
Tentang Amora.
Alex dan Jia meminta maaf pada Abbu dan Amira, mengatakan bahwa mereka tidak bisa membebaskan Amora. Amora akan tetap tetap menjalani hukumannya selama 5 tahun di dalam penjara.
Abbu dan Amira tidak mempermasalahkan itu, mereka sudah sangat bersyukur kini bisa kembali bertemu dengan sang anak. Bahkan kedua orang tua ini mengucapkan terima kasih, andai tidak ada Alex dan Jia mungkin hingga kini mereka tidak akan bertemu dengan Disha.
Tentang Amora menjadi belahan lain bagi hidup Alex dan Jia, mereka tidak lagi saling terhubung.
Dan waktu berlalu.
Di penghujung tahun kehamilan Jia sudah memasuki usia 9 bulan, tinggal menunggu hari Alex dan Jia bertemu dengan anak kedua mereka.
Sofia adalah yang paling antusias, setelah mengetahui jika cucu keduanya adalah seorang putri dia langsung membeli semua baju dan mainannya dengan warna senada, warna merah muda.
Sementara Rayden tak kalah antusias, tiap kali dia membeli mainan baru dia akan minta 2, satu untuk dia sendiri dan satu untuk adiknya nanti.
"Mom, seminggu ini daddy akan Di rumah terus, tidak pergi ke kantor," ucap Alex, dia dan Jia baru saja bangun, masih saling memeluk di atas ranjang. Menikmati pagi yang masih terasa dingin.
"Kenapa? katanya kemarin ada proyek baru."
"Biar Sean yang urus semuanya."
"Tambah gajinya Dad."
__ADS_1
"Iya, nanti bonus nya daddy tambahi."
Mereka semakin mengencangkan pelukan, Alex memeluk Jia dari belakang dengan tangan yang terus mengelus perut istrinya.
"Mom, ayo kita beri nama anak kita," ucap Alex lagi dengan bibir yang tersenyum. Jia yang mendengar ucapan suaminya itu pun ikut tersenyum juga. Dulu nama Rayden adalah pemberian Andreas.
"Siapa ya Dad?" tanya Jia malu-malu, entah kenapa membicarakan ini terasa lucu baginya.
"Bagaimana kalau gabungan nama kita berdua?" usul Alex dan Jia langsung terkekeh pelan. Merasa mereka kekanak-kanakkan sekali.
"Kenapa mommy malah tertawa?"
"Lucu Dad."
"Daddy."
"Iish, ayo putuskan, siapa nama putri kita."
Jia mengulum senyum dengan otak yang berpikir keras, dia tidak pandai merangkai nama. Ditanya seperti ini langsung membuatnya pusing.
"Bingung Dad, rasanya semua nama akan terdengar indah untuk putri kita."
"Tapi harus ditentukan Mom, siapa namanya."
__ADS_1
"Terserah daddy saja, mommy ikut."
"Baiklah, bagaimana kalau namanya Aleia Carter?"
Jia mengulum senyum, ternyata Alex benar-benar menggabungkan nama mereka mereka berdua, Alex dan Jia.
Jia terkekeh pelan, entah kenapa rasanya bahagia sekali.
"Bagaimana Mom? suka tidak?"
"Sangat suka." balas Jia, dia membalik badannya hingga menghadap sang suami masih dengan wajahnya yang malu-malu dan senyum yang terkuluum.
Tanpa banyak kata lagi Jia langusng mengecup bibir suaminya, tapi Alex tidak puas jika hanya dengan kecupan. Dia ingin ciuman dalam.
Lantas dengan segera Alex menahan tengkuk istrinya dan memperdalam ciuman mereka. Hingga bibir sama-sama terasa kebas.
"Ayo Mom kita mandi," ajak Alex dan Jia mengangguk.
Alex turun lebih dulu dan membantu Jia untuk turun pula dari atas ranjang. Membimbing istrinya untuk sama-sama masuk ke dalam kamar mandi.
Benar-benar hanya mandi. Di bulan ke 9 ini, Alex memang selalu membantu Jia untuk mandi, menggosok punggung istrinya dan membersihkan semua bagian tubuh.
Kehamilan yang semakin membesar membuat Jia tidak leluasa untuk bergerak.
__ADS_1