After Divorce

After Divorce
AD BAB 105 - Keras Kepala


__ADS_3

Hari ini Jia sangat sibuk.


Setelah menemui Louis dan resmi menyewa gedung itu selama 2 tahun, akhirnya kini Jia mendatangi gedungnya. Melihat sekeliling dan mulai merencanakan bentuk kantor.


Abbu masih setia menunggu di ruang tunggu, sewaktu-waktu Jia pergi dia akan selalu ada.


Rencananya hari ini Jia juga akan membeli beberapa perabot, meja kasir, sofa dan meja untuk ruang menyambut tamu, meja kerjanya sendiri dan lemari untuk meletakkan beberpa brosur dan cataloq tentang WO yang akan dia dirikan.


Hingga jam 2 siang Jia masih terus berkutat dengan kesibukannya sendiri, dia sampai melupakan tentang Alex dan masalah mereka tadi pagi.


Saat masih memperhatikan para pekerja yang menyusun perabot, Abbu mendatangi Jia. Memanggil Jia untuk diajaknya bicara.


"Ada apa pak Abbu? bapak ingin pulang?" tanya Jia bertubi, sedikit cemas pula takut ada apa-apa. Karena tidak biasanya Abbu lebih dulu meminta waktu seperti ini.


"Bukan Jia, ini sudah siang dan lewat waktu makan, kamu tidak lapar? bapak lapar sekali," ucap Abbu, sebenarnya dia masih mampu menahan. Namun ingat Jia juga belum makan membuatnya buka suara.


"Astaga, maafkan aku pak, ayo kita pesan makanan." ajak Jia.


Tidak berselang lama kemudian makanan pesanan Jia datang, 2 porsi makan siang untuknya dan Abbu. Mereka makan di teras gedung, ada meja dan kursi disana yang bisa mereka gunakan. Di dalam tempatnya masih sangat berantakan, disini rasanya lebih manusiawi untuk makan. Tempatnya cukup teduh, ada satu pohon rindang di halaman gedung ini, menaungi tempat parkir. Dan jalan raya ada diujung sana.


Mereka berdua makan dengan lahap.

__ADS_1


"Apa sedang ada masalah Ji? kamu sampai lupa jika perut mu lapar," ucap Abbu, dilihatnya Jia yang makan dengan begitu lahap, padahal beberapa saat lalu Jia terlihat seperti tidak memiliki selera untuk makan.


Ditanya seperti itu Jia tersenyum kecil, antara malu dan entahlah. Tadi memang tidak begitu berselera, namun kini tetap saja rasanya enak.


"Tidak Pak, aku hanya terlalu fokus pada kantor baru ini."


"Kamu sudah menghubungi suamimu?"


"Astaga belum, aku telepon dia sekarang."


Abbu geleng-geleng kepala, memperhatikan Jia yang kini dengan tergesa mengambil ponselnya di dalam tas.


Jia langsung menghubungi Alex. Panggilan itu terjawab, namun bukan Alex yang menjawabnya. Suara lain namun tidak asing.


Jia tidak kecewa, setidaknya panggilan teleponnya mendapatkan jawaban.


"Baiklah Sean tidak apa-apa. Apa kalian sudah makan siang?"


"Sudah Nyonya, istirahat siang tadi kami langsung makan."


"Jika waktunya senggang, minta Alex untuk menghubungi aku."

__ADS_1


"Baik Nyonya."


Dan panggilan itu pun terputus.


"Suamimu sibuk?" tanya Abbu dan Jia mengangguk.


"Setelah ini kamu juga akan sibuk, komunikasi kalian harus tetap terjalin dengan baik," ucap Abbu lagi, entah kenapa tiba-tiba dia ingin memberikan sebuah petuah. Mungkin karena dia sudah menganggap Jia seperti anaknya sendiri. Abbu tidak ingin rumah tangga Jia kembali hancur untuk kedua kalinya.


"Hindari semua hal yang membuat hubungan kalian semakin jauh. Seperti ini, kamu sampai lupa menghubungi dia. Lain kali jadikan itu prioritas mu. Walau terlihat sepele tapi saling memberi kabar adalah hal yang sangat penting, karena kalian tidak selalu bisa bersama."


Jia terdiam, bukan hanya tentang lupa menghubungi, namun dia juga jadi teringat tentang Daniel dan pertengkaran mereka tadi pagi.


Tiba-tiba perasaan bersalah merayap masuk ke dalam hatinya. Tentang keras kepalanya dia yang tidak ingin mendengar ucapan Alex.


Maafkan aku Dad.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rekomendasi Author


Me And Hot Mafia karya Shim Chung

__ADS_1



__ADS_2