After Divorce

After Divorce
AD BAB 93 - Sisi Lain Jia


__ADS_3

Amora langsung bangkit dari duduknya saat melihat Alex menemui dia. Amora sudah menunggu dengan perasaan yang tidak menentu saat petugas polisi mengatakan jika ada seseorang yang ingin menemui dia.


Bibirnya tersenyum lebar saat melihat Alex masuk ke dalam ruangan ini, namun tidak sampai 1 detik senyum itu langsung hilang saat dia menyadari Alex tidak datang sendiri.


Alex menemui dia dengan menggandeng mantan istrinya, Jia. Tiba-tiba hatinya sesak, Amora hanya mampu mengepalkan tangannya kuat. Lalu kembali duduk di kursinya sendiri dan memperhatikan Alex yang begitu perhatian pada Jia, hanya duduk saja Alex sampai harus menarikkan kursi untuk sang mantan.


Kini mereka bertiga sudah saling berhadapan, dinding kaca tebal yang menjadi penghalang. Sementara lubang-lubang kecil di depan wajah mereka sebagai akses untuk bicara.


"Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?" ucap Jia, memulai pembicaraan diantara mereka. Alex bahkan tidak menyangka, jika Jia yang akan lebih dulu bicara. Padahal mulutnya pun sudah siap berucap untuk mengatakan pada Amora jika persidangan kasusnya akan segera diadakan. Namun ucapan Alex urung, saat Jia lebih dulu bersuara.


Sementara Amora yang mendengar pertanyaan Jia itupun melebarkan matanya, mempertajam telinga untuk memastikan dia tidak salah dengar.


"Apa maksudmu?" tanya Amora.


Namun Jia yang mendengar itu malah tersenyum miring.


"Ternyata kamu benar-benar wanita yang tidak punya hati, aku sangat bersyukur Alex tidak menjadikannya ibu sambung untuk anakku."


"Apa maksudmu!" balas Amora lagi dengan suaranya yang lebih meninggi, dia geram sekali melihat wajah Jia yang seolah merendahkan dia.


"Kamu berniat melukai aku, lalu ternyata malah melukai mama. Tapi lihatlah dirimu, sedikitpun kamu tidak merasa bersalah akan hal itu. Saat aku dan Alex datang kesini, kamu tidak berniat untuk meminta maaf, kamu malah menatap Alex dengan penuh cinta, menjijikkan."


Bukan hanya Amora, namun Alex pun terperangah akan perubahan Jia. Alex sungguh tidak menyangka jika Jia memiliki sisi ini.


"Untuk apa aku meminta maaf, lagipula baik kamu ataupun mama memang layak mendapatkan luka itu!"


"Jaga bicara mu Amora." Alex pun bersuara, suaranya yang dingin seketika menghentikan perdebatan diantara kedua wanita itu.


"Sekali lagi kamu menyakiti Jia dan mama, aku sendiri yang akan membalasmu dengan hal serupa."


"Al, kenapa kamu membela wanita itu? jelas-jelas dia yang salah, dia yang sudah membuat kita berpisah."


Alex menggeleng.


"Tidak, sejak awal Jia tidak pernah menjadi orang ketiga diantara kita. Kita mengakhiri hubungan itu dengan baik-baik. Tapi ternyata kamu memanfaatkan mama untuk merusak rumah tangga ku dengan Jia, kamu lah yang menjadi orang ketiga diantara hubungan kami." jelas Alex.


Mendengar itu Jia sedikit bernafas lega, kedua telapak tangannya yang sedari tadi mengeluarkan keringat dingin pun mulai terasa menghangat.


Sedangkan Amora mulai menangis, mulai merasa Alex semakin jauh untuk dijangkaunya.


"Al_"


"Aku mencintai Jia, cinta yang tumbuh bukan dari keegoisan, tapi penerimaan diantara kami. Sejak awal aku sudah menerima Jia, begitu pun dia. Cinta itu mulai tumbuh diantara kami, tapi aku yang bodoh tidak menyadarinya."


Amora menggelengkan kepala, dia tidak ingin mendengar ini. Sementara air bening terus mengalir dari kedua matanya.


"Diantara kita benar-benar sudah berakhir, setelah keluar dari penjara jangan sekalipun mencariku lagi, jangan pernah mengusik hidup kami lagi."


"Tidak Al, aku mencintaimu_"

__ADS_1


"Berhenti mengatakan tentang cinta. Kamu tidak mencintai Alex, kamu hanya mencintai dirimu sendiri." potong Jia, kini suaranya pun bahkan terdengar lebih dingin daripada Alex.


Membuat Amora bahkan sampai tak bisa berkata-kata. Sungguh tidak menyangka jika wanita yang dia anggap lemah akan mempermalukannya seperti ini.


Jia hanya ingin mempertahankan apa yang dia miliki, meski jantungnya berdegub kencang merasa takut, namun yang ia lihatkan pada semua orang adalah keberaniannya.


"Kami pergi, nikmatilah waktu mu disini. Ku harap setelah keluar dari tempat ini kamu bisa memulai hidupmu yang baru, mencari kebahagiaan mu sendiri tanpa merusak hidup orang lain."


Setelah Jia mengatakan itu mereka berpisah.


Amora masih duduk dengan deraian air mata yang semakin deras, dia terus menyaksikan kepergian Alex dan Jia hingga benar-benar keluar dari dalam ruangan temu itu. Mereka berdua keluar dengan saling menggandeng tangan, bahkan saat melewati pintu Alex memeluk pinggang Jia erat.


"AA!!" teriak Amora, dia menjambak rambutnya frustasi.


"Tidak! aku tidak sudi tetap berada di tempat ini!!"


"KELUARKAN AKU!!"


"AA!!"


Amora terus berteriak, sampai akhirnya tubuhnya dicekal oleh petugas polisi. Amora menangis, terus menangisi harapannya sendiri. Dia berharap Alex datang untuk membebaskan dia, namun ternyata bukan.


Alex malah datang untuk memperlihatkan padanya tentang Jia.


Amora terus menangis, dia pun terus memukul dadanya yang terasa sesak. Marah pada tuhan karena memberinya hidup yang tidak adil.


Dan diluar sana, Alex membukakan pintu mobil untuk Jia, mereka berniat untuk langsung pulang.


"Ji."


Jia menoleh, menatap Alex yang duduk disampingnya. Mereka duduk di kursi tengah, sementara yang menyetir adalah Sean.


"Hem?"


"Maafkan aku."


"Maaf apa lagi? kan sudah berjanji untuk tidak meminta maaf tentang masa lalu lagi."


"Bukan itu."


"Lalu apa?"


"Maaf untuk semuanya."


Jia mengerutkan dahi.


"Aku tidak akan berani membuat kesalahan lagi."


"Kenapa?" tanya Jia.

__ADS_1


"Kamu kalau marah mengerikan."


"Iissh!" Jia memukul dada Alex, namun kemudian ditahan dan tangan itu digenggam erat oleh Alex.


Dia pun menarik tubuh Jia untuk masuk ke dalam dekapannya. Melihat kemarahan Jia pada Amora membuatnya kembali sadar jika luka yang sudah dia toreh begitu besar.


Seseorang yang dia kenal begitu lembut pun bisa berubah menjadi singa betina.


"Aku mencintaimu, kamu percaya kan?" tanya Alex.


"Masih sedikit ragu."


"Kenapa bicara seperti itu?"


"Apa iya sejak awal kamu sudah menerima aku?"


"Iya, memangnya malam pertama kita aku mabuk?"


"Tidak sih."


"Lalu saat kamu hamil memangnya siapa yang mengurus mu? Apa Sean?"


"Bukan."


"Siapa?"


"Kamu." balas Jia, dia pun mencubit dada Alex merasa kesal. Kenapa seperti itu saja harus diperjelas. Apalagi perbandingannya dengan Sean, yang orangnya ada di depan.


Sean yang ikut mendengar perbincangan itu pun mengulum senyum. Dia ikut bahagia kebahagiaan ini akhirnya mereka rasa.


Kehangatan sebuah keluarga.


"Aku mencintaimu," ucap Alex sekali lagi dan akhirnya Jia pun membalas.


"Aku juga mencintaimu," balas Jia.


Alex lantas mengangkat wajah Jia dan menjatuhkan sebuah ciuman diatas bibir itu. Melumaatnya lembut mengutarakan semua rasa cinta yang dia punya.


Jia pun membalas sampai lupa jika ada Sean di depan sana.


Jia baru ingat, jika saat malam pertama mereka Alex tidak mabuk dan tidak menyebut nama Amora. Namun yang selama ini dia ingat hanya kenangan buruk saja, sampai lupa jika mereka juga punya kenangan yang manis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih untuk semua doanya ya, aku terharu.


Terus dukung Jia, Alex dan Rayden, jangan lupa berikan like, komen, hadiah dan Vote.


Dan jangan lupa Ikuti akun author.

__ADS_1



__ADS_2