
Bapak kepala sekolah kemudian memulai percakapannya.
“Ibu udah tau kan maksud kami mengundang Ibu kemari?” Bapak kepala sekolah bertanya pada Widya.
Widya tidak sanggup menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya.
“Jadi Ibu sudah dapat sekolah yang akan dituju untuk anak Ibu?” tanya maminya Bastian.
“Maaf Bu sebelumnya. Saya mohon dengan sangat, tolonglah Bu berikan kesempatan pada anak saya sekali lagi agar anak saya tidak dikeluarkan dari sekolah ini karena saya orang susah Bu dan nggak ada biaya untuk memindahkan Noval ke sekolah lain,’ ucap Widya memohon.
“Kalau sudah tau orang susah kenapa banyak tingkah. Seharusnya sadar diri donk,” ucap maminya Bastian ketus.
Bapak kelapa sekolah hanya diam saja walaupun dia merasa kasihan terhadap Widya yang mendapat hinaan dari maminya Bastian tapi dia tidak mampu berbuat apa-apa. Sedangkan perasaan Widya sangat sakit dan hancur mendengar hinaan dari maminya Bastian.
‘Widya, kamu harus kuat. Kamu tidak boleh melawannya,’ batin Widya dalam hati.
“Saya mohon sekali lagi pada Bapak kepala sekolah dan Ibu. Tolonglah saya, tolong jangan keluarkan Noval dari sekolah ini. Apa pun akan saya lakukan yang penting Noval tidak dikeluarkan dari pesantren ini.”
Shinta yang mendengar ucapan Widya langsung tersenyum sinis.
“Hebat juga Ibu ini ya. Demi anak, apa pun bisa dilakukan. Kalau seperti itu akan saya kasih tawaran pada Ibu,” ucap Shinta dengan nada sombongnya.
Widya yang mengharapkan agar Noval tidak dipindahkan dari sekolah ini tentu mengharapkan rasa kasihan dari maminya Bastian sehingga Widya langsung memandang ke arah maminya Bastian.
“Tawaran apa Bu?” tanya Widya dengan nada polosnya.
“Ibu tadi mengatakan bahwa apa pun bisa Ibu lakukan yang penting anak Ibu tidak dipindahkan dari sekolah ini.”
“Iya Bu, apa pun akan saya lakukan demi anak saya,” ulang Widya lagi.
“Ya udah, sekarang tawaran saya tidak susah-susah kok Bu. Kalau Ibu bisa sembah saya, maka anak Ibu tidak akan dikeluarkan dari sekolah ini.”
Mendengar ucapan Shinta, bapak kepala sekolah langsung terdiam heran sedangkan Widya tidak memikirkan lagi harga dirinya. Widya tidak merasa malu kalau harus menyembah kaki maminya Bastian, sehingga Widya langsung bergerak dari duduknya. Tapi saat yang bersamaan Andre masuk ke ruangan itu.
“Apa-apaan kamu Shinta!” bentak Andre pada istrinya.
“Kamu jangan ikut campur Mas,” ucap Shinta pada suaminya.
“Sekarang kamu sembah saya!” ucap Shinta pada Widya.
Widya langsung turun ke lantai tapi langsung dicegah oleh Andre.
“Jangan, jangan lakukan.”
Widya tidak mendengarkan ucapan Andre. Yang ada dalam pikirannya Noval tidak dikeluarkan dari sekolah ini.
__ADS_1
“Jangan Widya, jangan lakukan,” ucap Andre sambil menarik tangan Widya.
Melihat suaminya menyebut nama Widya, Shinta langsung terkejut.
“Mas, siapa wanita ini!” tanya Shinta cemburu.
Andre tidak menjawab pertanyaan istrinya. Begitu Widya berdiri, dia langsung melepaskan tangannya dari genggaman Andre.
Shinta menatapnya tajam dan dia seperti orang kebingungan karena tidak menyangka ternyata suaminya mengenal ibunya Noval. Andre yang tidak mau ribut di depan bapak kepala sekolah dan Widya langsung menarik tangan istrinya dan membawanya keluar dari ruang kepala sekolah
“Mas lepaskan..... Lepaskan!” ucap Shinta begitu keluar dari ruang kepala sekolah.
Andre langsung melepaskan tangan istrinya.
“Kenapa kamu lakukan hal ini Sin?” tanya Andre marah.
“Memangnya kenapa Mas. Bukankah aku berhak atas keadilan anak kita?”
“Keadilan apa maksud kamu?” tanya Andre emosi.
“Ya keadilan buat anak kita. Anak kita sudah dianiaya oleh temannya, eh kamu malah membiarkannya. Udah syukur aku tidak menuntutnya ke penjara.”
“Kamu harus mempertimbangkan bahwa anak anak-anak itu masih di bawah umur,” ucap Andre.
“Percuma ngomong sama kamu,” ucap Andre meninggalkan Shinta.
“Mas, tunggu!” Shinta berusaha mengejar suaminya tapi Andre tetap berjalan tanpa menghiraukan panggilan istrinya.
Shinta tidak tinggal diam, dia langsung berjalan mengejar suaminya. Begitu sudah dekat tangan suaminya langsung ditariknya sehingga Andre menoleh ke belakang.
“Apa-apaan kamu Sin, malu dilihat orang. Ini sekolah bukan rumah kita,” jelas Andre marah.
“Biar aja semua orang melihat kita, aku nggak peduli. Kamu belum menjawab pertanyaan aku.”
Akhirnya Andre pun terdiam dan menghentikan langkahnya.
“Sekarang kamu jelaskan, siapa wanita itu dan kenapa kamu mengenalnya?” tanya Shinta cemburu.
“Kamu mau tau jawabannya kan?” tantang Andre.
Shinta tidak menjawab dia hanya diam saja memperhatikan mimik wajah suaminya.
“Widya itu adalah teman kuliah aku dulu,” jelas Andre.
“Jadi wanita itu dulu pernah kuliah?” tanya Shinta tidak percaya.
__ADS_1
“Memangnya kenapa? Kamu heran mendengar dia pernah kuliah?” tanya Andre.
Sinta langsung tersenyum sinis.
“Percuma donk dia kuliah, kalau untuk menyekolahkan anaknya aja susah,” ucap Shinta seperti mengejek.
“Udah puas sekarang kamu kan?” ucap Andre meninggalkan istrinya.
Melihat Andre yang tidak terpancing emosi Shinta semakin geram. Dia langsung berjalan mengejar suaminya lagi.
“Mas tunggu!”
Andre langsung menoleh ke arah istrinya. “Ada apa lagi?” tanya Andre datar.
“Mas belum cerita semuanya.”
“Cerita apa lagi?” tanya Andre kesal.
“Nggak mungkin kalau wanita itu teman kuliah kamu Mas.”
“Maksud kamu apa?” tanya Andre heran.
“Pasti wanita itu tidak sekedar teman kuliah aja. Pasti kamu punya hubungan spesial dengan wanita itu.”
“Terserah apa kata kamu, aku nggak mau pusing dengan masalah ini. Udah dulu ya aku mau pergi ke kantor sekarang,” ucap Andre buru-buru menuju ke mobilnya.
Sampai di mobil dia langsung menyalakan mesinnya dan melajukan mobilnya. Begitu keluar dari area pesantren Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah sambil melirik ke kanan dan ke kiri mencari sosok Widya, barangkali Widya masih berada di sekitar sini.
Saat di tengah perjalanan terlihat di depannya ada sebuah becak dan Andre melajukan mobilnya sangat pelan sambil melihat ke arah becak itu. Dugaan Andre ternyata benar bahwa yang di dalam becak adalah Widya. Kemudian Andre mengikuti becak itu sampai ke terminal.
Begitu Widya turun dari becak dan hendak naik ke bus, Andre dengan cepat menarik tangan Widya membuat Widya pun terkejut dan menoleh ke arah Andre.
“Andre, apa yang kamu lakukan?” tanya Widya terkejut karena tiba-tiba tangannya digenggam Andre.
“Ayo, kamu harus naik mobil dengan aku,” ucap Andre.
“Lepaskan Ndre,” bisik Widya pelan.
“Aku akan melepaskanmu kalau kamu mau ikut dengan aku,” ucap Andre di telinga Widya.
“Kamu sudah gila ya Ndre. Aku malu dilihat orang.”
“Makanya ayo ikut dengan aku.” Andre langsung menarik Widya ke mobilnya.
Akhirnya Widya pun mengikut saja saat Andre membukakan pintu dan mempersilakan Widya untuk naik ke mobilnya.
__ADS_1