
Pagi datang.
Dering ponsel Jia menggema di dalam kamar yang masih sepi ini. Alex masih berada di dalam kamar mandi dan Jia sedang menyisir rambutnya di depan cermin meja rias.
Jia lantas bangkit dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, melihat ada panggilan masuk dari Daniel.
Tanpa pikir panjang, Jia langsung menjawab panggilan itu.
"Halo Niel."
"Jia, darimana saja kamu? kenapa kemarin tidak jadi menemui tuan Louis. Apa kamu tidak jadi menyewa gedungnya?" tanya Daniel bertubi. Dia menghubungi Louis dan menanyakan tentang Jia dan sewa gedung itu, namun alangkah terkejutnya Daniel jika kemarin Jia tidak jadi datang.
"Maaf Niel, baru hari ini aku ingin menemui tuan Louis. Kemarin aku sibuk."
"Sibuk apa?"
"Aku dan Alex mendaftarkan pernikahan kami."
Deg! Daniel terpaku, mendadak gamang dan tidak tahu harus menanggapi apa. Hanya menikmati dadanya yang terasa sesak.
"Kenapa secepat ini?" tanya Daniel lirih.
"Hanya ingin mensegerakan niat baik."
__ADS_1
Tiba-tiba Daniel kehilangan semua kata-katanya, dia tidak tahu harus bicara apa lagi. Sampai suara lembut Jia kembali menyadarkan dia.
"Niel, kamu masih disana?" tanya Jia, panggilan diantara mereka cukup lama hening, ada jeda yang membuat seolah panggilan itu sudah terputus.
Dan Daniel menelan ludahnya kasar sebelum kembali bersuara.
"Aku hanya sedikit terkejut, maafkan aku dan ... selamat atas pernikahan mu."
Mendengar itu Jia tersenyum, tentu dia sangat bahagia ketika salah satu temannya memberikan ucapan selamat.
"Aku sangat berharap pernikahan mu kali ini akan berhasil, tapi Ji ... bolehkah aku mengatakan sesuatu?" tanya Daniel.
Tapi belum sempat Jia mengizinkan, Daniel sudah lebih dulu melanjutkan ucapan.
Jia terdiam, memang itulah yang ingin dia lakukan sekarang. Mencintai Alex dan juga mencintai dirinya sendiri. Jia akan tumbuh menjadi wanita yang lebih kuat, bahkan bisa berdiri di kakinya sendiri.
"Terima kasih Niel, aku akan selalu ingat pesan mu."
"Jika Alex melarang mu menemui ku apa kamu akan melakukan nya?"
"Kenapa bicara seperti itu? kenapa Alex harus melarang?"
"Mungkin dia cemburu."
__ADS_1
Jia terkekeh, "Suamiku tidak seperti itu."
"Cih, panggilan yang menjijikkan."
Tawa Jia semakin jelas terdengar.
"Kita lihat saja nanti, jika sampai Alex melarang mu untuk menemui aku, aku akan tertawa keras di depan wajah mu."
Jia mendengus, dia yakin Alex tidak akan melakukan itu. Bukan tentang cemburu, tapi tentang kepercayaan yang harus mereka berikan pada pasangan.
lagipula hidup di dunia ini mereka memang perlu bersosialisasi, bukan hanya sesama wanita ataupun sesama pria, namun dengan keduanya.
Setelah mengancam Jia seperti itu, Daniel pun memutuskan sambungan teleponnya dan tak lama kemudian Alex keluar dari dalam kamar mandi.
Melihat Jia yang duduk di tepi ranjang dan memegangi ponselnya.
"Ada telepon?" tanya Alex, berdiri dengan tubuhnya yang setengah telanjaang, dia hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang.
"Iya, telepon dari Daniel," jawab Jia jujur.
Namun mendengar nama Daniel sepagi ini membuat Alex merasa tak nyaman, dia tidak suka melihat kedekatan Jia dan pria itu. Dulu Alex memang tidak punya hak untuk melarang, namun rasanya kini Alex ingin Jia menjauhi Daniel.
"Kenapa? kok wajahnya jadi kaku gitu? Daddy tidak marah kan aku berteman dengan Daniel?"
__ADS_1