdo’a semoga Niko akan menjadi imam yang baik baginya.


Saat mendengar permintaan tante Tanti untuk menjodohkan Niko dengan Ririn, Ririn awalnya hanya tertawa saja mendengarnya. Dia merasa tidak yakin bisa menikah dengan Niko. Tapi dengan kesungguhannya apalagi Ririn sudah pernah frustasi karena tidak jadi menikah akhirnya dia berusaha untuk mencintai Niko sama seperti saat dia mencintai kekasihnya dulu.


Akhirnya Ririn sudah bisa mencintai Niko tapi sayangnya sampai saat ini Niko masih menganggapnya sebagai adik.

__ADS_1


‘Aku harus sabar menerima semua ini. Tapi aku yakin kalau suatu saat mas Niko akan bisa mencintai aku seperti mas Niko mencintai mbak Widya.’


__ADS_2