
Jam 10 pagi.
Setelah kembali dilakukan pemeriksaan ulang akhirnya Sofia diizinkan untuk pulang.
Daniel pun menggendong Rayden saat Jia dan Alex membantu Sofia keluar dari kursi roda dan pindah ke dalam mobil.
"Niel, berkunjunglah ke rumah kami." ucap Sofia pada Daniel.
Sofia cukup mengenal keluarga Lincoln, mereka sama-sama berada di kalangan atas.
"Lain kali saja Nyonya Carter, hari ini cukup sibuk," balas Daniel dengan senyum ramahnya.
"Jangan memanggilku seperti itu, aku cukup mengenal baik kedua orang tua mu. Panggila saja Tante."
"Baiklah Tante."
Setelah Sofia benar-benar duduk sempurna, Alex mengambil Rayden digendongan Daniel dan mendudukkannya pula di kursi tengah. meninggalkan Jia dan Daniel berdua di samping mobil itu.
"Aku pulang," pamit Daniel pada Jia, dia menatap kedua manik mata itu. melihat tidak ada lagi kesedihan di dalam sana. Cukup membuatnya tenang.
"Iya, terima kasih untuk hari ini."
"Terima kasih lah pada Rayden."
"Kenapa?"
"Karena Rayden aku datang kesini."
Jia mendengus kesal, mau mengucapkan kata terima kasih saja repot sekali.
Sementara Daniel langsung terkekeh, hingga kini menggoda Jia tetap menjadi hobinya.
"Ayo," ajak Alex yang tiba-tiba hadir diantara Jia dan Daniel.
__ADS_1
Jia mengangguk, lalu mereka berpisah. Daniel menuju mobilnya sendiri. Sementara Alex dan Jia. Sofia dan Rayden menggunakan mobil yang lain.
"Apa Daniel orang yang baik?" tanya Alex saat dia dan Jia sudah duduk sempurna, mobil itu bahkan sudah melaju mengekori mobil Sofia dan Rayden di depan sana.
"Iya, Daniel memang orang yang baik," jawab Jia jujur.
Sementara Alex yang mendengar jawaban itu hanya mampu tersenyum kecut. Susah payah dia meredam cemburu yang sudah membara.
Mencoba berpikir bahwa Jia beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Sesuatu hal yang harus dia syukuri juga.
"Al."
"Hem."
"Kita ke rumah ku sebentar ya, ada yang ingin ku ambil."
"Baiklah." Alex mengangguk.
"Kamu tidak ingin turun?" tanya Jia pula karena Alex hanya diam di kursinya.
Bukan Alex tidak ingin masuk, namun dia takut tidak bisa mengendalikan diri ketika berada disebuah ruangan hanya berdua dengan Jia. Alex tidak ingin dia lepas kendali dan kembali membuat Jia benci kepadanya.
"Tidak, aku akan menelpon Sean."
"Telepon di dalam saja," pinta Jia pula hingga membuat Alex kesulitan menjawab.
Dan akhirnya Alex hanya bisa mengangguk. Lantas ikut turun pula dan masuk ke dalam rumah Jia.
Dia benar-benar menghubungi Sean meski tidak tahu tujuannya apa. Menelpon sambil berdiri gelisah.
"Sean."
"Ya Tuan," jawab Sean dengan suaranya yang mantap, siap melakukan apapun tugas yang diberikan oleh sang Tuan.
__ADS_1
"Kamu sedang apa?" tanya Alex, membuat Sean langsung mendelik. Kembali melihat ponselnya benarkah ini panggilan dari Alex.
Ternyata benar, memang tuannya.
"Saya baru saja dari kantor polisi Tuan, kasus Nona Amora mulai diproses, selanjutnya hanya tinggal di urus oleh pengacara kita."
"Hem, baiklah."
Alex memutus panggilan itu, membuat Sean diujung sana kembali kebingungan. Tuan nya seperti orang yang tidak punya kerjaan. Padahal tentang Amora, Alex sudah angkat tangan. Dia ingin Amora dipenjara tanpa sedikitpun dia campur tangan.
Belum sempat memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, Alex sudah lebih dulu dibuat terpana oleh kedatangan Jia.
Wanita itu menggunakan gaun rumahan, dengan rambutnya yang diikat tinggi. Baju baru yang Jia beli menggunakan gaji pertamanya kemarin.
Jia terlihat begitu mempesona, seperti itu saja sudah membuat Alex tidak bisa berkata-kata. dia terus menatap Jia lekat.
"Ayo, ini yang aku ambil." ucap Jia, seraya mengangkat paper bag di tangan kanannya.
Tapi Alex tidak mengiyakan, malah terpaku.
"Al." panggil Jia lagi, dia menggerakan tangannya di wajah Alex hingga akhirnya daddy Rayden sadar.
"Kamu kenapa?" tanya Jia.
"Bolehkah aku egois Ji?" tanya Alex pula, bukan menjawab dia malah membalas pertanyaan.
"Egois tentang apa?"
"Tentang kamu, bisakah kita kembali bersama?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1