
"Semuanya akan baik-baik saja Jia, tenanglah," ucap Alex, bahkan tanpa sadar dia mengecup puncak kepala Jia dengan sayang, ingin ibu dari anaknya ini tenang.
Sementara Jia yang mendapat pelukan hangat ini pun semakin menangis, entah kenapa, tapi Jia justru mencurahkan semua kegelisahan yang dia rasa.
"Tapi mama terluka Al, mama terluka karena aku."
"Berhenti menyalahkan diri sendiri Jia, ini bukan salahmu. Ini semua salah Amora."
Deg! Mendengar Alex menyebut nama Amora, tiba-tiba ada yang sesak di hati Jia.
Dia berusaha berhenti menangis dan coba melerai pelukan ini.
Dan Alex yang menyadari jika Jia menjauh setelah dia menyebut nama Amora pun dengan segera menahan, dekapan mereka memang terlepas, namun Alex memegang kedua lengan Jia.
"Maafkan aku tentang Amora, tapi percayalah, sekarang aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun, dia tidak akan pernah menjadi ibu sambung untuk Rayden," jelas Alex.
Dia menatap lekat kedua mata Jia, ingin Jia bisa merasakan kesungguhan ucapannya ini. Ingin Jia percaya bahwa yang dia ucapkan bukanlah dusta.
"Percayalah padaku, tidak akan ada Amora lagi diantara kita," jelas Alex lirih.
Dan Jia mencoba mempercayai itu.
Melihat Jia yang mulai tenang, Alex pun menurunkan tangannya. Kini dia menggenggam erat kedua tangan Jia.
Dan Jia membalas itu, mereka saling menggenggam erat menunggu pintu ruang operasi terbuka.
30 menit menunggu dan lampu tanda operasi selesai telah menyala.
__ADS_1
Alex dan Jia bangkit, menyambut sang ibu yang keluar dari ruang operasi itu.
Mereka segera menuju ruang perawatan.
Sofia masih belum sadar, masih dipengaruhi obat bius selama operasi berlangsung. Dia pun tidur dengan posisi tengkurap karena punggungnya yang terluka dan mendapatkan jahitan.
Jia duduk disamping mantan ibu mertuanya, sementara Alex masih menemui sang dokter dan membicarakan tentang kondisi sang ibu.
Semuanya baik-baik saja, hanya tinggal menunggu masa pemulihan.
Setelah menemui dokter, Alex pun kembali menghampiri Jia. Menarik wanitanya ini untuk bangkit dari sana.
"Cuci dulu tanganmu, masih ada bekas darah mama," ucap Alex, dia membawa Jia ke dalam kamar mandi dan mencucikan tangan itu di westafel yang tersedia disana.
"Aku bisa sendiri Al," ucap Jia.
Jia terdiam, dia hanya terpaku menatap Alex yang memperlakukannya seperti ini. Alex membasuh kedua tangannya, memberinya sabun dan mencucinya lagi. Lalu dikeringkan menggunakan handuk kecil yang tersedia disana.
"Lepas baju mu dan pakai jas ku, di baju mu juga ada bercak darah mama," ucap Alex lagi, setelahnya dia melepaskan jas itu dan memberikannya pada Jia.
Lalu keluar dari dalam kamar mandi dan menutup pintu.
Sementara Jia langsung memegang dadanya yang berdebar hebat.
Ini semua terasa seperti mimpi.
"Bangun Jia, bangun," gumamnya pelan, dia bahkan menggelengkan kepalanya kuat. Menolak pikiran yang mengatakan jika ucapan Daniel kemarin adalah benar.
__ADS_1
Bahwa Alex juga mencintai dia.
Jia segera melepaskan bajunya, hanya menyisahkan tank top dan segera memakai jas milik Alex. Dia menggerai rambut yang sedari tadi dia ikat, juga mengancingkan jas ini hingga tubuhnya tertutup rapat.
Jas ini memang kebesaran, tapi lebih bersih daripada bajunya tadi.
Keluar dari dalam kamar mandi dan langsung disambut oleh tatapan Alex.
Jia hanya mampu menunduk dan berjalan mendekat, hingga sama-sama duduk di kursi yang ada si samping ranjang Sofia.
"Pulang lah ke apartemen ku, Sean akan mengantar mu." ucap Alex, setelah Jia duduk di sampingnya.
Saat ini waktu sudah menjelang malam.
"Aku ingin menunggu sampai mama sadar."
"Masih lama, paling cepat 3 jam. kalau mama tidur bisa sampai besok pagi," jelas Alex.
"Pulanglah, Rayden pasti menunggu ku pulang. Katakan padanya bahwa aku disini."
Jia masih terdiam, dia sangat menghawatirkan Sofia.
"Percayalah padaku, mama akan baik-baik saja," ucap Alex lagi, dia kembali menggenggam erat tangan Jia, bahkan menautkan jari-jari mereka.
Membuat Jia tidak bisa menolak untuk mengangguk.
Kepala Jia otomatis bergerak mengangguk kecil.
__ADS_1
Dan Alex pun tersenyum kecil melihat itu.