After Divorce

After Divorce
Dinner


__ADS_3

[“Hallo Wira, ada apa?”] tanya Shinta.


[“Saya mau ngasih tau Ibu bahwa wanita itu ada di rumahnya Bu.”]


[“Kamu yang benar kalau ngomong Wira,”] ucap Shinta tidak percaya.


[“Benar Bu. Barusan saya lewat di depan rumahnya dan saya melihat sendiri wanita itu akan berangkat kerja.”]


[“Oh gitu. Ya udah, syukurlah kalau memang seperti itu. Kamu harus selalu memantau wanita itu terus Wira, jangan sampai kecolongan lagi.”]


[“Iya Bu, akan saya pantau terus.”] jawab Wira.


Shinta mulai tenang mendengar penjelasan Wira barusan. Padahal sebelumnya Shinta menduga kalau Widya ikut pergi bersama Andre.


‘Ternyata wanita itu ada di rumahnya. Berarti wanita itu tidak pergi bersama mas Andre. Aku pikir mas Andre pergi bersama wanita itu, tapi ternyata tidak. Atau jangan-jangan setelah urusan mas Andre selesai, wanita itu menyusul ke Jakarta. Ah, mana mungkin wanita itu pergi sendiri ke Jakarta. Aku nggak yakin wanita itu akan menyusul mas Andre ke Jakarta,’ batin Shinta sambil mengelus dadanya.


Shinta sekarang merasakan lebih tenang dari sebelumnya. Rasa kesal dan bosannya berangsur-angsur hilang begitu mendengar penjelasan Wira.


***


Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba Shinta langsung melajukan kendaraannya menuju cafe Winda untuk menemui Niko.


Setelah memarkirkan mobilnya, Shinta langsung masuk ke dalam cafe itu. Ternyata cafe itu masih sunyi dan baru ada beberapa orang pengunjungnya. Kemudian Shinta mencari tempat duduk di pojok agar saat berbicara dengan Niko tidak didengar oleh orang lain.


Setelah duduk manis kemudian Shinta mengirim pesan pada Niko dan mengatakan kalau dia sudah sampai di cafe itu. Setelah Shinta mengirim pesan tidak lama kemudian Niko pun muncul.


Setelah melihat nomor meja, Niko langsung duduk di depan Shinta.


“Maaf Mbak kalau sudah lama menunggu,” ucap Niko saat baru sampai.


Setelah Shinta dan Niko memesan makanan, keduanya langsung membahas inti permasalahannya


“Mas sudah lama bercerai dengan istri Mas?” tanya Shinta ingin tau.


“Lebih kurang tiga tahun yang lalu,” jawab Niko.

__ADS_1


“Jadi sampai sekarang bagaimana hubungan Mas dengan mantan istri Mas?” tanya Shinta lagi.


“Sejak bercerai sampai sekarang kami jarang ketemu.”


“Apakah Mas ingin rujuk kembali?”


Niko pun menganggukkan kepalanya.


“Saya ingin rujuk kembali dan sudah pernah saya tawarkan pada Widya. Tapi katanya dia belum mau untuk rujuk lagi,” jelas Niko dengan nada sedih.


“Kenapa nggak mau Mas?”


“Saya juga nggak tau. Mungkin dia masih sakit hati dengan saya karena ketika kami belum bercerai saya sering menyakitinya dan saya sangat menyesal.”


“Apa Mas sudah pernah mengungkapkan penyesalan Mas pada mantan istri Mas.”


“Sudah. Saya katakan juga bahwa saya akan merubah sikap saya dan saya berjanji padanya tidak akan menyakitinya lagi. Tapi dia tetap menolak untuk rujuk Kkmbali.”


“Lalu apa usaha Mas sekarang untuk mencari simpati mantan istri Mas?”


“Kalau Widya mau rujuk kembali dan Mas menikah lagi dengan dia, pasti lama-kelamaan orang tua Mas menerimanya.”


“Memang sih iya. Tapi sekarang yang jadi masalah Widya-nya yang tidak mau rujuk kembali.”


Shinta pun terdiam mendengarkan penjelasan Niko. Perasaan takutnya semakin besar kalau Niko tidak jadi rujuk dengan Widya karena kemungkinan besar suaminya akan kembali lagi pada Widya.


“Jadi apa rencana kita yang harus kita lakukan untuk membatalkan hubungan mereka?” tanya Niko.


“Saya sudah menyewa seseorang untuk mencari tau kedekatan mereka Mas dan sekarang ini suami saya sedang di Jakarta. Saya khawatir nantinya Widya akan menemui suami saya ke Jakarta,” jelas Shinta.


“Nggak akan mungkin Widya ke Jakarta Mbak. Jakarta itu kan jauh.”


“Kan bisa aja Mas. Kalau di sini mereka tidak bisa ketemu karena sudah ada yang membuntuti mereka. Tapi kalau di Jakarta kan tidak ada orang yang mengenal mereka.”


“Bukankah suami Mbak ke Jakarta untuk urusan pekerjaan?”

__ADS_1


“Memang sih iya Mas. Tapi saya agak curiga karena biasanya urusan pekerjaan hanya memakan waktu tiga hari, tapi sekarang ini suami saya di Jakarta selama seminggu. Bisa jadi kan setelah tiga hari urusan kantor selesai, kemudian mereka ketemuan di Jakarta. Kan kita tidak tau kalau mereka nantinya ketemu disana.”


“Mulai sekarang kita harus selalu memantau Widya. Kalau memang setelah tiga hari ini Widya tidak di rumah, berarti dia pergi ke Jakarta untuk menemui suami Mbak.”


“Pokoknya saya tidak tinggal diam Mas. Saya akan membuat perhitungan kepada Widya kalau sampai mereka ketauan berselingkuh,” ucap Shinta penuh emosi.


“Mbak juga nggak bisa menyalahkan sepenuhnya pada Widya. Kalau pun Widya mau melakukan itu semua, pasti semua itu karena suami Mbak yang menggoda dia. Karena saya tau betul bagaimana sifatnya Widya. Dia tidak mudah terpengaruh oleh bujuk rayu lelaki lain.”


“Buktinya kenapa dia mau dekat dengan suami saya, Mas.”


“Kita kan belum membuktikan apakah diantara mereka memang sudah terjalin hubungan spesial. Karena kita belum pernah memergoki mereka. Yang selama ini kita lihat hanyalah berupa praduga saja dan belum terbukti.”


“Tapi foto itu Mas.”


“Foto itu hanya menunjukkan mereka ketemu dan belum tentu mereka berselingkuh. Tapi kalau kita mendapati mereka sedang berdua di kamar, baru jelas kalau mereka berselingkuh.”


“Memang saat ini mungkin mereka belum berselingkuh Mas. Tapi kita harus mengantisipasi sebelum hubungan mereka lebih jauh lagi. Karena dari sinilah awal muncul perselingkuhan itu. Kalau hal ini dibiarkan terus maka hubungan mereka akan semakin dalam sehingga terbuka kesempatan untuk berselingkuh. Dari perselingkuhan ini maka akan lahirlah yang namanya pernikahan. Apa Mas mau melihat Widya menikah dengan suami saya?”


“Ya nggak mau Mbak karena saya belum merelakan Widya menikah dengan siapa pun walaupun kami sudah bercerai. Sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana mencari solusi dalam masalah ini. Kita harus bisa mencegah hubungan mereka.”


***


Begitu Niko memasuki halaman rumahnya terlihat lampu di ruang tamu sudah padam. Itu artinya ibunya sudah tidur.


Kemudian Niko masuk ke dalam rumah melewati ruang tengah. Tapi begitu hendak membuka pintu kamarnya dia dikejutkan dengan suara ibunya.


“Kenapa lama kali pulangnya Niko?” Terdengar suara ibunya dari belakang.


Niko langsung menoleh ke belakang. “Iya Bu, tadi ada rapat di kantor.”


“Ya udah biar ibu siapkan makan malam untuk kamu. Sebentar ya ibu panaskan dulu sop kesukaan kamu.”


Niko langsung masuk ke dalam kamarnya dan dia langsung mandi. Tidak lama kemudian Niko pun keluar dari kamar sudah dalam keadaan bersih.


Dia berjalan ke ruang makan dan terlihat ibunya sedang menyiapkan makan malam untuknya. Sudah menjadi kebiasaan ibunya yang selalu menyiapkan makan malam buat Niko. Jam berapa pun Niko pulang ke rumah, dia tetap harus makan karena dia tidak mau mengecewakan ibunya.

__ADS_1


Begitu juga dengan malam ini. Terlihat bu Tanti sangat sibuk mempersiapkan makan malam buat putranya.


__ADS_2