After Divorce

After Divorce
AD BAB 58 - Lari Kaki Tiga


__ADS_3

Hari berganti.


Pagi-pagi sekali Jia sudah pergi ke hotel bersama Abbu. Dia membawa koper kecil yang diletakkan di bagian depan motor matic itu.


"Pak Abbu, malam ini aku akan menginap di hotel, besoknya juga aku bisa pulang sendiri. Jadi bapak mulai menjemputku hari rabu pagi saja di rumah."


Kini mereka sudah sampai di depan hotel.


"Baiklah Jia."


Jia lantas memberikan uang tambahan pada Abbu, namun Abbu menolaknya. Karena beberapa hari lalu pun Jia sudah memberinya uang untuk satu bulan kedepan. Saat Jia gajian pertama, Abbu lah yang paling pertama dia pikirkan, Abbu bagi Jia sama seperti kakinya, tanpa beliau dia tidak akan bisa jalan.


"Bapak harus menerima ini, aku kan pemaksa," ucap Jia dan akhirnya Abbu tidak bisa menolak.


Hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyuman tulus.


Setelah berpisah dengan Abbu, Jia segera menemui teman-temannya di ruang HK (House Keeping).


Khusus ulang tahun hotel, seluruh kamar di lantai 5 akan ditempati oleh para karyawan.


Jia dan Lisa pun langsung menuju kamar mereka dan meletakkan barang-jarang, 1 kamar untuk 6 orang, Jia, Lisa dan 4 temannya yang lain.


Jam 8 pagi tepat, semua karyawan sudah berkumpul di aula hotel. Aula yang sudah disulap menjadi tempat diadakannya berbagai lomba antar karyawan.

__ADS_1


Disana mereka semua berkumpul sesuai devisi, totalnya ada 11. Room Division, House keeping, Front Office, F&B Division, Food Production, F&B Service, Personne, Acct, Engineering, Marketing, Purchasing.


Sementara para petinggi menjadi pemimpin di setiap Devisi, seperti Daniel yang memilih untuk memimpin devisi House Keeping.


"Sepertinya hari ini kamu bahagia sekali?" tanya Daniel, dia bertanya namun tatapannya tetap lurus ke depan. Membuat seolah tidak ada interaksi apapun diantara mereka.


Dia berdiri di samping Jia, membiarkan pantia mengikat kedua kaki diantara mereka.


"Memangnya kapan aku sedih?" jawab Jia dengan pertanyaan pula.


"Apa hari minggu kemarin harimu menyenangkan?"


Jia mengangguk, lalu terlintas di benaknya wajah sang mantan suami, Jia lalu tersenyum.


"Kita harus saling memeluk agar bisa menang," ucap Daniel.


"Baiklah!" balas Jia dengan antusias. Tim mereka sudah kalah 2 kali di pertandingan sebelumnya, dan kali ini Jia bertekad untuk menang.


Jia memeluk pinggang Daniel, sementara Daniel memeluk bahu Jia kuat.


Suara riuh di Aula mulai terdengar, para karyawan wanita menaruh iri yang begitu banyak pada Jia dan mereka semua berteriak menggoda pasangan itu.


Tidak peduli meski lawan, namun semua wanita bersorak meneriaki nama Daniel.

__ADS_1


Tuan Daniel!


Larilah hatiku untuk mu!


Tuan Daniel! Jangan lirik Jia, lihatlah aku!


Tuan Daniel!


Terus seperti itu hingga peluit tanda permainan dimulai pun ditipu.


Priiitttt!!!


Jia dan Daniel mulai berlari, seperti sudah terhubung langkah mereka selalu seirama. Jia bahkan tersenyum lebar saat tidak sedikit pun merasa kesulitan. Dia malah semakin memeluk pinggang Daniel erat.


"Ambil!" titah Jia dan Daniel langsung mengambil bendera itu, mereka kembali ke garis start dengan bayang-bayang akan menang.


Dan akhirnya, bayang-bayang itu jadi kenyataan.


Jia dan Daniel sampai lebih dulu di garis start dan membuat mereka jadi pemenang.


Mereka berdua bersorak kegirangan, bahkan tanpa sadar saling berpelukan. Sampai tidak sadar jika suara riuh di Aula semakin menggelegar.


Namun dari banyaknya orang disana, ada satu pria yang menatap ke depan sana dengan tatapan nanar.

__ADS_1


Alex berdiri dan menggandeng tangan Rayden dengan hatinya yang hancur lebur.


__ADS_2