
"Uncle, daddy menelpon," ucap Rayden pada Daniel, memecahkan kebingungan Karin yang masih berdiri disamping ranjang mereka.
"Jawablah sayang," balas Daniel.
Seperti tidak ingin menganggu Uncle dan mommy Uncle nya, Rayden turun dari atas ranjang. Reflek Karin pun membantu, Rayden lalu menjauh dari mereka berdua dan menjawab panggilan sang daddy.
Kepergian Rayden itu, membuat Karin langsung menatap Daniel, meminta penjelasan.
"Sepertinya anda baik-baik saja, kenapa bisa ada di ruangan ini?" tanya Karin. Bicara cukup pelan karena tidak ingin menggangu Rayden juga yang sedang teleponan. Tapi Daniel masih mampu mendengar dengan jelas suara Karin.
"Bukannya aku sudah bilang, dadaku sakit," balas Daniel.
"Sakit karena apa? karena cinta Anda bertepuk sebelah tangan?jangan main-main disini, ini bukan tempat bermain."
"Siapa bilang ini tempat bermain, bagiku ini tempat untuk menyembuhkan luka ... Dan kamu adalah obatnya."
Karin terdiam, laki-laki ini benar-benar bermulut manis, pikirnya.
"Jaga bicara Anda."
"Sudah ku jaga baik-baik."
"Lalu kenapa bicara seperti itu? seperti seorang pecundang."
__ADS_1
"Lihatlah, kamu selalu melawan ucapan ku. Sejauh ini hanya denganmu aku banyak bicara dan itu sedikit membuatku lupa dengan Jia."
"Apa anda pikir saya tidak punya pekerjaan? apa Anda pikir pekerjaan saya ini main-main."
"Astaga Karin, kamu itu pemarah sekali."
Karin tidak lagi menjawab, hanya amarahnya yang semakin terpancing. Daniel ingin memanfaatkan dia untuk melupakan wanita yang dicintainya, jahat sekali.
"Jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi saya permisi," ucap Karin, ia bahkan langsung menundukkan kepalanya siap untuk pergi.
Tapi Daniel langsung menahan, Dia menarik karin dan menghampiri Rayden. Hanya di depan Rayden lah Karin bisa tenang.
"Sudah teleponnya?"
"Sudah Uncle."
"Jangan salah paham, jangan menyimpulkan apapun dari sudut pandang mu sendiri," ucap Daniel pada Karin.
"Mommy Karin marah?" tanya Rayden dan Karin langsung menggelengkan kepalanya kuat. Ah, dia lemah sekali di hadapan anak kecil.
"Aku memang belum bisa melupakan Jia, dan ini anaknya ku bawa-bawa untuk menemui kamu."
Rayden melirik Daniel, belum paham. Lalu Daniel mengelus kepalanya sayang.
__ADS_1
"Aku ingin menemui kamu karena aku punya tujuan yang jelas, dengarkan aku," ucap Daniel lagi. Kini dia menatap Karin lekat.
"Kita berdua adalah 2 orang dewasa, tau artinya hidup yang sesungguhnya. Ini bukan perkara tentang cinta lagi. Aku sudah lelah mencari pengganti Jia dan kamu sudah dipaksa-paksa untuk menikah oleh kedua orang tua mu, iya kan?"
"Jadi bagaimana jika kita menikah? kita coba untuk saling mencintai di hubungan yang paling serius ..."
"Tidak ada saling meninggalkan, hanya ada terus berusaha untuk bisa bersama selamanya."
Karin terperangah, ini adalah lamaran paling aneh yang pernah dia tahu.
Disaksikan Rayden yang juga menatap nya penuh harap.
Karin menelan ludahnya dengan kasar.
"Uncle Niel adalah orang yang sangat baik mommy Karin, jadi menikahlah dengan Uncle, nanti bisa saling mencintai seperti mommy Jia dan Daddy Alex," ucap Rayden.
"Begitu kan Uncle?" Rayden takut salah, jadi bertanya pada Daniel. Dan Daniel langsung memberinya 2 jempol.
Membuat Rayden langsung tersenyum bangga.
"Anda benar-benar memanfaatkan tuan muda Rayden dengan baik," ucap Karin akhirnya setelah dari tadi diam saja.
"Kenapa saya? Anda bisa menemukan wanita lain untuk diajak diskusi seperti ini," ucap Karin lagi.
__ADS_1
Dan pertanyaan itu langsung dijawab kompak oleh Rayden dan Daniel.
"Karena mommy Karin adalah yang paling cantik."