
Malam datang.
Malam ini Rayden tidur dengan Alex di kamar sang ayah. Ada Rayden bersama nya membuat Alex tetap makan banyak dan tidak minum Alkohol.
Ina pun tinggal disini, tidak sendiri dia bersama dua pelayan wanita yang lain, satu mengurus dapur dan satu mengurus apartemen.
Ada Rayden membuat Alex memberikan yang terbaik untuk anaknya itu. Tidak seperti selama ini yang hidupnya sendiri pun tidak dia pikirkan.
"Dad, telepon mommy yuk? Mommy Jia pasti belum tidur." ajak Rayden diantara pelukan mereka yang begitu hangat.
"Rayden mau telepon mommy?" tanya Alex pula dan Rayden mengangguk.
"Telepon biasa atau video call?" tawar Alex, sengaja memberi pilihan agar Rayden memilih video call.
Bukan hanya Jia yang memanfaatkan Rayden, namun Alex juga, agar dia bisa melihat wajah Jia sebelum tidurnya.
"Video Call saja, agar mommy tidak bisa bohong."
Mereka berdua terkekeh, lalu Alex mengambil ponsel Rayden sendiri diatas nakas dan menghubungi Mommy.
Tak lama kemudian panggilan itu diangkat dan Alex buru-buru menyerahkannya pada sang anak.
"Mommy sedang apa?" tanya Rayden, melihat Jia yang meletakkan ponselnya diatas meja rias sementara dia sibuk sendiri.
__ADS_1
"Mommy sedang berkemas sayang, besok malam kan mommy menginap di hotel."
"Oh gathering itu ya?"
"Iya."
"Apa Aku dan daddy boleh kesana dan melihat Mommy?"
"Boleh, banyak juga teman mommy yang membawa keluarganya."
"Ye! benarkah?"
"Iya, kenapa Rayden belum tidur?"
"Rayden ingin melihat Mommy dulu. Oh ya Mom, apa Uncle Niel juga datang?" tanya Rayden, sebuah pertanyaan yang membuat Alex disampingnya mendelik.
"Tentu saja, mommy dan Uncle Niel satu Tim."
"Ah! aku jadi tidak sabar ingin lihat, bisakah aku dan Uncle membuat taruhan?"
"Taruhan apa?"
"Kalau mommy dan Uncle menang aku akan mentraktir kalian ice cream, tapi kalau mommy dan Uncle kalah maka harus mentrakirku ice cream."
__ADS_1
"Tunggu dulu, siapa Uncle Niel?" tanya Alex yang tiba-tiba ikut bergabung, tiba-tiba muncul di layar ponsel Jia.
Membuat Jia langsung terkena serangan jantung, mendadak tersengat sangat terkejut.
Jia pikir Rayden tidur di kamarnya sendiri, sungguh tidak menyangka jika ada Alex juga. Dan mereka dengan santai nya membicarakan Daniel.
Ah! rasanya Jia ingin pingsan saat ini juga, namun kesadarannya dalam keadaan 100 persen.
"Siapa Uncle Niel?" tanya Alex sekali lagi, pada ibu dan anak ini.
Jia membeku, jadi Rayden yang menjawab.
"Teman kerja mommy Dad, dia bekerja di hotel juga."
"Pegawai laundry?"
"Bukan, Uncle Niel pemilik hotel itu, katanya sih, tapi aku juga tidak percaya," balas Rayden, membuat mulut Alex menganga sementara Jia menepuk keningnya pelan.
"Siapa Uncle Niel?" kini Alex khusus bertanya pada Jia, karena jawaban Rayden kurang memuaskan.
"Teman kerja ku di hotel," cicit Jia, dia dan Alex memang sudah berpisah. Tapi ditanya seperti ini, Jia sudah seperti habis ketahuan selingkuh, jantungnya bergemuruh hebat.
Dan Alex hendak kembali bersuara, mengatakan jika dia tidak suka melihat Jia dekat dengan pria manapun. Namun ucapannya tertahan, ketika tiba-tiba ingat status diantara mereka.
__ADS_1
Dia dan Jia sudah berpisah, maka Jia berhak menentukan untuk berteman dengan siapapun, termasuk seorang pria.
Dengan wajah yang jadi murung, Alex hanya menjawab O, dan mengembalikan ponsel itu pada sang anak.