
"Kalau dengan mommy Jia, mana yang lebih cantik?" tanya Karin, membuat kedua pria berbeda generasi ini langsung terdiam dan sibuk dengan jawaban apa yang akan diberikan.
"Tentu saja cantik mommy Jia," balas Rayden dengan yakin, tidak ada negosiasi.
"Tidak, mommy Karin lebih cantik," balas Daniel, dia melipat kedua tangannya didepan dada.
"Mommy Jia."
"Mommy Karin."
"Mommy Jia."
"Mommy Karin."
"Mommy Jiaaa."
Perdebatan kedua orang itu, membuat Karin akhirnya tersenyum lebar.
Entah kenapa dia jadi merasa nyaman berada didekat keduanya. Daniel yang kemarin terlihat begitu menyebalkan, ternyata memiliki sisi yang baik juga. Daniel begitu menyayangi Rayden, membuatnya terlihat begitu mempesona.
Karin tahu perdebatan itu tidak sungguh-sungguh, Daniel hanya menggoda Rayden.
"Sudah cukup, mommy Karin dan Mommy Jia sama cantik nya," ucap Karin tanpa sadar menyebut dirinya sendiri dengan sebutan mommy.
Membuat kedua mata Daniel berkaca-kaca, merasa terharu.
__ADS_1
"Jadi kamu menerima ku?" tanya Daniel dengan tatapan penuh harap, dia menatap lekat kedua mata Karin yang kini duduk di hadapannya.
Dilihatnya Karin yang menganggukkan kepala kecil. Rasanya tidak ada yang salah untuk mencoba hubungan ini. Terlebih selama ini Karin tidak pernah memiliki hubungan dengan siapapun, tidak terikat apapun dengan pria lain.
"Ku rasa tidak ada salahnya kita coba, bagaimana nanti tidak ada yang tahu. Aku bisa saja membenci mu, atau aku akan sangat mencintai kamu."
"Itu keputusan yang tepat, jangan ragu bahkan sekarang aku sudah membawa cincin."
Karin terkekeh, dia kira itu hanya candaan. Namun ternyata Daniel benar-benar merogoh kantung celananya.
Kedua mata Karin terperangah, saat melihat Daniel mengeluarkan kotak perhiasan yang cukup panjang. Disana tidak hanya ada satu cincin, tapi ada 5.
"Aku tidak tahu ukuran jarimu, jadi sini biar ku coba satu-satu." pinta Daniel dengan sungguh-sungguh.
Dan makin terperangahlah Karin.
"Hubungan ini bukan candaan, jika tidak ada yang muat kita langsung pergi ke toko perhiasannya."
Karin terkekeh.
Rayden dengan setia menonton keduanya.
Dan untunglah, dari kelima cincin itu akhirnya ada satu yang pas di jari manis tangan kanan Karin.
Cincin itu terlihat semakin cantik ketika tersemat disana. Rayden bahkan sampai kegirangan suka melihatnya.
__ADS_1
"Kalau sudah memasang cincin begini, apa Uncle Niel dan mommy Karin sudah menikah?" tanya Rayden.
Karin ingin menjawab dan menjelaskan, namun kalah cepat dengan Daniel.
"Tentu saja sudah, sekarang saatnya Mommy Karin mencium pipi Uncle."
"Ye!! cium cium cium!" antusias Rayden.
Tapi bukan ciuman yang Daniel dapatkan, melainkan tatapan tajam dari Karin.
Menjelang malam, Daniel pamit pulang. Dia mengaku dadanya tidak sakit lagi, sudah sembuh setelah mendapatkan calon istri.
Saat Daniel dan Rayden pulang, Karin mengantar keduanya hingga sampai di area parkir rumah sakit.
"Sampai bertemu lagi mommy Karin," pamit Rayden.
"Iya sayang, sampai bertemu lagi." balas Karin.
"Denganku tidak memanggil sayang?" tawar Daniel pula.
"Iya mommy Karin, kenapa Uncle tidak dipanggil sayang."
Karin kehabisan kata-kata.
"Kami pulang sayang," pamit Daniel.
__ADS_1
"Iya sayang," balas Karin akhirnya.
Daniel terkekeh, dia mengusap puncak kepala Karin gemas. Wanita kaku ketika mengucapkan kata sayang malah terdengar mengerikan, lucu-lucu mengerikan.