After Divorce

After Divorce
Cerai


__ADS_3

Malam ini setelah berdiskusi dengan Shinta akhirnya Andre memutuskan untuk bercerai.


“Apa nggak bisa kamu pertimbangkan lagi Mas keinginanmu untuk bercerai. Apa nggak bisa kamu batalkan keinginanmu itu,” ucap Shinta dengan nada sedih.


“Kamu sudah hamil anak orang lain Shinta, jadi nggak ada yang perlu kita pertahankan lagi.”


“Tapi Bobby tidak mau menikahi aku, Mas.”


“Kamu harus terima konsekuensinya kalau pun Bobby tidak mau menikahi kamu. Kamu harus mengurus bayi itu sendiri kalau nantinya Bobby tidak mau menikahi kamu. Mengenai surat perceraian akan menyusul nanti,” jelas Andre.


“Aku nggak mau bercerai Mas.” Shinta langsung memeluk Andre dari belakang saat Andre akan berjalan keluar dari kamarnya.


Kemudian Andre melepaskan tangan Shinta yang berada di pinggangnya.


“Mulai sekarang kamu harus banyak belajar untuk mandiri Shinta. Mengenai Bastian aku serahkan sama kamu. Kalau setelah tamat ini dia mau melanjut ke Jakarta, aku akan senang menerimanya. Jadi mengenai hak asuh Bastian aku serahkan sama kamu dan aku berjanji tiga bulan sekali akan menemui Bastian di sekolahnya.”


Andre langsung mendorong bag dorongnya ke ruang tengah. Sedangkan Shinta masih terpaku di dalam kamarnya. Rasanya seperti tidak percaya bahwa Andre akan meninggalkan untuk selamanya. Sementara dia sedang mengandung anak Bobby. Akhirnya Shinta meluapkan tangisnya di kamarnya.


“Pak Andre mau ke mana, kenapa bawaannya banyak sekali?” tanya bi Ijah heran.


Andre langsung menyalam tangan bi Ijah dan memohon maaf.


“Bi, saya akan balik ke Jakarta dan mungkin tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini. Jadi saya mohon maaf pada Bibi atas kesalahan saya pada Bibi selama ini.”


Bi Ijah merasa heran dan sedih.


“Kenapa pak Andre pergi secara mendadak. Apakah pak Andre akan bercerai?” tanya bi Ijah heran karena bi Ijah sebelumnya telah mengetahui kalau rumah Andre sudah diambang kehancuran.


Begitu mendengar ucapan bi Ijah, pak Husin yang sedang berada di dekat tangga langsung turun ke lantai satu.


“Ada apa bi Ijah?” tanya pak Husin.


Begitu melihat ayah mertuanya sudah berdiri di dekatnya, Andre langsung mendekatinya dan menyalam tangan ayah mertuanya.

__ADS_1


“Memangnya ada apa Andre? Apa yang sudah terjadi dengan kalian?” tanya pak Husin.


Andre tidak menjawab pertanyaan ayah mertuanya tapi dia kemudian duduk di sofa. Pak Husi juga ikut duduk di depannya. Sedangkan bi Ijah masih tetap berdiri dengan posisinya semula.


“Saya akan minta izin pada ayah karena saya akan selamanya di Jakarta dan mungkin tidak akan kembali ke rumah ini lagi.”


Mendengar ucapan menantunya pak Husin merasa terkejut.


“Memangnya kenapa Andre?”


“Sebelumnya saya minta maaf Ayah kalau selama ini banyak salah sama Ayah. Kami akan bercerai dan saya tidak akan kembali lagi ke rumah ini,” ucap Andre dengan perasaan berat.


“Memangnya apa nggak bisa lagi diperbaiki rumah tangga kalian. Ini semua demi Bastian, Andre. Kamu jangan hanya memikirkan diri kamu sendiri aja. Kamu juga harus memikirkan masa depan Bastian. Gimana nasib Bastian nantinya kalau mengetaui kedua orang tuanya berpisah.”


Andre terdiam sesaat memikirkan ucapan ayah mertuanya. Apa yang dikatakan ayah mertuanya memang benar. Pasti Bastian akan sedih dan kecewa jika mengetahui kedua orang tuanya berpisah tapi nggak ada yang bisa dilakukan lagi selain harus bercerai.


“Andre, ayah mohon tolonglah pertimbangkan lagi keinginanmu untuk percerai. Kalau selama ini ayah telah banyak menekan kamu, ayah minta maaf. Tapi ayah mohon kamu jangan menceraikan Shinta karena ayah tidak mau melihat dia bersedih. Dia adalah satu-satunya harapan ayah.”


Mendengar permohonan ayah mertuanya Andre merasa kasihan tapi semua ini harus dihadapinya dan Andre harus bisa menentukan sikap.


“Memangnya kenapa Andre. Apa kamu tidak kasihan dengan ayah yang sudah tua ini.”


“Maaf Ayah bukan Andre tidak kasihan dengan Ayah, tapi....” ucapan Andre sempat terputus karena dia tidak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya.


“Tapi kenapa Andre?” desak ayah mertuanya lagi.


Akhirnya Andre pun menjelaskan pada ayah mertuanya kalau dia menceraikan Shinta karena Shinta telah hamil anaknya Bobby.


“Kalau kamu sudah tidak suka dengan Shinta jangan kamu fitnah Shinta, Andre,” ucap pak Husin dengan nada marah.


“Kalau Ayah tidak percaya bisa ayah tanyakan langsung pada Shinta.”


Mendengar ucapan Andre, pak Husin seperti tidak percaya. Tiba-tiba tubuhnya merasakan lemas dan detak jantungnya sangat kencang. Emosinya langsung meluap.

__ADS_1


“Shinta! Sinta! Kemarin kamu,” jerit pak Husin.


Bi Ijah yang berdiri tidak jauh dari Andre langsung gemetaran karena tidak menyangka apa yang baru didengarnya. Shinta yang mendengar panggilan ayahnya langsung keluar kamar menuju ruang tengah. Dia langsung duduk di depan ayahnya. Pak Husin yang begitu emosi langsung menampar putrinya.


“Ayah tidak menyangka kamu ternyata sebejat itu. Kamu telah mencoreng muka ayah, Shinta. Kamu telah membuat malu ayah. Ayah menyesal setelah membesarkan kamu. Ternyata kamu anak yang tidak pernah bersyukur selama ini. Ayah telah dibutakan oleh kasih sayang ayah terhadap kamu. Kamu selalu ayah bela meskipun kamu salah. Itu semua karena ayah sangat menyayangi kamu. Tapi kamu tidak pernah menghargai pengorbanan ayah.”


“Ayah, maafkan Shinta, Ayah.” Shinta pun menangis sambil bersujud di kaki ayahnya.


Dia sangat menyesal akan perbuatannya.


“Percuma kamu menyesal karena nasi sudah menjadi bubur.” pak Husin yang sangat marah dan mempunyai penyakit jantung tiba-tiba dadannya sakit.


Dia kemudian memegang dada kirinya dan tidak lama kemudian pak Husin terjatuh ke sofa. Melihat kondisi pak Husin, Shinta dan bi Ijah langsung menjerit.


“Ayah....” Sinta langsung memeluk ayahnya.


“Tuan kenapa bisa seperti ini?” ucap bi Ijah panik.


Kemudian Andre membopong ayah mertuanya itu ke kamar. Shinta dan bi Ijah sibuk memberikan minyak kayu putih di dada pak Husin. Tapi sudah lima menit berlalu pak Husin tetap tidak bereaksi. Dia tetap tidak sadarkan diri.


Akhirnya pak Husin dibawa ke rumah sakit oleh Andre. Andre yang akan berangkat ke bandara pagi ini akhirnya tidak jadi. Dia sengaja mengundurkan keberangkatannya sampai kondisi ayah mertuanya sudah lebih baik lagi.


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit Shinta tak hentinya menangis.


“Ibu harus sabar ya. Kita doakan saja semoga tidak terjadi apa-apa dengan pak Husin.” Bi Ijah berusaha menenangkan Shinta.


Begitu sampai rumah sakit pak Husin langsung ditangani oleh dokter. Setelah hampir setengah jam menunggu di ruang UGD akhirnya pak Husin dibawa ke ruang rawat.


“Gimana kondisi ayah saya, Dokter?” tanya Andre saat dokter keluar dari ruang UGD.


“Alhamdulillah masa kritisnya sudah berlalu. Ayah saudara mengalami gejala jantung tapi saat ini jantungnya sudah normal kembali,” jelas dokter.


“Terima kasih Dokter.” Kemudian dokter itu pergi dari hadapan Andre.

__ADS_1


Shinta, bi Ijah dan Andre membawa pak Husin ke ruang rawat. Sampai di ruang rawat kondisi pak Husin masih lemas. Walaupun sudah sadar tapi pak Husin tidak ada berbicara sama sekali. Bahkan ketika ditanya dia hanya menggeleng atau mengangguk saja. Sepertinya dia malas untuk berbicara. Andre yang melihat kondisi ayah mertuanya seperti itu merasa maklum. Mungkin hal ini disebabkan kekecewaannya terhadap Shinta anaknya.


__ADS_2