
Jam 8 malam Jia sampai di apartemen Alex.
Dia disambut dengan wajah heran Rayden, apalagi saat melihat ibunya menggunakan jas milik sang ayah.
Bukan tidak senang Jia datang, Rayden hanya terkejut.
"Mommy datang? dimana daddy?" tanya bocah kecil ini, kepalanya melongok mengintip ruang dibalik tubuh Jia mencari ayahnya namun tidak menemukan siapa-siapa.
Sean pun setelah mengantarkan sang Nyonya sampai di unit apartemen ini dia langsung kembali pergi.
Sementara Ina yang berdiri di belakang tubuh Rayden pun sama bingung nya.
"Nanti mommy jelaskan, mommy bersihkan tubuh dulu ya?" pinta Jia.
Rayden dan Ina mengangguk setuju, namun keterkejutan Ina belum selesai, masih berlanjut ketika mendengar ucapan Jia selanjutnya.
"Dimana kamar Daddy?" tanya Jia dan Ina mendelik. Padahal dia sudah siap menuntun langkah menuju kamar Rayden.
"Di di di sebelah sana Nyonya," jawab Ina gagap, menunjuk sisi kanan dari mereka.
Dan Jia hanya mengangguk kecil, lalu masuk ke dalam kamar itu dan menelisiknya dengan hati yang berdebar. Aroma maskulin khas mantan suaminya itu kembali dia cium dengan jelas. Kamar tanpa banyak perabot seperti inilah yang di sukai Alex, hanya ada ranjang king size dan satu lemari berukuran lebar, sekaligus kaca besar untuk nya menatap penampilan. Tidak ada sofa ataupun meja kecil lainnya. Alex suka melihat tempat yang luas, memudahkannya berjalan ketika mabuk, menyadari itu Jia tersenyum kecil.
__ADS_1
Kebiasan baik dan kebiasan buruk mantan suaminya masih saja dia ingat dengan jelas.
Selesai membersihkan tubuh dan mengganti bajunya, Jia segera keluar dan kembali menemui Ina dan Rayden yang sedang berkumpul di ruang tengah.
Tidak hanya berdua, disana juga ada 2 pelayan yang lain. Mereka bertiga menemani Rayden bermain ketika tidak ada lagi pekerjaan seperti ini.
"Mom, dimana daddy?" tanya Rayden lagi, yang kini sudah duduk di atas pangkuan Jia.
"Daddy di rumah sakit sayang, Oma sakit jadi daddy menjaganya. Karena itulah mommy datang kemari, mommy akan menemani Rayden."
Dan mendengar oma nya sakit, Rayden langsung memasang wajah murung. Dia sangat sedih dan ingin bertemu, saat ini ayahnya pun sudah sembuh, tidak bersedih seperti dulu.
Tapi sekarang malah Oma nya yang sakit, Rayden ingin memeluk Sofia, menyembuhkan sakitnya.
"Besok kita lihat oma ya, sekarang kita telepon daddy dulu, bagaimana?" tawar Jia dan Rayden langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Jia dan Rayden segera masuk ke dalam kamar dan menghubungi Alex dengan sambungan video call.
Tidak butuh waktu lama dan panggilan itu terjawab.
Alex langsung dicerca banyak pertanyaan oleh sang anak, Rayden sungguh mencemaskan oma nya.
__ADS_1
"Rayden tenang saja, Oma akan baik-baik saja sayang. Saat ini oma sedang tidur, karena itulah Daddy menjauh dari Oma," jelas Alex, sengaja tidak ingin menunjukkan kondisi Sofia yang tertidur dengan posisi tengkurap dan ada pula selang infus dan oksigen, dia tidak ingin membuat Rayden jadi semakin cemas.
"Besok Rayden kesana ya?" pinta Rayden.
"Iya sayang, kesini lah bersama mommy setelah mommy pulang kerja." Alex sengaja mengulur waktu, takut jika Rayden datang pagi dan Sofia belum sadar juga.
"Baiklah Dad," jawab Rayden patuh.
"Daddy sangat menyayangi kamu sayang."
"Rayden juga sangat menyayangi daddy, apa daddy juga menyayangi mommy?" tanya Rayden pula, dia menggeser layar ponsel dan memperlihatkan pula wajah Jia di sana.
Jia mendadak kikuk, namun memberanikan diri menatap Alex.
"Daddy sangat menyayangi Mommy," ucap Alex, sebuah ucapan yang membuat hati Jia menghangat, meski tahu jika ucapan itu hanya untuk menyenangkan Rayden.
"Mommy sayang daddy tidak?" tanya Rayden pula, dia bahkan menoleh pada ibunya.
"Tentu saja, mommy sangat menyayangi daddy." balas Jia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1