
Semalam Jia menginap di rumah sakit, paginya Jia sudah diperbolehkan pulang.
Jia mendapatkan 5 jahitan ketika melahirkan baby Aleia. Tapi itu bukan masalah besar bagi dia, kini juga Jia sudah bisa berjalan dengan normal.
Hanya Alex dan Sofia yang merasa takut-takut, rasanya malah mereka yang merasa perih.
"Ji, jalannya pelan-pelan sayang," ucap Sofia saat mereka semua sudah bersiap untuk keluar dan pulang.
"Sayang, biar tas itu Sean yang bawa," ucap Alex pula, mengambil tas milik istrinya dan menyerahkannya pada Sean.
Kini keluarga Carter sudah berbondong-bondong untuk pulang. Daniel ikut menjemput, dia siap menjaga Rayden.
Sementara Ina dan Sean repot membawa barang-barang.
"Al, aku masih ada urusan di rumah sakit ini, biar Rayden ikut denganku, nanti aku akan mengantarnya pulang," izin Daniel pada Alex.
Alex pun langsung menatap sang anak yang kini sudah berada di gendongan Daniel.
"Rayden, mau ikut Uncle Niel?" tanya Alex.
"Iya Dad, kata Uncle sedang ada misi penting."
__ADS_1
"Misi apa?"
"Menemukan Mommy Uncle."
Alex bersungut kesal, Jia sibuk sendiri dengan bayinya dan Sofia mengulum senyum. Merasa rencananya berhasil. Pasti Daniel akan kembali menemui Karin.
"Ya sudah, Rayden ikut Uncle Niel, Oma dan yang lainnya pulang dulu ya?" pamit Sofia dan Rayden mengangguk.
Setelah pamit itu, Alex segera membawa semua keluarganya pulang. Dia terus berjalan mengimbangi sang istri, Jia menolak saat Alex memintanya untuk menggunakan kursi roda.
"Sayang, biar mama yang gendong Aleia," pinta Sofia dan Jia pun menurut. Langkah mereka terhenti sejenak saat Jia memindahkan baby Aleia ke gendongan Sofia.
Sean dan Ina pun mengekor dibelakang.
Sean menoleh dan melihat ke arah Ina.
"Ina, berikan tas itu padaku, aku masih bisa membawanya," ucap Sean, menawarkan bantuan. Dilihatnya Ina yang nampak kesulitan.
Padahal Ina biasa saja, hanya pipinya sedikit gatal dan dia kesulitan untuk menggaruk.
"Aku bisa Sean, ini tidak berat," jawab Ina, dia menggaruk pipinya menggunakan pundak.
__ADS_1
"Apa pipi mu gatal?"
Ina mengangguk.
"Butuh bantuan menggaruknya?"
"Tidak!" jawab Ina cepat, dia bahkan langsung menggelengkan kepalanya keras.
Dan Sean yang melihat wajah gugup Ina pun mengulum senyum. Ina seperti anak kucing yang sedang menggaruk-garuk pipinya, sangat menggemaskan.
Mereka terus berjalan sampai akhirnya tiba di parkiran dan pulang.
Sementara di ruang VIP rumah sakit Medistra, Daniel memesan sebuah ruangan untuk perawatan dia. Mengeluh merasakan sakit di dada, Daniel meminta perawatan intensif.
Tidak ingin ditangani sembarang dokter, Daniel meminta dokter Terbaik untuk memeriksa dia, yaitu dokter Alam dan dokter Anna. Dokter Alam sudah tidak di ragukan lagi keahliannya, sementara Kabar terakhir yang dia dengar, dokter Anna adalah dokter baru dengan citra yang yang baik di rumah sakit ini. Dan yang membuat Daniel lebih tertarik lagi, Anna pernah menjalani operasi dengan Karin sebagai tim nya.
Tidak sulit bagi Daniel untuk mencari informasi itu. Mendapati sikap dingin Karin kemarin, membuat Daniel ingin membalas dokter Anestesi itu. Ingin mengerjai Karin untuk menjadi penjaganya di rumah sakit ini. Memiliki beberapa persen saham di rumah sakit Medistra, membuat Daniel memiliki hak istimewa.
Menunggu Alam dan Anna datang, Daniel tidur di ranjang bersama dengan Rayden, memasang ranjang itu setengah duduk. Mereka sama-sama melihat ponsel, menyaksikan salah satu aplikasi pemutar video anak-anak, youtube kid.
Perhatian kedua pria beda usia ini teralihkan saat melihat pintu kamar mereka akhirnya terbuka.
__ADS_1