After Divorce

After Divorce
AD BAB 115 - Saling Mengamati


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi ini Alex dan Jia memutuskan untuk tidak pergi bekerja. Pagi ini juga mereka akan mengunjungi Abbu dan mengatakan semua tentang kebenaran.


Alex menjelaskan pelan-pelan, bagaimana dia bisa mengenal Amora dan keluarga Lance, dan tentang alasan kini Amora berada di penjara.


Amira menangis tanpa suara, air matanya terus mengalir tanpa jeda. Dia bahkan saling meremat kedua tangannya mencoba tenang meski mendengar kabar yang begitu mengejutkan.


Sementara Abbu mencoba tegar, dia tidak menangis, namun raut wajahnya berubah pias.


"Jika bapak ibu ingin menemui Amora, hari ini juga kami akan mengantar," jelas Alex. Jia sudah ikut menangis, tidak sanggup melihat tangisan ibu Amira dan keterkejutan Abbu.


Dan saat itu juga Abbu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Tanpa mengulur waktu lagi, Alex segera membawa mereka semua mengunjungi Amora.


Saat itu Alex dan Jia masuk lebih dulu, sementara Amira masih ragu, dia masih ingat dengan jelas bagaimana Anaknya dulu tidak ingin menemui mereka. Amora sangat malu memiliki kedua orang dari kalangan bawah.

__ADS_1


Dan Amora yang melihat kedatangan Alex dan Jia terpaku. Tatapannya langsung terkunci pada perut Jia yang nampak membuncit. Tanpa diminta air mata Amora jatuh dengan sendirinya. Namun dengan segera dia hapus.


Dan sama, sama seperti Amora yang langsung mengamati Jia, Jia pun melakukan hal yang sama. Dia cukup terkejut melihat perubahan pada Amora. Wanita yang dulu dia kenal begitu cantik kini nampak berbeda. Tubuhnya kurus tidak terurus. Wajahnya pun lebih tirus dan terlihat kusam, putih pucat.


Jia tersentak, seketika kecemasannya akan Abbu dan Amira makin menjadi. Bagaimana perasaan mereka ketika melihat anaknya dalam kondisi seperti ini.


Dada Jia sesak, membayangkannya saja membuat dia iba.


Sementara Alex yang tidak melihat Abbu dan Amira masuk lantas kembali berbalik, dan memanggil kedua orang tua itu.


Dengan ragu Abbu dan Amira masuk, tatapan mereka langsung terkunci pada anak mereka disebelah sana.


"Untuk apa kalian kemari?" tanya Amora pada kedua orang tuanya, sungguh dia tidak ingin bertemu dengan Abbu dan Amira. Rasanya masih belum mau menerima jika dia adalah anak dari kedua orang itu.


"Untuk apa kalian membawa mereka kesini?!" Amora membentak Alex dan Jia bersamaan. Amora mulai berontak, sangat tidak nyaman dengan keadaan ini.


"Disha," lirih Amira.

__ADS_1


"Namaku bukan Disha! namaku adalah AMORA LANCE!!" pekik Amora dengan mata yang mulai merah padam. Antara amarah dan tangis yang ingin keluar secara bersamaan.


Disha adalah nama yang diberikan oleh Abbu dan Amira, dan dia sangat membenci nama itu.


Jia yang melihat Amira dibentak pun akhirnya menangis juga, dia memeluk Amira erat.


"Pergi kalian semua! Pergi!" usir Amora, setelah mengatakan itu Amora pergi lebih dulu meninggalkan ruang kunjungan ini.


Dan Abbu yang sedari tadi tidak mengatakan sepatah katapun akhirnya hanya mampu menitikan air mata. Dia menghapusnya dengan segera dan memeluk sang istri.


"Dia anak kita Bu, dia tetap anak kita," ucap Abbu, Sementara Amira hanya mampu mengangguk di dalam dekapan sang suami.


Dan Jia semakin memeluk Alex erat.


Semenjak hari itu tidak peduli Amora selalu menolak mereka, namun Abbu dan Amira tetap setia rutin berkunjung.


Berulang kali di tolak, berulang kali juga mereka terus berusaha.

__ADS_1


Bagaimanapun masa lalu Abbu dan Amira juga merasa bersalah akan hal itu. Karena itulah kini mereka ingin memperbaiki semuanya.


__ADS_2