
"Kenapa? kok wajahnya jadi kaku gitu? Daddy tidak marah kan aku berteman dengan Daniel?" tanya Jia. Dia menatap Alex penuh harap, berharap suaminya akan menjawab Tidak. Pasalnya dia dan Daniel memang hanya berteman, tidak lebih.
Tapi Alex tidak langsung menjawab, dia membuang nafasnya kasar dan Jia mampu mendengarnya dengan jelas.
"Aku tidak suka melihatmu dekat dengan Daniel, bisakah kamu menjauhi dia?" jawab Alex dengan sebuah pertanyaan pula.
Dan satu pertanyaan itu cukup membuat Jia tercengang.
"Kenapa?"
"Kenapa? Karena dia mencintaimu Jia, apa kamu tidak tahu?"
Jia tahu itu, namun selama ini Jia selalu mengingkarinya. Selama ini Jia selalu menganggap hal itu hanyalah sebuah candaan. Lagipula mana mungkin Daniel bersungguh-sungguh menyukai nya, pikir Jia.
Dan mendengar Alex kembali memanggilnya dengan sebutan nama dan bukan mommy, Jia cukup tahu jika Alex sedang marah.
"Kamu tidak percaya padaku Dad?"
"Aku percaya padamu, tapi aku tidak percaya dengan Daniel. Dia pasti akan selalu mencari cara untuk memisahkan kita, dia pasti akan selalu mengatakan tentang sisi buruk ku padamu."
__ADS_1
Alex lantas pergi menuju lemari pakaian. Tahu perdebatan ini akan membuat hubungan mereka merenggang Alex lebih memilih menghindar.
Pertengkaran pertama mereka cukup membuat luka, dada keduanya kembali terasa sesak.
Alex mengambil bajunya asal dan memakai dengan kasar, padahal Jia sudah menyiapkan baju suaminya itu diatas ranjang.
Dan Jia yang melihat Alex marah seperti itu pun merasakan sesak di hatinya. Dia sangat percaya pada Alex, tapi Alex padanya malah seperti ini.
"Dad, apa rekan kerja mu semuanya pria?"
"Masalah lain, Daniel itu mencintai kamu."
"Tapi aku hanya mencintai Daddy."
"Tidak akan seperti itu Dad, dia bahkan tahu kita sudah menikah. Dia juga mendoakan yang terbaik untuk kita."
Alex kembali berbalik dan kembali menghampiri istrinya yang masih duduk dipinggir ranjang. Dia pun sudah memakai baju kerjanya dengan sempurna.
"Jika aku melarang apa mommy akan tetap berteman dengan Daniel?"
__ADS_1
Jia terdiam.
Sudut hatinya kembali teremat dengan paksa. Nyatanya cinta saja tidak cukup untuk hubungan mereka. Nyatanya cinta yang terlalu besar juga menjadi masalah.
Cinta Alex yang kini jadi mengekang Jia.
"Aku tidak bisa melarang mommy, tapi mommy harus tahu, aku tidak menyukai pertemanan kalian."
"Aku pergi," pamit Alex. Dia mencium kening Jia dan kemudian berlalu dari sana. Keluar lebih dulu dari dalam kamar.
Meninggalkan Jia yang terpaku di posisi yang sama. Pagi ini Alex ada meeting dan dia harus datang lebih awal. Semalam mereka memang sudah sepakat untuk pergi sendiri-sendiri.
Tapi entah kenapa kini perpisahan ini terasa lebih menyakitkan.
Daniel bagi Jia adalah seorang teman dan tidak lebih. Sama seperti Lisa, kehadiran Daniel cukup berarti di masa hidupnya yang sedang terpuruk.
Setelah menata hatinya kembali, Jia pun kembali bersiap dan juga pergi dari sana.
Hari ini dia akan sibuk untuk menyewa gedung dan menyiapkan kantor barunya.
__ADS_1
Untuk memudahkan aksesnya pergi-pergi, Jia kembali meminta bantuan Abbu untuk menjadi supirnya hari ini.
Dan setelah pamit pada Sofia, Jia pun memulai harinya.