After Divorce

After Divorce
AD BAB 90 - Bagaimana Caranya Agar Kamu Percaya?


__ADS_3

Saat ini mobil yang dikemudikan Alex tengah berhenti di salah satu lampu merah.


Jia berulang kali mengulum bibirnya sendiri, bingung mau bicara apa? bertanya tentang apa untuk memecah keheningan ini.


Berulang kali melirik Alex dan hanya melihat pria tampan itu yang selalu terlihat tersenyum kecil.


Sedikit mencurigakan, hingga membuat Jia akhirnya bicara juga.


"Kenapa senyum-senyum terus, memangnya ada yang lucu?" tanya Jia, dia bahkan membenahi posisi duduknya dan sedikit menghadap ke arah Alex.


"Iya, ada yang lucu."


"Apa?"


"Kita."


Jia bingung.


"Kita kenapa?"tanya Jia lagi.


"Tidak, aku mencintai mu," balas Alex, dia menggerakan tangan kirinya dan mengelus kepala Jia dengan sayang. Dan Jia yang diperlakukan manis seperti ini langsung membeku, lidahnya kelu tidak mampu menjawab.


Saat lampu berubah hijau, Alex kembali melajukan mobilnya. Sementara Jia hanya diam, sampai tidak sadar jika Alex melewati jalan yang menuju rumah Sofia. Mobil itu terus melaju entah kemana.


Dan ketika mobil itu berhenti, barulah Jia sadar jika kini mereka berada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota.


"Kenapa kita kesini? ada yang ingin kamu beli?"


Alex mengangguk, dia lantas mendekat dan melepaskan seat belt yang melindungi Jia.


"Ayo turun," ajak Alex.


Lagi-lagi Jia menurut tanpa banyak bertanya. Dari area parkiran hingga mereka berkeliling Mall, Alex terus menggenggam erat tangan Jia. Bahkan sesekali memeluk pinggangnya ketika melewati eskalator.


Sampai akhirnya mereka tiba di salah satu toko baju wanita. Jia melebarkan matanya, bertanya-tanya di dalam hati untuk apa Alex datang kemari.


Dua karyawan wanita toko baju itu pun menyambut mereka dengan begitu ramah.


"Tidak perlu didampingi, kami bisa sendiri," ucap Alex pada keduanya, dia ingin memilki waktu yang lebih banyak dengan Jia, hanya berdua saja.


"Baik Tuan, silahkan panggil kami jika membutuhkan bantuan."


Alex mengangguk kecil, lalu melanjutkan langkah dengan menggandeng Jia disampingnya.


"Untuk apa kita kesini?" tanya Jia lagi, bertanya dengan berbisik, seolah dua karyawan itu masih mampu mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Aku ingin membelikan mu baju, pilihkan juga baju untukku dan Rayden," ucap Alex, bukan hanya ucapan itu yang membuat Jia terpana, tapi senyum Alex ketika mengatakan itu pun membuatnya terlena.


Kenapa Alex sekarang jadi manis sekali? seolah dia tidak mengenal pria ini.


"Lihatlah gaun ini, pasti akan terlihat sangat indah saat kamu yang memakainya," ucap Alex, dia mengambil satu gaun dan memasangkannya di tubuh Jia, sebuah gaun berwarna peach dengan corak bunga kecil-kecil, manis sekali. Kerah lehernya pun tinggi, tidak akan membuat Jia merasa kedinginan.


"Kamu suka?"


Jia mengangguk, dia tidak mampu berkata-kata karena terlalu bahagia.


"Kamu ingin mencobanya?" tawar Alex.


Ditanya seperti itu, Jia jadi bingung.


"Ayo dicoba." putus Alex, dia menarik tangan Jia hinhga sampai di ruang ganti. Meminta wanitanya untuk masuk ke dalam sana sementara dia menunggu.


Lagi-lagi Jia menurut, selepas Jia masuk Alex pun duduk di kursi sofa itu. Duduk dengan terus menatap pintu yang terkunci, hinga akhirnya terbuka dan memperlihatkan Jia yang keluar dengan malu-malu.


Cantik sekali. Batin Alex, dia terus mengukirkan senyum lebar nya ketika bersama dengan Mommy Rayden.


Alex bahkan langsung bangkit dan menghampiri sang mantan istri. Namun kini wajahnya sedikit masam.


"Kenapa? ini terlihat buruk? kamu tidak menyukai nya?" tanya Jia bertubi


"Kamu terlihat semakin cantik, terlalu cantik sampai aku takut banyak mata pria yang menatap mu." jujur Alex.


Dan Jia langsung menahan tawa diantara rasa malu-malu nya. Jia hanya mampu mencubit lengan Alex pelan.


"Gombal," kesal Jia.


"Aku serius."


"Bohong."


Tidak menjawab lagi, Alex langsung memeluk pinggang Jia hingga mereka begitu intim.


"Al, jangan begini, malu, tidak ada orang tapi ada cctv, tuh!" tunjuk Jia pada salah satu sisi, disana meeka memang hanya berdua, namun ada 4 kamera cctv yang mengawasi mereka. Jia sangat yakin, salah satunya ada yang terhubung di meja kasir, dan kedua karyawan yang menyambut mereka tadi bisa melihatnya.


"Aku tidak peduli, sekarang lihat mata ku," titah Alex.


Bukannya menatap, Jia malah sedikit menunduk. Kedua mata Alex adalah kelemahannya, semakin dia menatap mata itu dia akan semakin tenggelam dalam cinta yang begitu dalam.


Alex mengangkat dagu Jia hingga kedua mata saling bertemu. Belum bicara apa-apa, Alex sudah lebih dulu mengecup sekilas bibir ranum itu. Sebuah kecupan tanpa lumattan namun mampu membuat Jia melayang.


"Aku tidak hanya akan mengatakan Aku Mencintaimu setiap hari, aku juga akan selalu mengucapkan kata maaf setiap saat," ucap Alex lirih, membuat Jia langsung menatapnya sendu.

__ADS_1


"Maafkan aku," ucap Alex lagi. Sesalnya atas semua yang terjadi, sekalipun Alex tidak pernah mengajak Jia pergi seperti ini selama mereka menikah.


Tidak menjawab dengan kata-kata, Jia langsung memeluk Alex erat, menyembunyikan wajahnya di atas dada bidang itu.


"Jangan terus meminta maaf Al, aku sudah memaafkan kamu." balas Jia tak kalah lirih. Dia ingin membuka lembaran baru, menjalani setiap hari tanpa mengingat masa lalu yang menyakitkan. Jia pun ingin Alex melakukan hal yang sama seperti itu.


"Benarkah? tapi aku tidak percaya jika kamu sudah memaafkan aku."


Mendengar itu Jia melerai pelukannya, membuat jarak hingga dia bisa menatap kedua mata Alex. Tapi kedua tangannya masih melingkar di pinggang sang mantan.


"Bagaimana caranya agar kamu percaya?"


"Cium aku lebih dulu."


Jia mencebik.


"Bagaimana bisa cara seperti itu digunakan sebagai bukti." protes Jia, merasa tidak terima.


"Tentu saja bisa, selama ini selalu aku yang lebih dulu mencium kamu. Kamu tidak pernah mencium ku lebih dulu, itu artinya kamu belum memaafkan aku."


"Tadi pagi sudah, sebelum keluar dari mobil aku mencium kamu lebih dulu."


"Itu karena Rayden yang meminta, aku ingin ciuman yang tulus dari hati mu."


Bibir Jia makin mengerucut, entah kenapa dia seperti sedang dipermainkan. Namun sayangnya dia tidak punya kata-kata lagi untuk membantah.


Jadilah dengan bibirnya yang mengerucut itu Jia sedikit berjinjit dan menjangkau bibir sang mantan suami. Jia mencium bibir Alex yang sedang tersenyum. Mencium Alex lebih dulu.


"Sudah percaya?"


"Tentu saja," balas Alex, dengan segera dia sedikit menunduk dan kembali meraup bibir ranum itu.


Kini Jia tidak tinggal diam, dia membalas ciuman Alex bahkan menggerakan kedua tangannya naik dan menggantungkannya di leher sang mantan suami.


Ciuman berbalas itu mereka lakukan, seolah saling menunjukkan cinta yang ada di hati masing-masing.


Tidak peduli sekarang mereka ada dimana, kini keduanya sudah hanyut dalam ciuman itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rekomendasi dari author:


My Papa My Boss karya m anha.


__ADS_1


__ADS_2