After Divorce

After Divorce
AD BAB 66 - Bandingkan Saja


__ADS_3

Jam 2 dini hari, Sofia mengerjapkan matanya, posisi tidur seperti ini sungguh tidak membuatnya nyaman. Dia ingin bergerak namun tiba-tiba merasakan nyeri di punggungnya.


Buat Sofia meringis dan mengurungkan niat. Akhirnya dia hanya diam, melihat sang anak yang tertidur di sampingnya.


Alex duduk, tidur dengan menyandarkan kepalanya di pinggiran ranjang.


Melihat itu tiba-tiba Sofia merasakan sesak di dada, kedua matanya pun mulai terasa panas, seolah cairan bening itu sudah menumpuk dan siap tumpah.


Satu bulan lebih dia tidak menatap Alex sedekat ini. Satu bulan lebih waktu hanya dia lalui seorang diri, dan saat dia terkulai lemas seperti ini, ternyata Alex masih sudi datang kemari.


"Al," panggil Sofia lirih, susah payah dia menggerakkan satu tangannya dan menyentuh pucuk kepala sang anak.


Membuat Alex langsung tersadar dan membuka mata.


"Ma!" panggil Alex antusias, dia sungguh bahagia mamanya sudah sadar.


Sofia tersenyum kecil dan Alex segera bangkit hendak memanggil perawat, memeriksa apakah ibunya baik-baik saja. Namun pergerakan Alex terhenti, saat mendengar suara lirih ibunya memanggil nama dia.


"Al ..."


Alex terhenti dan dengan perlahan kembali duduk, menggenggam erat tangan ibunya dan menatap tatapan nanar Sofia.


"Kamu mau kemana? jangan tinggalkan mama," ucap Sofia lirih, air mata itu benar-benar jatuh hingga mengenai bantal nya.


"Kenapa Mama malah menangis? apa rasanya sakit sekali? aku akan memanggil perawat."

__ADS_1


Sofia menggelengkan kepalanya pelan. Bukan lukanya yang sakit, namun hatinya yang begitu pedih.


Dia tidak ingin Alex pergi, dia ingin anaknya kembali.


"Maafkan mama Al, mama tidak ingin kamu pergi." Sofia makin erat menggenggam tangan Alex, dan ketika mengetahui kemana arah pembicaraan sang ibu Alex hanya mampu menghembuskan nafasnya berat.


Rasanya hal serius seperti itu tidak perlu dibicarakan saat ini, karena kini yang terpenting adalah kesembuhan Sofia.


"Aku sudah memaafkan Mama, aku akan panggil perawat sebentar." Putus Alex.


setelahnya dia melepaskan genggaman sang ibu dan keluar memanggil perawat yang menjaga malam ini. Jika dokter hanya bisa dia temui besok pagi.


Perawat itu memeriksa kondisi Sofia, bahkan membantunya duduk dan merubah posisi tidur. Kini Sofia sudah bisa tidur miring, dibelakang punggungnya diberi guling agar ada penyangga dan dia tidak langsung terbaring. Saat ingin pindah posisi tidur pun Sofia harus dibantu duduk dulu.


"Kami permisi dulu Tuan," ucap salah satu perawat itu ketika selesai memeriksa Sofia. Alex mengangguk dan kedua perawat itu pun keluar.


"Al, duduklah. Mama ingin bicara," ucap Sofia, Alex yang Sedari tadi maaih berdiri pun langsung kembali duduk di kursi sisi ranjang.


"Tidak usah membicarakan banyak hal, lebih baik Mama istirahat, tidurlah lagi." Jelas Alex.


Sementara Sofia masih terus menatapnya lekat. Mengobati rindu yang selama ini sudah menumpuk. Dia bahkan lupa dengan Jia, lupa tantang Amora yang sangat dia benci.


Dan Alex menyadari itu, jika ibunya merindukan dia. Sofia bahkan terus menggenggam tangannya erat.


"Pulanglah Al, mama mohon," ucap Sofia, akhirnya dia buka suara.

__ADS_1


Namun jawaban Alex tidak seperti yang dia bayangkan. Dilihatnya sang anak yang menggeleng pelan.


"Ku harap mama tidak lupa apa yang telah mama lakukan pada rumah tangga ku dan Jia," balas Alex dengan suaranya yang pelan. Sungguh dia sebenarnya tidak ingin membicarakan ini. Dia hanya ingin menjaga dan merawat ibunya, lalu setelah Sofia sembuh dia akan kembali pergi.


"Mama melakukan itu karena pa_"


"Jangan membawa-bawa papa Ma, papa sudah tenang disana. Dan harusnya mama juga ingat, dampak dari kecelakaan itu bukan hanya papa yang depresi dan meninggal ..."


"Tapi juga merenggut kedua orang tua Jia sekaligus. Lalu Papa ingin mengurangi beban rasa bersalahnya dengan merawat Jia seperti anaknya sendiri, tapi mama malah membencinya begitu banyak ..."


Alex terus bicara, sementara Sofia terdiam dengan air mata yang terus jatuh.


"Harusnya mama mengerti papa, harusnya mama mendukung apapun keputusan papa, bukan seperti ini ..."


"Dengan menyiksa Jia, mama membuat papa tidak tenang di alam sana."


Tangis Sofia makin pecah, apalagi saat menyadari jika ucapan Alex adalah benar.


Namun untuk menerima Jia bukanlah perkara mudah baginya, karena kebencian itu sudah mendarah daging. Tiap kali dia melihat Jia, rasanya hanya ingin marah.


"Mama bandingkan saja, mau melihat Jia atau melihat Amora," ledek Alex yang tidak ingin suasana jadi sesedih ini, apalagi sofia butuh istirahat banyak dan pikiran yang tenang.


"Tentu saja Jia, mama tidak sudi melihat wanita itu lagi."


Alex hanya tersenyum kecil.

__ADS_1


Malam menjelang pagi itu mereka terus berbincang, hingga saat jam 4 pagi Sofia kembali terlelap.


__ADS_2