
Bukan hanya Ina yang melihat ciuman mesra Jia dan Alex, seorang pria yang diam-diam datang ke tempat ini pun melihat secara langsung bagaimana wanita yang dicintainya begitu menikmati sentuhan itu. Sementara dengannya Jia selalu memberi jarak.
Daniel tersenyum miring, sejak awal dia memang tidak pernah mendapatkan tempat spesial di hati Jia.
Dan setelah Alex dan Jia menyudahi ciumannya, Daniel melihat dengan jelas Jia yang malu-malu, lalu Alex mendekapnya dengan erat.
Sebuah pelukan yang berhasil membuat dadanya sesak.
"Jadi seperti ini rasanya patah hati?" gumam Daniel, dia menyentuh dadanya sendiri, cukup sakit untuk seorang pria yang tidak pernah mengalami sakit hati.
Semenjak hari itu Daniel coba menjauhi Jia, berharap Jia akan mencarinya.
Namun hingga waktu bergulir dan berganti bulan Jia tetap biasa saja, wanita itu malah semakin sibuk sendiri dengan hidupnya.
Bekerja, belajar, berhubungan dengan Alex dan keluarganya pula. Kini Jia bahkan sudah kembali pulang ke rumahnya sendiri, Rayden juga sudah mulai sekolah. Tiap libur bekerja wanita cantik itu selalu berpergian untuk melihat dunia.
Belajar dengan pendiri WO kenalan Alex secara langsung.
Daniel frustasi, betapa dia merindukan saat-saat bersama dengan Jia waktu itu.
"Hih! benar-benar wanita tidak peka," kesal Daniel.
__ADS_1
Pagi ini dia kembali memanggil Jia ke dalam ruangannya.
Dilihatnya Jia masuk, menunduk memberi hormat dan berdiri di hadapannya.
"Maaf Tuan, ada apa Anda memanggil saya?" ucap Jia, seperti biasa dia selalu memanggil Daniel dengan sebutan Tuan dalam keadaan seperti ini. Dan mendengar panggilan itu makin membuat Daniel stress.
"Ya Ampuun Jiaa!! 4 bulan aku tidak menghampiri mu, kamu tidak mencariku?!" kesal Daniel.
Jia mengerutkan kening, dia mulai berani menatap Daniel.
"Kamu kan punya banyak pekerjaan, jadi wajar saja tidak menemui ku," balas Jia, dia memang sadar jika Daniel tidak pernah menemui dia lagi, tapi Jia berpikir jika itu karena kesibukan Daniel.
"Bukan tentang pekerjaan! Hih! lama-lama bicara denganmu semakin membuatku frustasi." Daniel gelisah sendiri.
Jia pun menurut, karena kini posisinya Daniel adalah atasannya, pemimpin tertinggi.
Setelah Jia duduk, Daniel pun menghampiri dengan membawa banyak berkas di tangannya.
"Baca ini semua, setelahnya pilih salah satu. Ini adalah tempat-tempat yang strategis untuk usaha mu," ucap Daniel.
Daniel sadar diri jika dia tidak akan mampu memiliki Jia, karena hati wanita ini memang hanyalah milik Alex. Namun menjauh dari Jia pun dia tidak mampu, karena itulah Daniel sudah memutuskan untuk benar-benar menjalin pertemanan, bukan yang lain.
__ADS_1
Daniel juga ingin membantu Jia memiliki usaha yang dia mau.
Membantu wanita ini cukup membuat dadanya yang sesak jadi terasa lega.
"Apa ini?" tanya Jia bingung.
"Makanya dibuka, dibaca!" ketus Daniel.
Jia cemberut, namun akhirnya dia pun menurut. Satu per satu Jia membuka berkas itu. Lambat laun bibirnya pun tersenyum ketika melihat isinya.
"Benar harganya segini? ini tidak terlalu mahal?" tanya Jia ketika dia sudah menemukan gedung yang dia suka, letaknya pun stategis cocok untuk kantor tempat usahanya.
Tidak perlu besar, namun cukup nyaman untuk menyambut para pelanggan.
"Ini harga sewa, tentu saja murah."
"Oh iya." Jia terkekeh.
Dan benar saja, melihat tawa itu hati Daniel yang selama ini dingin kembali menghangat.
Tanpa sadar Daniel bahkan ikut tersenyum juga.
__ADS_1
Sepertinya takdir ku memang hanya menjadi teman Jia. Batin Daniel.