
Hari ini Shinta sengaja bangun agak siang karena suaminya pergi ke Jakarta. Padahal belakangan ini Shinta selalu bangun pagi untuk menyiapkan sarapan pagi buat suaminya. Tapi hari ini dia bangun lebih siang karena tidak menyiapkan sarapan.
Kalau Andre di rumah maka Shinta lah yang membuatkan sarapan untuk suaminya. Sebenarnya Shinta malas melakukan itu semua. Tapi untuk mencari simpati Andre, Shinta berusaha keras berbuat baik pada suaminya.
Setelah Shinta terbangun, dia tidak langsung turun dari tempat tidur tapi dia masih rebahan di tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya. Ada beberapa pesan wa masuk yang belum dibacanya dan dia langsung membukanya. Terakhir dia membuka pesan masuk wa dari nomor yang tidak dikenalnya. Begitu dibuka pesan itu terlihat ada sebuah foto yang membuat Shinta langsung tersulut emosi. Perasaannya sangat sakit dan marah melihat foto itu.
Kemudian Shinta mengamati sekali lagi foto itu dan ternyata foto itu adalah foto suaminya dan Widya. Di foto itu terlihat suaminya baru keluar dari rumah Widya. Memang pada saat itu Niko ada mengambil foto saat Andre dan Anton keluar dari pintu rumah Widya. Tapi yang dikirim ke wa Shinta adalah foto saat Andre dan Widya berdiri di depan pintu. Tentu hal ini membuat Shinta merasa geram dan marah.
‘Lalu ini nomor siapa ya. Kenapa dia mengirimkan foto ini sama aku,’ batin Shinta penasaran.
Shinta langsung mengirimkan pesan wa kepada orang tersebut.
{Maaf ya. Kalau boleh tau ini siapa ya.}
Tidak lama kemudian pesan wa pun masuk. Shinta dengan cepat membuka isi pesan itu.
{Saya mantan suaminya Widya. Kamu tidak mau kan kalau suami kamu direbut wanita lain. Begitu juga dengan saya.} Kemudian Shinta mengirim pesan lagi.
{Kalau begitu, kita ketemu nanti siang di cafe Winda ya.}
Tidak lama kemudian pesan wa pun masuk dan Shinta langsung melihat pesan itu. Dan ternyata isinya Niko bersedia ketemu di kafe itu.
Shinta yang sedang emosi langsung turun dari tempat tidur. Dia langsung masuk ke kamar mandi. Setelah dibuka bajunya, dia berdiri di bawah shower. Perasaannya sangat sakit dan marah melihat foto itu sehingga dia menghidupkan air dari shower dengan harapan air yang sejuk mengguyur sekujur tubuhnya dapat menyejukkan hatinya. Shinta pun mandi di bawah shower cukup lama.
Setelah selesai mandi hatinya masih kesal juga. Luapan amarahnya tidak turun juga bahkan emosinya semakin memuncak ketika mengingat bahwa suaminya sedang ke luar kota.
‘Pasti mas Andre sengaja keluar kota untuk bersenang-senang dengan wanita itu. Aku harus menelepon Wira pagi ini juga.’
Shinta langsung menghubungi Wira.
[“Ada apa bu Sinta?”] tanya Wira heran karena masih pagi Shinta sudah menghubunginya.
__ADS_1
[“Wira, kamu diberi tugas sekecil itu aja nggak becus.”]
[“Maksud Ibu apa ya. Saya nggak tau.”] jelas Wira heran.
[“Kan udah saya suruh kamu membuntuti suami saya, tapi kenapa suami saya masih menemui wanita itu.”] jelas Shinta emosi.
[“Maksud Ibu, wanita yang bernama Widya itu?”]
[“Ya iya. Siapa lagi kalau bukan dia.”]
[“Tapi setau saya Bu, bapak tidak pernah menemui wanita itu.”]
[“Kalau tidak pernah menemui wanita itu, kenapa ada fotonya?”]
[“Fotonya Bu?”]
[“Kamu nggak perlu banyak tanya Wira. Sebentar lagi akan saya kirim fotonya. Sekarang saya nggak mau tau. Kamu harus melaksanakan tugas saya dengan sebaik-baiknya. Kamu cari informasi tentang wanita itu, apakah wanita itu masih ada di rumahnya atau pergi ke luar kota. Kalau wanita itu pergi keluar kota berarti wanita itu pergi bersama suami saya ke Jakarta.”]
[“Jangan oh iya, oh iya aja. Wira, pokoknya saya nggak mau tau. Kalau kamu tidak becus, ingat saya tidak akan membayar sisa gaji kamu.”]
[“Ibu jangan bicara seperti itulah.”]
[“Gimana saya nggak marah sama kamu. Kamu saya gaji untuk membuntuti suami saya, tapi kenapa suami saya bisa ketemu juga dengan wanita itu. Itu semua karena kerjaan kamu nggak beres. Percuma saya beri kamu gaji besar kalau kerjaan kamu seperti ini. Saya sangat kecewa Wira dengan pekerjaan kamu.”] ucap Shinta marah.
[“Maafkan saya Bu. Saya akan selalu mengawasinya. Saya janji Bu.”]
Shinta yang merasa kesal langsung pergi ke ruang makan untuk sarapan pagi. Sampai di ruang makan terlihat ayahnya sedang sarapan.
“Kapan suami kamu pulang Shinta?” tanya pak Husin.
“Katanya seminggu lagi Ayah,” jawab Shinta.
__ADS_1
“Seminggu? Kenapa lama kali. Biasanya kalau urusan kantor hanya tiga hari.”
“Mungkin urusannya lebih panjang Ayah.”
“Maksud ayah, biasanya selama-lamanya tiga hari. Kenapa ini sampai seminggu.”
“Mungkin saja mas Andre ada urusan yang lain Ayah makanya sampai seminggu.”
“Apa kamu tidak tanya. Seminggu itu ngurusi apa aja.”
Shinta langsung menggelengkan kepalanya. Sebenarnya Shinta malas berdebat dengan ayahnya karena ayahnya pasti selalu menyalahkan Andre. Shinta juga merasa kesal kalau ayahnya selalu menyudutkan suaminya.
“Kebetulan semalam saat mas Andre akan berangkat, Shinta sedang tidak di rumah Ayah. Shinta sedang di mall Ayah,” jelas Shinta.
“Oh gitu, pantas saja kamu nggak tau.”
***
Selesai sarapan Shinta langsung berjalan ke halaman depan rumahnya. Seperti biasanya setiap pagi dia menghabiskan waktunya untuk merawat tanaman bunga kesukaannya. Begitu juga pagi ini dia berencana untuk menyemprot bunga anggreknya sehingga semua perlengkapan untuk menyemprot sudah diambilnya dari gudang dan dia kemudian menuangkan obat hama dan air ke dalam botol semprotan itu.
Setelah botol diisi penuh, dia hendak menyemprotkan ke semua bunga anggrek kesayangannya. Tapi karena perasaannya sedang tidak enak akhirnya Shinta mengurungkan niatnya. Dia kemudian duduk di teras sambil memperhatikan bunga yang ada di halamannya. Dia sudah tidak sabar ingin langsung ketemu dengan Niko. Untuk menunggu waktu beberapa jam saja rasanya Shinta sudah tidak sabar. Bolak-balik dilirik hp-nya untuk melihat jam berapa sekarang. Tapi ternyata masih jam sembilan pagi. Akhirnya karena bosan dan kesal Shinta masuk ke dalam rumah.
Bi Ijah yang melihat Shinta tidak jadi menyemprot bunga anggrek langsung bertanya karena heran.
“Kenapa nggak jadi nyemprot bunga Bu. Apa Ibu sakit?” tanya bi Ijah khawatir.
“Nggak Bi. Saya lagi malas aja,” jawab Shinta sambil berjalan ke ruang tengah.
Untuk menghilangkan rasa bosannya dan menunggu datangnya waktu siang dia kemudian menyalakan tv dan menonton siaran yang ada di TV. Tapi lagi-lagi hiburan yang ada di TV tidak membuatnya menarik. Semua hiburan di TV sepertinya sangat membosankan.
Akhirnya Shinta masuk ke dalam kamarnya. Begitu dia akan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tiba-tiba ponselnya berdering dan dengan cepat Shinta meraih ponsel itu. Terlihat panggilan masuk dari Wira.
__ADS_1