After Divorce

After Divorce
Dijatah


__ADS_3

“Kamu makan yang banyak ya Noval, biar cepat sembuh.” Neneknya menuangkan air putih ke gelas Noval.


“Iya Nak, kamu makan banyak ya biar segera sembuh,” ucap ayahnya.


“Kalau Noval udah sembuh antarkan ke rumah ibu ya Yah?” pinta Noval.


“Tentu Noval, ayah akan antar kamu ke rumah ibu,” jelas ayahnya.


“Kamu ngomong apa Niko,” ucap nenek Noval dengan nada marah.


“Memangnya kenapa Bu kalau Noval, Niko antar ke rumah ibunya.”


“Kalau kamu sudah tidak mampu mengurus Noval biar ibu aja yang akan mengurus dia. Jadi nggak perlu kamu bawa dia ke rumah ibunya.”


“Memangnya kenapa Nek?” tanya Noval heran.


“Noval nggak boleh diantar ke rumah ibu kamu,” ucap neneknya lagi.


“Bukankah semalam seharusnya ibu yang menjemput Noval?”


“Kamu jangan membela ibu kamu Noval. Nenek nggak setuju kalau kamu di bawah ke rumah ibu kamu.”


“Tapi Bu, hak asuh Noval berada di tangan ibunya bukan di tangan Niko. Jadi kita salah kalau melarang Noval untuk ikut ibunya,” ucap Niko.

__ADS_1


“Kamu jangan membela mantan istri kamu terus. Seharusnya kamu itu membela ibu, bukan mantan istri kamu yang tidak pintar mengurus anak. Buktinya Noval bisa sampai sakit seperti ini, itu semua karena ibunya yang tidak beres mengurus Noval.”


“Bu... Ibu jangan selalu menyalahkan Widya donk,” ucap Niko mulai marah.


“Kamu kenapa si Niko, sekarang membela dia terus.”


“Bukan Niko membela Widya, Bu. Tapi yang Niko bicarakan benar adanya. Kita nggak boleh melarang Noval untuk bertemu ibunya, karena hak asuh Noval masih berada di tangan ibunya.”


“Pokoknya ibu nggak mau menyerahkan Noval pada ibunya. Ibu akan mengurus Noval sampai nanti masuk sekolah, karena ibu nggak percaya pada Widya. Dia bisa menghidupi dirinya aja udah syukur. Gimana dia mau menghidupi Noval sementara dia hanya kerja sebagai pramuniaga. Apa yang bisa diberikan pada Noval. Noval bukan hanya butuh kasih sayang tapi Noval juga butuh materi. Noval perlu makanan yang bergizi, perlu rekreasi. Sementara apa bisa Widya memberikan itu semua?”


“Ibu jangan terlalu menjengkali rezeki seseorang. Niko yakin pasti Widya akan memberikan yang terbaik buat Noval.”


“Mungkin Widya bisa memberikan kasih sayang pada anaknya, tapi ibu nggak yakin kalau dia bisa memberikan makanan yang enak dan bergizi buat Noval,” ucap nenek Noval merendahkan Widya.


“Nek, Noval tidak butuh makanan dan rekreasi. Yang Noval butuhkan hanya bisa berkumpul dengan ibu, Nek. Noval kangen sama ibu, Nek,” ucap Noval sambil menangis.


“Niko yang melihat anaknya menangis langsung mendekatinya.


“Nanti ya kalau Noval sudah sembuh betul pasti akan ayah antar ke rumah ibu,” ucap Niko sambil mengelus kepala putranya.


“Pokoknya ibu nggak setuju kalau Noval kamu bawa ke rumah ibunya,” ucap nenek Noval sambil berjalan meninggalkan keduanya yang masih berada di meja makan.


Niko hanya diam saja, sedangkan Noval yang merasa kesal dengan ucapan neneknya yang tidak mempunyai perasaan langsung masuk kamar.

__ADS_1


Niko yang selalu menuruti kemauan ibunya akhirnya berpisah dengan Widya. Salah satu pemicunya adalah Niko lebih sering mendengarkan ucapan ibunya dari pada ucapan istrinya sendiri. Bahkan Niko sering tidak percaya dengan perkataan Widya. Niko yang sejak kecil sangat disayang oleh ibunya sehingga sudah berumah tangga pun dia lebih mendengarkan perkataan ibunya dari pada perkataan istrinya.


Hal inilah yang membuat Widya tidak menyukainya. Bahkan Niko tidak pernah bisa menentukan sikap ketika dihadapkan pada dua pilihan. Seperti saat akan bercerai dulu, Niko lebih memilih ibunya dari pada istrinya. Sementara dia tau sendiri bagaimana perlakuan ibunya terhadap istrinya. Ibunya sering memarahi istrinya di depan Niko dan Niko hanya diam saja tidak berani melawan ibunya meskipun yang dilakukan ibunya salah.


Widya yang tidak tahan dengan pernikahannya karena ibu mertuanya selalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya, akhirnya meminta untuk bercerai. Awalnya Niko tidak mau menceraikan Widya karena dia masih mencintai istrinya. Tapi Widya sudah tidak tahan dengan perlakuan ibu mertuanya.


Hampir setiap hari ibu mertuanya datang ke rumahnya dan selalu mengatur Widya. Awal retaknya rumah tangga Widya yaitu saat Widya mendapati bukti perselingkuhan suaminya dengan seorang wanita. Kemudian Widya menegur suaminya dan minta penjelasan dari suaminya, tapi bukan penjelasan yang diterima oleh Widya sebaliknya Widya dimarahi oleh ibu mertuanya dengan alasan Widya tidak dapat menjadi istri yang baik sehingga suaminya berselingkuh.


Masih teringat dalam pikiran Widya bagaimana perkataan ibu mertuanya pada saat itu.


“Kamu jangan hanya menyalahkan Niko saja, tapi kamu harus banyak intropeksi diri kenapa Niko berselingkuh. Itu semua karena kesalahan kamu,” jelas ibu mertuanya pada Widya.


“Tapi Bu, apa salah Widya sehingga mas Niko penghianati Widya. Widya selalu menuruti perkataan mas Niko, bahkan semua keperluan mas Niko, Widya persiapan sendiri baik makanannya dan pakaiannya. Jadi apa kurangnya Widya?” tanya Widya pada ibu mertuanya.


“Kamu tau kurangnya kamu di mana? Suami itu bukan hanya mengharapkan pelayanan, baik makanan ataupun kebutuhan lainnya tapi setidaknya suami itu senang melihat istrinya berpenampilan menarik,” jelas ibu mertuanya.


Widya merasa kesal dengan ucapan ibu mertuanya yang sepenuhnya menyalahkan dirinya, sementara Widya tau sendiri bagaimana kondisi ekonomi keluarga mereka. Suaminya selalu memberikan gaji pas-pasan sehingga gaji yang didapat dari suaminya hanya habis untuk buat belanja kebutuhan sehari-hari. Untuk membeli pakaian atau pun membeli bedak Widya tidak bisa karena gajinya sudah habis setiap bulannya. Akibatnya Widya tidak pernah bergaya bahkan untuk membeli lipstik aja Widya susah karena uang yang diberikan suaminya terbatas sementara ibu mertuanya menuntut dia untuk bergaya agar suaminya tidak berselingkuh.


Pernah suatu saat Widya meminta gaji lebih dari suaminya, tapi Niko bukannya memberi sebaliknya dia semakin marah dan mengatakan kalau Widya tidak bersyukur dengan gaji yang diterimanya setiap bulan.


Karena malah ribut akhirnya Widya selalu menerima apa adanya meskipun kebutuhan hidupnya semakin banyak Widya tetap diam. Karena sifat Widya yang selalu banyak mengalah akibatnya suaminya atau pun ibu mertuanya sering semena-mena padanya. Bahkan ibu mertuanya terang-terangan di depan Widya meminta uang pada Niko.


Widya yang tau agama bahwa sudah menjadi kewajiban Niko untuk membiayai hidup ibunya akhirnya Widya diam saja. Tapi yang sering dikesalkan Widya kalau ibu mertuanya minta uang pada suaminya, Niko selalu memberi tanpa ada bertanya untuk apa uang tersebut. Padahal ibu mertuanya sering menghabiskan uangnya untuk ikut arisan yang tidak terlalu penting. Sementara Widya sendiri yang merupakan istri Niko setiap bulannya uang belanjanya dijatah.

__ADS_1


__ADS_2