
Semenjak baby Aleia lahir, Alex jadi semakin jarang pergi ke kantor. Jadilah Sean yang selalu bolak balik ke rumah keluarga Carter dan perusahaan.
Saat sedang sibuk, kadang Sean sampai berlari menuju ruang kerja tuannya di lantai Berlari dengan banyak berkas ditangannya.
Ina yang terkadang tidak sengaja melihat selalu tersenyum merasa lucu.
Seperti siang ini.
"Ina, kenapa senyum-senyum, menertawakan om Sean Ya?" ledek Rayden, matanya menyipit menatap tajam sang pengasuh.
"Tidak Tuan Muda, mana berani saya menertawakan Om Sean," jawab Ina seraya menggelengkan kepalanya banyak-banyak, ingin Rayden percaya.
Tapi sayangnya Rayden tidak percaya, dia lihat dengan jelas Ina yang tersenyum lebar saat melihat om Sean berlari, lalu Ina mengulum senyum seolah menahan agar senyum itu tidak berubah jadi tawa.
"Kata Uncle Niel, kalau ada anak perempuan yang selalu melihat ke arah Rayden dan perempuan itu tertawa, berarti perempuan itu menyukai Rayden. Apa itu artinya sekarang Ina juga menyukai om Sean?"
Ina mendelik, cepat-cepat dia menutup mulut Rayden menggunakan tangan kanannya. dan membuat gerakan Sstt! tutup mulut dengan jari telunjuk.
Rayden terkekeh dan tawanya cukup terdengar, Ina tidak menutup mulutnya dengan rapat.
"Heh! kalian ini kenapa?" tanya Sofia, dia baru saja tiba di ruang tengah dengan membawa baby Aleia di tangannya. Jia sedang tidur siang, Bik Asni pun sedang makan, karena itulah Aleia dia yang pegang. Sofia ingin menidurkan Aleia di dalam gendongannya.
"Maaf Nyonya," jawab Ina, sungguh dia tidak bermaksud untuk menganiaya Rayden.
__ADS_1
"Jadi begini Oma_"
"Tuan Muda!!" potong Ina cepat, dia sangat yakin jika Rayden pasti akan memberitahu Sofia tentang pembicaraan mereka tadi, tentang Sean. Ah! hanya mengingatnya saja membuat Ina malu.
"Kenapa aku tidak boleh bilang, apa ini rahasia?"
Ina mengangguk cepat.
"Iya, ini rahasia kita berdua Tuan Muda, tidak ada satupun orang yang boleh tahu, termasuk Oma Sofia, daddy Alex dan Mommy Jia."
Sofia yang mendengar pembicaraan itu hanya mampu geleng-geleng kepala. Ina dan Rayden memang seperti itu, mereka sudah terlihat seperti saudara. Ina masih muda dan bekerja dengan cekatan, juga begitu menyayangi Rayden. Karena itulah selama ini Sofia, Alex dan Jia sangat mempercayai Ina dalam merawat Rayden.
"Sudah jangan berdebat terus, lebih baik sekarang kalian naik, ini sudah waktunya Rayden tidur siang."
Jawab Ina dan Rayden bersamaan. Mereka berdua sama-sama membereskan banyak mainan yang berserak di karpet tebal ruang tengah itu. Memasukkannya ke dalam wadah dan menyingkirkannya di salah satu sudut. Nanti kalau main, di acak-acak lagi.
Setelah beres, Ina dan Rayden pergi ke lantai 2 menuju kamar Rayden.
Ina mengelus punggung Rayden hingga tuan mudanya ini terlelap.
Ina tersenyum, ada kebahagiaan tersendiri ketika dia bisa membuat Rayden tertidur nyenyak seperti ini.
Tidak ingin menganggu waktu istirahat tuan mudanya, Ina pun keluar dan saat itu juga dia melihat Sean yang hendak menuruni anak tangga.
__ADS_1
Namun langkah Sean terhenti saat melihat Ina yang keluar dari dalam kamar Rayden, entah kenapa dia menunggu.
Dan Ina pun jadi gugup sendiri.
Kenapa Sean menunggu?
Kenapa Sean tidak turun saja lebih dulu?
Pergilah!
Pergilah! Batin Ina.
Tapi kenyataannya Sean tetap menunggu dia hingga akhirnya mereka saling berhadapan.
"Sean." "Ina."
Panggil keduanya bersamaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rekomendasi Author
Ratapan Hati Karya Laly Yoon
__ADS_1