After Divorce

After Divorce
AD BAB 76 - Jangan Pelit!


__ADS_3

Hari berlalu.


Jia pergi bekerja seperti biasanya.


Setelah turun dari mobil Alex, Jia masuk ke dalam hotel dan menuju ruangan HK.


Hari ini begitu indah hingga membuat Jia terus mengukirkan senyum.


Bukan hanya karena cuaca pagi ini yang cerah, tapi tadi sebelum pergi bekerja, Sofia memberinya sekotak bekal untuk makan siang hari ini. Memang bukan Sofia yang memasaknya, namun Sofia memberikannya secara langsung.


Alex pun benar-benar datang untuk menjemputnya, memeluknya erat sebelum berpisah.


"Sepertinya hari ini kamu bahagia sekali?" tanya Lisa, dia bahkan bertanya dengan tersenyum pula, mengikuti bibir Jia yang terus melengkung.


Mereka berdua mulai naik ke lantai 25 dan melaksanakan tugas. Selagi berada di lift mereka masih bisa mengobrol.


"Iya, banyak hal baik terjadi kemarin."


"Ku kira kemarin kamu sakit."


Jia menggeleng.


"Oma nya Rayden yang sakit."


Lisa adalah teman Jia satu-satunya selama ini. Pembicaraan itu pun berlanjut dengan Jia yang menceritakan semuanya. Tentang dia dengan mantan mertua, tapi Jia tidak berbicara tentang Alex, dia masih malu.


"Kamu memaafkan mereka?" tanya Lisa setelah Jia selesai bercerita.


Dan Jia menganggukkan kepalanya kecil sebagai jawaban. Belum sempat Lisa kembali bertanya namun lift yang mereka naiki sudah sampai di lantai 25.


Mereka berdua bekerja lebih dulu, hingga sampai di lantai 30 dan kembali turun ke ruangan HK. Di tiap lantai ada sebuah lift kecil khusus untuk pakaian dan selimut kotor, jadi mereka hanya perlu mendorong troli dan tidak perlu membawanya berkeliling.

__ADS_1


"Kamu terlalu baik Ji, 5 tahun kamu menderita dan kemudian bisa memaafkan mereka hanya dalam 1 hari," ucap Lisa, ketika dia dan Jia sudah kembali ke dalam lift untuk turun.


Jia yang mendengar ucapan Lisa itupun membenarkannya juga. Tapi memang itulah yang dia rasa. Hatinya tidak ingin membenci, benci yang akan terus mengikat kebahagiaannya sendiri.


"Mama terluka karena Aku, meski dia selalu mengatakan demi Rayden, tapi dia tetap melindungi Aku." balas Jia lirih. Ingat bagaimana Sofia memeluknya saat Amora mengibaskan senjata tajam itu. Memasang tubuhnya sendiri hingga tersayat demi dia.


Kini memang semuanya berbeda. Bahkan Jia bisa merasakan kehangatan dari sikap dingin Sofia.


"Maafkan aku, aku hanya tidak ingin kamu kembali terluka. Aku cukup menganggap mereka licik karena pernah memisahkan kamu dengan Rayden." Lisa memeluk lengan Jia, tidak ingin pembicaraan ini membuat mereka jauh. Sungguh, Lisa hanya peduli. Bukan tidak bahagia atas kebahagiaan yang sedang dirasa Jia.


"Jangan meminta maaf," balas Jia pula, dia pun memeluk lengan Lisa. Keduanya tersenyum bersama hingga Lift akhirnya terbuka.


Mereka bekerja seperti biasanya hingga makan siang tiba. Jia dan Lisa pun turun menuju taman hotel untuk makan siang bersama. Di taman banyak kursi kosong dengan pepohonan rindang.


Namun belum sempat makan bersama, telepon Lisa bergetar, ada panggilan telepon dari kekasihnya yang mengatakan jika dia akan datang kemari.


"Ji, maafkan aku, sepertinya aku harus makan siang dengan dia," ucap Lisa dengan tak enak hati setelah panggilannya dengan sang kekasih putus.


Lisa tersenyum, terlebih saat Jia mendorong tubuhnya untuk menjauh. Lisa akhirnya pergi, melambai dengan sedikit berlari meninggalkan Jia.


Jia pun ikut melambai pula, terus menatap temannya itu hingga tidak terlihat lagi.


"Astaga!" terkejut Jia, saat membalikkan badan dan sudah ada pria berbaju hitam di hadapan.


"Anda membuat saya terkejut!" timpal Jia dengan suaranya yang lebih tinggi dan nada kesal.


Sementara Daniel hanya terkekeh dan kemudian duduk lebih dulu di kursi taman itu.


"Kenapa menggunakan baju seperti itu?" tanya Jia heran. Mereka duduk dengan meja diantara keduanya. Daniel tidak menggunakan setelan jas lengkap, melainkan celana levis hitam, kaos hitam dan topi hitam yang sedikit menutupi wajahnya.


"Aku habis menemui klien," jawab Daniel bohong. Padahal dia hanya ingin bertemu Jia. Di hotel sedang ada ayahnya, karena itulah dia menyamar agar tidak ketahuan.

__ADS_1


"Menemui klien dengan pakaian seperti itu?"


"Kami bertemu di luar, bukan membicarakan bisnis."


"Lalu kenapa kesini? bukannya langsung naik."


"Aku lapar dan melihat kotak makan siang mu."


"Tapi ini punya ku." Jia mendekap kotak bekalnya.


"Kita bisa makan bersama, itu terlihat cukup besar."


"Porsi makan ku banyak."


"Jangan pelit!"


Perdebatan mereka terhenti, karena tanpa seizin Jia Daniel lebih dulu menarik dan membuka kotak bekal itu. Hanya ada satu sendok dan dia langsung melahapnya tanpa sungkan.


"Hem enak, buka mulut mu." titah Daniel, tangannya pun mengulurkan sendok berisi makanan penuh.


"Sendoknya cuma 1?"


"Iya, cepat buka mulut!"


"Aku bisa makan sendiri."


"Terlalu repot jika ganti-gantian."


"Salah siapa memakan bekal ku!"


"Aa, buka mulutmu!"

__ADS_1


Jia mencebik, dengan ragu dia membuka mulut dan makan.


__ADS_2