
"Aa! lihatlah mereka berciuman!" kaget salah satu penjaga kasir, wanita itu bahkan langsung menutup matanya, namun tak lama langsung membuka jari-jari untuk mengintip.
"Oh my God! kamu benar."
"Kata mu mereka sudah bercerai."
"Memang sudah bercerai, aku juga kaget saat melihat mereka bersama. Sekarang Nyonya Jia terlihat sangat cantik."
"Apa yang harus kita lakukan, haruskah kita mengetuk ruang ganti itu?"
"Jangan, mereka itu keluarga Carter, Nyonya Sofia juga pelanggan VIP di toko ini. Jangan lupa Nyonya Sofia itu sangat galak, kita bisa langsung dipecat jika membuat masalah dengan mereka."
Kedua wanita itu pun kompak mengangguk, sesekali mengintip adegan romantis antara mantan suami dan istri itu.
Sementara di dalam sana Alex dan Jia masih asik sendiri, seolah dunia ini hanya milik mereka berdua.
Puas saling mengungkapkan rasa melalui ciuman itu, Alex dan Jia pun kembali berkeliling. Membeli beberapa baju baru untuk Jia, Alex dan Rayden, sampai akhirnya 3 kotak paper bag mereka dapatkan.
Membayar ke kasir dengan kedua tangan yang saling menggenggam erat.
Setelahnya Alex mengajak Jia untuk istirahat sebentar di salah satu cafe, memesan 2 minuman dingin dan cemilan ringan. Duduk bersama di dekat dinding kaca cafe itu.
Jia mengulum senyumnya, benar-benar merasa seperti sedang kencan.
"Jangan lupa katakan pada Rayden tentang rencana piknik kita," ucap Alex. Dia tadi sudah meminta Jia untuk mencari baju keluarga, baju senada antara dia, Jia dan Rayden untuk bisa digunakan saat piknik nanti.
"Iya Al," jawab Jia patuh, masih mengulum senyum. Masih tidak percaya Alex membeli baju couple itu.
Mereka terus saling berbincang disela-sela menikmati minuman dingin. Sesekali pun Jia tertawa saat Alex menceritakan hal lucu. Berulang kali Jia mengatakan jika dia tidak mengenal Alex yang ini.
Dan karena gemas, Alex jadi sering mengusap kepalanya kasar.
Tanpa disadari oleh mereka berdua jika disalah satu meja yang lain ada seorang wanita cantik yang memperhatikan keduanya.
Wanita itu adalah Laura, wanita cantik suruhan Daniel untuk mulai menggoda Alex saat ini juga. Apalagi saat tahu Alex membawa Jia untuk kencan, membuat Daniel ingin segera menjalankan rencananya.
"Jadi wanita itu saingan ku? ih kenapa harus wwnita seperti itu?" gumam Laura dengan nada kesal.
Laura paling tak suka wanita seperti Jia, wanita yang kecantikannya terpancar dari dalam. Tiap kali wanita seperti itu tersenyum, wajahnya akan nampak berseri dan semakin cantik.
__ADS_1
Laura lebih senang jika saingannya adalah wanita dengan make up tebal.
Laura mengerucutkan bibirnya, malah merasa tidak percaya diri sendiri. Padahal dia juga cantik, tubuhnya bahkan lebih tinggi dari pada Jia dengan kulitnya yang putih bersih. Baju terbuka yang dia kenakan pun makin membuat mata laki-laki tidak bisa berpaling.
Sesuai rencana, seorang pelayan akan menumpahkan minuman di baju Jia.
Laura tersenyum ketika rencana itu berjalan dengan baik.
Kemudian Alex dan Jia akan menuju toilet. Laura langsung mengikuti, saat Jia masuk ke dalam sana dia akan mendatangi Alex.
Menabrakkan tubuhnya dengan sengaja.
"Ah Tuan, maaf kan saya," ucap Laura dengan suaranya yang sensual. Dia sengaja menempelkan bedak padat yang dia bawa di jas milik Alex. Bekas bedak itu nampak jelas disana.
"Maafkan saya Tuan, jas Anda jadi kotor," ucap Laura lagi dengan raut wajahnya yang memelas.
"Berikan jas ini, biar saja bersihkan. Atau simpan nomor ponsel ku, aku akan mengganti nya dengan jas yang baru," mohon Laura, dia bahkan mulai berani menatap kedua mata Alex.
"Tidak perlu Nona, ini bukan masalah bagiku," jawab Alex akhirnya, setelah dari tadi membiarkan wanita asing ini terus bicara.
"Namaku Laura Brown, berikan kartu nama Anda, saya akan mempertanggungjawabkan ini semua."
Dan Alex yang tidak biasa mendapat sentuhan wanita asing pun langsung menepis tangan itu.
Dia bahkan langsung berbalik dan menatap tajam Laura. Sikap lancang itu benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman.
Sama seperti Rayden yang tidak suka disentuh kepalanya oleh orang asing, Alex pun membenci orang asing yang menyentuh tubuhnya.
Sekarang tidak ada lagi raut wajah ramah yang Alex tunjukkan, kini Laura hanya bisa melihat wajah itu berubah dingin dan menakutkan.
"Jaga sikapmu," ucap Alex dingin.
Seketika Laura menelan ludahnya dengan kasar. Dia hanya menyentuh lengan Alex, namun seolah dia sudah melakukan kesalahan besar.
"Ma-maaf Tuan," jawab Laura mulai takut, sangat tahu jika di depannya ini adalah Alex Carter. Pria yang cukup berpengaruh di kota ini.
Tanpa kata lagi Alex segera berlalu dari sana, meninggalkan Laura yang menghembuskan nafasnya lega.
"Ya ampun dia mengerikan sekali. Bagaimana pria seperti itu bisa bersikap manis dengan mantan istrinya." gerutu Laura, dia memegangi dadanya dan merasakan jantung yang bergemuruh takut.
__ADS_1
Asisten Daniel yang sedari tadi merekam pertemuan Laura dan Alex pun segera mengirimkan rekaman itu pada Daniel.
Sementara Laura langsung buru-buru pergi sebelum Alex dan Jia kembali.
Selesai mengganti bajunya, Jia keluar dan tidak mendapati Akex disana. Jia lantas berniat menghubungi lewat panggilan telepon sebelum kembali ke meja, namun baru mengambil ponselnya di dalam tas, Jia melihat Alex keluar dari toilet pria.
"Ku kira kamu kemana? ini kenapa jas nya dilepas?" tanya Jia, dia bahkan langsung mengambil Jas ditangan Alex dan membawanya. Naluri istri Jia masih saja ada, ingin mengurusi semua kebutuhan Alex.
"Basah, ayo kembali ke meja," ajak Alex pula.
Tidak berselang lama setelah itu mereka memutuskan untuk pulang. Sampai di halaman rumah Sofia, Alex ikut turun namun dia enggan untuk masuk.
Jia jadi urung langsung masuk, jadi menatap kedua mata Alex dengan tatapan yang dalam.
"Kata mu ingin melupakan masa lalu, kenapa masih belum masih memaafkan mama?" tanya Jia.
Mereka berdua berdiri di samping mobil hitam itu.
"Aku sudah memaafkan mama, hanya butuh waktu untuk bisa seperti dulu."
Jia terdiam, dia membuang nafasnya pelan.
"Jangan lama-lama marahnya, kasihan mama. Kamu tidak kasihan melihat mama sudah terluka demi menyelamatkan aku?" tanya Jia lagi.
Meskipun selama ini Sofia bersikap kasar, namun tidak sekalipun dia main tangan. Lalu kini Sofia mengorbankan tubuhnya dan mendapatkan luka demi Jia. Meski selalu menggunakan Rayden sebagai alasan, namun tetap saja Jia merasakan ketulusan. Bahwa Sofia melakukan itu semua memang demi melindungi dia.
Dan mendengar ucapan Jia itu, kini Alex yang membuang nafasnya pelan.
"Kalau begitu ajaklah mama untuk ikut piknik dengan kita minggu besok."
Jia tersenyum.
"Mana bisa, mama kan masih sakit," balas Jia kemudian, lalu terkekeh.
Dan Alex yang gemas melihat tawa mantan istrinya itu pun lagi-lagi mengacak rambut di puncak kepala Jia.
Membuat keduanya tertawa bersamaan.
"Aku pulang," pamit Alex.
__ADS_1
Dan pelukan erat serta kecupan bibir sebagai tanda perpisahan mereka.