
“Mbak Widya, boleh saya minta bibitnya biar saya tanam di rumah. Bunga ini banyak khasiatnya untuk mengobati segala macam penyakit,” jelas pak Jamal.
“Sebentar ya Pak, saya ambilkan pisau dulu,” jawab Widya dan hendak berjalan ke dalam rumah.
“Nggak usah mbak Widya. Pakai tangan aja bisa kok ngambilnya.”
Kemudian pak Jamal mengambil dua batang bunga kumis kucing itu.
“Makasih ya mbak Widya.”
“Sudah cukup Pak?” tanya Widya lagi.
“Sudah Mbak, nanti kalau kurang saya kemari lagi.”
“Kalau kurang, ambil lagi aja ya Pak.”
“Iya mbak Widya. Makasih banyak ya?”
Kemudian pak Jamal meninggalkan Widya yang masih menyapu halaman.
Setelah selesai menyapu halaman Widya masuk ke rumah dan langsung pergi ke kamar mandi. Begitu selesai mandi saat akan keluar kamar mandi tiba-tiba terdengar pintu diketuk oleh seseorang. Buru-buru Widya memakai pakaiannya. Setelah itu dia membuka pintu tapi begitu pintu dibuka terlihat istri pak Jamal dengan wajah marah berdiri di depan pintu.
“Ada apa ya Bu?” tanya Widya heran.
“Kamu nggak perlu menggoda suami orang dengan memberi bunga segala. Ini bunga kamu,” ucap istri pak Jamal sambil mencampakkan bunga kumis kucing yang barusan diminta pak Jamal ke lantai.
Jantung Widya seperti mau copot mendengar tuduhan istri pak Jamal.
“Apa maksud Ibu, saya menggoda suami Ibu?”
“Nggak usah banyak bicara kamu. Saya udah tau kelakuan kamu gimana.”
“Maksud Ibu apa sih? Ibu jangan sembarangan menuduh orang tanpa bukti.”
“Buktinya udah jelas. Ini bunga yang kamu berikan sama suami saya,” ucap istri pak Jamal.
Widya yang mendapat serangan dari istri pak Jamal tidak banyak bicara. Dia hanya diam saja tapi hatinya sangat sakit dan sedih mendengar tuduhan yang tidak benar.
Mendengar suara keributan di depan rumah Widya, bu Ika yang merupakan tetangga Widya langsung datang menghampiri istri pak Jamal yang sedang marah-marah.
“Ada apa bu Jamal? Mengapa pagi-pagi kok udah marah?” tanya bu Ika.
__ADS_1
“Gimana nggak marah bu Ika. Ini si Widya menggoda suami saya,” jelas istri pak Jamal.
“Menggoda gimana maksud Ibu?” tanya bu Ika.
“Dia mencari perhatian suami saya dengan memberikan bunga.”
“Maksud Ibu, bunga kumis kucing?”
“Iya. Memangnya Ibu tau kalau suami saya diberi bunga kumis kucing oleh Widya?”
“Ya tau Bu, karena pak Jamal saat ke rumah saya tadi sempat cerita kalau dia baru saja meminta bunga kumis kucing pada Widya, kebetulan Widya tadi sedang menyapu halaman depan ,” jelas bu Ika.
Begitu selesai bu Ika menjelaskan, tiba-tiba pak Jamal pun datang.
“Mama ngapain sih sampai datang kemari segala,” ucap pak Jamal dengan ada marah pada istrinya.
“Mama kan butuh penjelasan.”
“Apa nggak cukup yang papa jelaskan tadi? Ayo sekarang kita pulang,” ucap pak Jamal.
Karena malu mendengar penjelasan bu Ika, akhirnya istrinya pak Jamal buru-buru pergi dari hadapan Widya dan bu Ika.
Kemudian pak Jamal pun pergi mengikuti istrinya. Begitu pak Jamal pergi, Widya langsung duduk di teras dengan perasaan sedih dan lemas. Bu Ika langsung mendekatinya dan mengelus pundak Widya.
“Kamu yang sabar ya Widya. Istri pak Jamal memang seperti itu. Kamu harus banyak maklum ya.”
“Iya bu Ika, saya maklum kok. Saya hanya sedih aja kenapa ya istri pak Jamal tegah menuduh saya seperti itu. Sementara saya nggak ada sedikit pun niat untuk menggoda suaminya,” ucap Widya dengan nada sedih.
“Itulah nasib jadi janda. Setiap gerak dan langkah kita pasti diperhatikan orang. Saya juga pernah merasakan seperti ini Widya, ketika saya masih janda dulu. Makanya, Widya cepat menikah lagi biar nggak dipandang jelek,” ucap bu Ika sambil tersenyum menghibur.
“Bu Ika bisa saja. Saat ini saya belum mikir ke sana Bu. Rasanya saya masih takut untuk menikah lagi.”
“Kenapa takut Widya? Kegagalan di masa lalu akan menjadi pelajaran bagi kita. Jangan pernah takut untuk mencoba. Kalau sudah ada yang cocok langsung jadikan saja.”
Mendengar penjelasan bu Ika hati Widya langsung terhibur. Dia pun tersenyum-senyum sendiri mendengar penjelasan bu Ika barusan.
***
Selesai sarapan pagi Noval yang malas mendengarkan pembicaraan neneknya langsung masuk ke kamar membereskan buku-bukunya yang dibawa dari pesantren. Sedangkan ayah dan neneknya masih di ruang makan.
“Sampai kapan kamu tetap sendiri seperti ini Niko?” tanya ibunya.
__ADS_1
“Maksud Ibu apa?” tanya Niko bingung.
“Maksud ibu, ya kamu cepat menikah. Coba kamu lihat perkembangan Noval. Noval sekarang menjadi anak yang pendiam. Itu semua karena perceraian kalian. Kalau kamu menikah lagi dan hak asuh Noval jatuh ke tangan kamu, pasti Noval akan senang karena sudah mempunyai ibu yang mengurusnya.”
“Ibu ini ada-ada aja,” ucap Niko kesal.
“Ada-ada aja gimana maksud kamu?”
“Mana ada anak yang merasa bahagia kalau orang tuanya menikah lagi.”
“Dari pada dia ikut ibunya, kan lebih baik ikut kamu walaupun ikut ibu tiri. Makanya kamu cari ibu tiri yang sayang sama Noval. Kalau kamu menikah dengan Ririn pasti Noval bahagia karena Ririn kan sayang sama Noval.”
“Kenapa sih Ibu selalu menjodohkan Niko dengan Ririn?”
“Karena Ririn lebih pantas buat kamu dari pada istri kamu sendiri.”
“Niko belum mikir untuk menikah lagi dengan wanita lain Bu. Niko hanya mau menikah lagi dengan Widya,” jelas Niko.
“Apa? Kamu mau menikah lagi dengan dia?”
Niko hanya menganggukkan kepalanya.
“Apa kamu udah nggak waras Niko, sampah yang sudah kamu buang kamu kutip kembali.”
“Ibu... Ibu jangan pernah menyamakan Widya dengan sampah.”
“Kalau tidak sama dengan sampah, lalu sama dengan apa?”
“Widya itu manusia Bu, bukan sampah.”
“Terserah apa kata kamu, yang penting ibu tidak mengizinkan kamu menikah lagi dengan dia. Kamu sudah pernah gagal berumah tangga dengan dia, jadi ngapain kamu ulang menikah lagi dengan dia.”
“Karena sekarang Niko baru sadar Bu, setelah berpisah dengan Widya. Ternyata Widya wanita yang baik, tidak banyak menuntut. Dia menerima Niko apa adanya dan Niko menyesal Bu telah menceraikannya.”
“Kamu itu hanya terobsesi dengan kenangan yang indah bersamanya. Tapi kalau kamu ingat-ingat perjalanan rumah tangga kalian, pasti lebih banyak sisi jeleknya dari kelakuan dia.”
“Nggak Bu... Setelah Niko berpisah, Niko baru bisa melihat ternyata lebih banyak kebaikan Widya dari pada keburukannya. Makanya Niko ingin rujuk kembali dengan Widya, supaya Noval menjadi anak yang ceria seperti anak-anak lainnya.”
“Pokoknya ibu nggak setuju kalau kamu rujuk kembali dengan Widya. Kalau kamu mau menikah, menikahlah dengan Ririn yang merupakan pariban kamu.”
Akhirnya Niko pun diam saja mendengarkan ucapan ibunya karena dia nggak mau berdebat dengan ibunya yang selalu memaksakan kehendaknya.
__ADS_1