
"Selama ini Rayden tidur bersamaku, bukan di kamarnya sendiri. Jadi nanti tidurlah juga di kamarku," ucap Alex, membuat Jia mengulum senyum. Dia bahkan sedikit menunduk, takut Alex melihat bibirnya yang melengkung kecil.
Jia sungguh tidak tahu hubungan apa yang sedang dia jalani bersama Alex saat ini, mereka sudah berpisah namun terasa semakin dekat.
Jia jadi ingin egois, ingin kembali bersama seperti dulu. Tapi entahlah, jika bukan Alex yang memintanya langsung, dia tidak akan berani lancang untuk bersikap lebih, mengungkapkan tentang apa yang dia rasa dan dia inginkan.
"Pergilah," ucap Alex lagi, Sean sudah menunggu Jia di depan pintu ruang rawat Sofia.
Jia mengangguk dan mereka saling tatap sejenak, seolah bingung bagaimana caranya berpisah.
Alex sangat ingin memeluk Jia, mengecup bibirnya. Namun semua terasa begitu sulit dengan status ini.
Apalagi mengetahui fakta bahwa bersamanya Jia hanya akan terluka, sementara saat tidak bersamanya Jia merasa bahagia. Makin membuatnya tidak punya nyali untuk meminta Jia kembali hidup bersama dia.
"Hubungi aku jika sudah sampai di apartemen," ucap Alex lagi dan Jia mengangguk lagi.
Pintu ruangan itu sudah terbuka dan Sean menunggu dengan setia, mengamati keduanya dan menduga-duga, mengira-ngira sebenarnya ada apa diantara kedua orang itu.
__ADS_1
Kenapa setelah berpisah Sean melihat lebih banyak cinta diantara keduanya. Namun tidak terungkap karena banyaknya hal.
"Mari Nyonya," ucap Sean dan suaranya yang tiba-tiba memutuskan tatapan Alex dan Jia.
Dengan kikuk Jia berlalu, pergi dari sana dan meninggalkan Alex.
Ada senyuman di bibir Alex, lalu disusul dengan sebuah helaan nafas panjang.
Baru dia ingin memulai semuanya dan masalah kembali muncul, masalah yang kembali memberatkan Jia.
"Saat ini Nona Amora sudah kami tahan Tuan," ucap salah satu polisi itu.
"Terima kasih Pak, saya mohon jangan biarkan dia lepas begitu saja, saya yakin dia akan kembali melukai orang lain, karena yang dia tuju sebenarnya bukanlah ibu saya, melainkan mantan istri saya, bisa jadi dia juga akan mengincar anak saya," jelas Alex dengan dada yang bergemuruh menahan amarah, juga sesak yang semakin kentara karena kembali terbayang wajah Jia dan Rayden yang akan kembali terluka.
Karena perbuatannya di masa lalu, kini dia membahayakan orang-orang yang sangat dia sayangi.
Setelah mengumpulkan bukti-bukti dan beberapa keterangan, penyidik itu pun pamit untuk pergi.
__ADS_1
Alex kembali duduk di sebelah ranjang Sofia dan memperhatikan ibunya yang terbaring lemah, bahkan dia tertidur dengan posisi tengkurap.
Sumpah, Alex sangat iba.
Tidak peduli betapa dia sangat marah pada Sofia, namun tidak membuat kenyataan berubah bahwa wanita paruh baya ini adalah ibunya.
Wanita yang sudah melahirkan dan merawat dia hingga seperti saat ini.
Alex bahkan kembali terbayang pesan mendiang sang ayah yang memintanya untuk terus menjaga Sofia, menemani Sofia di masa tua setelah Andreas pergi.
Alex kembali membuang nafasnya kasar ...
Diantara Sofia dan Jia bukanlah pilihan, dia tidak akan bisa memilih salah satunya. Karena itulah Alex memilih untuk melepas keduanya.
"Ma," panggilnya lirih.
Namun panggilan Alex tidak mendapatkan sahutan apapun, karena Sofia memang belum tersadar.
__ADS_1