After Divorce

After Divorce
Mencari


__ADS_3

Setelah berpikir satu malam akhirnya Widya rencana pergi ke Jakarta untuk menemui Andre. Seperti biasa pagi-pagi dia sudah keluar dari rumah dengan membawa pakaian sehelai saja di dalam tas yang biasa digunakan saat kerja. Pakaian yang dikenakan juga seperti biasa tidak menunjukkan kalau akan pergi jauh. Setelah mengunci pintu rumahnya Widya duduk di teras menunggu go-jek yang dipesannya.


Sedangkan Wira sejak tadi sudah sampai di depan rumah Widya. Dia sengaja memarkirkan mobilnya tidak di depan rumah Widya tapi agak jauh lagi supaya tidak menimbulkan curiga pada orang yang ada di dekat situ.


Begitu melihat Widya keluar dari rumahnya, Wira langsung fokus memperhatikan Widya. Dia pura-pura memainkan ponselnya tapi mata dan perhatiannya tertuju pada Widya. Tidak lama kemudian go-jek yang dipesan Widya pun tiba dan Widya langsung berangkat.


Karena Widya berpenampilan seperti layaknya akan pergi kerja membuat Wira tidak curiga. Dia beranggapan bahwa Widya sedang berangkat kerja saja.


Begitu Widya sudah pergi Wira langsung menelepon Shinta.


“Hallo Wira, ada informasi apa?” tanya Shinta yang sepertinya baru bangun tidur.


“Saya mau memberi informasi terbaru Bu.”


“Informasi apa Wira?” tanya Shinta tidak sabar.


“Saya sekarang berada di depan rumah wanita itu Bu dan baru saja wanita itu pergi naik go-jek. Kemungkinan wanita itu berangkat kerja Bu,” jelas Wira.


“Kamu tau dari mana Wira kalau dia berangkat kerja. Bisa jadi dia pergi ke bandara.”


“Nggak mungkin Bu karena dari penampilannya saya melihat sendiri pakaian yang dikenakannya adalah pakaian kemeja dengan celana panjang hitam. Biasanya wanita itu pergi kerja memakai pakaian seperti itu. Dan tas yang dibawanya juga hanya tas kecil Bu yang biasanya di bawah saat akan kerja.”


“Oh gitu. Berarti dia tidak ke Jakarta ya.”


“Tidak Bu,” jawab Wira.


“Kalau memang dia ke Jakarta paling tidak dia berangkatnya semalam sore atau hari ini karena semalam sore suami saya udah selesai urusan kantornya.”


‘Kalau wanita itu tidak berangkat ke Jakarta mungkin saja mas Andre pergi jalan-jalannya dengan adik-adiknya yang ada di Jakarta. Mudah-mudahan aja seperti itu,’ batin Shinta.


“Saat pergi tadi bagaimana penampilannya Wira?” tanya Shinta lagi.


“Penampilannya seperti biasa dan tas yang digunakan juga tas yang biasa dipakainya kerja. Pokoknya Ibu jangan khawatir.”


“Ya udah kalau memang seperti. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih Wira atas informasinya. Kalau ada apa-apa cepat hubungi saya ya,” pinta Shinta.


“Baik Bu,” ucap Wira sambil menutup ponselnya.


Mendengar penjelasan dari Wira hati Shinta semakin tenang. Rasa khawatir terhadap suaminya langsung hilang begitu mendengar penjelasan Wira kalau Widya pergi kerja. Itu artinya Widya tidak ke Jakarta untuk menemui suaminya. Perasaannya langsung tenang mendengar informasi dari Wira.


***


Selesai menelepon Shinta, Wira berniat untuk kembali pulang tapi saat dalam perjalanan pulang dia berpikir sesaat. Dia langsung bingung sendiri. Memang barusan dia melihat kalau Widya pergi seperti mau berangkat kerja tapi dia masih ragu apakah Widya benar-benar pergi kerja.


Kemudian Wira memutar balik mobilnya dan dia langsung melajukan kendaraannya menuju tempat kerja Widya. Begitu masuk ke pusat perbelanjaan itu, Wira sengaja membeli rokok supaya teman Widya tidak curiga. Dia kemudian melirik ke kanan dan ke kiri mencari sosok Widya. Tapi setelah tidak menemukan sosok Widya, Wira merasa tidak tenang.


‘Jangan-jangan apa yang dikatakan bu Sinta benar bahwa wanita itu pergi ke bandara.’


Kemudian Wira membayar rokoknya di kasir sambil mengamati situasi yang ada di situ. Kebetulan saat itu belum ada pembelinya sehingga Wira berani bertanya pada kasir.


“Mbak, mbak Widyanya mana ya. Saya tidak lihat sejak tadi,” tanya Wira pura-pura berbasa-basi.


“Mas ini siapa ya, kok kenal dengan mbak Widya,” tanya kasir itu sambil memperhatikan Wira.


“Saya teman mantan suaminya Mbak,” jelas Wira bohong.


“Oh gitu. Mbak Widya-nya belum datang. Saya juga nggak tau apakah datang apa nggak karena semalam mbak Widya sakit. Mungkin mbak Widya terlambat lagi seperti semalam,” jelas Lilis petugas kasir.


Rika yang berada di dekat situ mendengar pembicaraan Wira dan Lilis langsung berkata.


“Mas mencari mbak Widya?” tanya Rika.


Wira langsung tersenyum.


“Saya bukan mau mencari mbak Widiya Mbak. Kebetulan saya di sini makanya saya tanya mbak Widya, karena saya kenal dengan mbak Widya, Mbak.”

__ADS_1


“Mbak Widya hari ini nggak masuk Mas.”


“Oh gitu. Ya udah kalau gitu terima kasih informasinya ya Mbak, saya permisi dulu,” ucap Wira langsung pergi.


Wira semakin bingung mendengar informasi dari temannya Widya. Kata temannya Widya, bahwa Widya tidak masuk hari ini tapi tadi Wira melihat sendiri Widya keluar dari rumahnya seperti akan berangkat kerja.


‘Atau jangan-jangan wanita itu ke bandara. Tapi mana mungkin dia ke bandara dengan berpakaian seperti itu. Tas yang dibawa juga nggak ada hanya tas kecil yang digantungkan di pundaknya. Mungkin juga wanita itu sedang pergi ke dokter karena kata temannya barusan wanita itu semalam sedang sakit. Aku yakin pasti wanita itu sedang pergi ke dokter.’


Wira yang merasa bingung dengan informasi ini langsung masuk ke mobilnya. Dalam perjalanan pulang ke rumahnya Wira terus berpikir. Dia merasa bingung sendiri antara yakin dan tidak yakin kalau Widya pergi ke bandara.


‘Dari pada aku bingung sendiri, lebih baik aku pergi ke bandara aja untuk memastikan.’


Wira kembali memutarbalikkan mobilnya menuju ke bandara. Dia langsung melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi supaya cepat sampai supaya bisa memastikan apakah Widya berangkat ke Jakarta atau tidak.


***


Begitu Widya sampai di bandara, dia hampir saja terlambat. Kemudian dia cepat-cepat check in dan langsung masuk ke pesawat. Ternyata semua penumpang sudah naik ke dalam pesawat dan Widya adalah penumpang terakhir yang masuk pesawat itu. Begitu Widya memasang sabuk pengamannya, pesawat pun langsung terbang menuju Jakarta.


***


Setelah memarkirkan mobilnya Wira setengah berlari masuk ke dalam bandara. Sampai di dalam dia berkeliling mencari sosok Widya. Sambil berjalan melirik ke kanan dan ke kiri mencari Widya apakah ada di situ. Sambil menembus keramaian oleh pengunjung Wira tetap fokus memperhatikan orang yang ada di sekelilingnya.


Kemudian Wira melihat dari lantai dua ke lantai satu tempat penumpang yang akan berangkat. Tapi dari kejauhan Wira tidak melihat Widya. Setiap ada orang yang berpakaian berwarna hijau seperti yang dipakai Widya tadi, Wira langsung mengamatinya. Tapi dia tidak menemukan Widya juga.


Kemudian Wira berdiri di dekat toilet wanita untuk mengamati orang yang keluar dari toilet itu. Tapi sudah lama Wira berdiri di dekat toilet itu, dia tetap tidak menemukan Widya juga.


***


Tempat Wisata


Akhirnya dengan rasa kecewa Wira pun kembali pulang. Setelah lelah berkeliling betisnya terasa sakit karena kebanyakan berjalan saat mencari Widya tadi.


‘Berarti wanita itu tidak pergi ke Jakarta. Kalau memang dia pergi ke Jakarta pasti aku tadi melihatnya. Semua orang yang berpakaian hijau sudah aku perhatikan betul-betul tapi tidak satu pun yang mirip dengan wanita itu,’ batin Wira.


***


Perjalanan dari Kualanamu ke Jakarta membutuhkan waktu dua jam. Tentu hal ini membuat Widya merasa bosan. Untuk menghilangkan rasa bosannya dia menyalakan tv yang ada di depannya. Tapi sudah hampir lima belas menit dia menonton tv itu, Widya tetap merasa bosan.


Widya kembali bingung dengan keputusannya untuk menemui Andre. Dia tiba-tiba merasa menyesal sendiri karena memenuhi permintaan Andre.


‘Pasti istrinya Andre akan marah besar kepadaku kalau mengetahui aku diam-diam menemui suaminya. Aku merasa seperti wanita murahan yang mau sama suami orang. Kenapa aku menyetujui aja permintaan Andre. Pasti semua orang menganggap aku wanita murahan yang gampang dirayu oleh pria lain.’


Timbul pergolakan di dalam jiwa Widya. Di satu sisi dia merasa malu karena diam-diam menemui Andre yang masih sah suami orang. Di sisi lain Widya merasa apa yang dilakukan tidak salah karena rumah tangga Andre sudah retak sebelum dia ketemu Andre.


Akhirnya karena bingung memikirkan kata hatinya, Widya langsung memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur agar pikirannya bisa tenang saat terbangun nanti. Dia sudah berusaha untuk menenangkan pikirannya dengan tidur tapi tidak bisa juga.


Akhirnya dia hanya melamun dan membayangkan kalau istrinya Andre mengetahui pertemuan ini.


‘Aku harus bersiap-siap dari sekarang seandainya istri Andre melabrak aku. Aku harus sudah mempersiapkan kata-kata yang akan aku ucapkan ketika istrinya Andre menemui aku dan marah-marah,’ batin Widya.


Tidak lama kemudian pesawat pun mendarat di bandara Soekarno Hatta. Semua penumpang sibuk dengan bawaannya sehingga saat Widya akan keluar pesawat harus menunggu penumpang menurunkan barang mereka dari bagasi yang ada di atas tempat duduk.


Jantung Widya tiba-tiba berdebar karena akan bertemu dengan Andre. Perasaannya seperti mudah kembali. Dia merasa grogi saat akan ketemu Andre. Widya langsung meletakkan tangannya di dadanya untuk merasakan getaran yang ada di jantungnya. Widya juga merasa heran sendiri.


‘Kenapa tiba-tiba jantungku berdetak sangat kencang.’


Kemudian dia menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan sambil berusaha untuk tetap tenang.


Setelah semua penumpang turun dari pesawat, Widya pun berjalan mengikuti penumpang yang lain. Dia berjalan paling belakang dengan penumpang lainnya. Semua penumpang sibuk membawa bawaannya termasuk tas dan cover, sedangkan Widya dengan santai berjalan karena dia tidak ada membawa tas atau pun koper. Dia hanya membawa tas yang berisi sehelai pakaian karena dia berencana besok akan pulang. Tas itu juga tidak terlalu besar sehingga digantungkan di lengan kirinya saja.


***


Saat akan keluar ruangan terlihat dari jauh Andre sambil tersenyum melambaikan tangan ke arah Widya. Widya hanya tersenyum melihat Andre. Tiba-tiba jantungnya berdetak sangat kencang saat melihat Andre.


‘Kenapa jantungku dag dig dug seperti ini,’ batin Widya sambil memegang dadanya dan dia berusaha untuk tenang.

__ADS_1


Widya langsung berjalan mendekati Andre. Begitu sudah dekat Andre langsung memeluknya erat membuat Widya pun terkejut. Getaran di dadanya semakin kencang.


“Terima kasih Sayang, kamu mau datang,” ucap Andre di telinga Widya.


Wajah Widya langsung merah padam menahan rasa malu pada orang di sekelilingnya. Kemudian Widya buru-buru melepaskan pelukan Andre. Dia langsung menundukkan kepalanya dan tidak mau bertatapan dengan Andre.


Andre kemudian menggenggam tangan Widya sambil berjalan menuju area parkir.


“Andre, lepaskan tanganku. Aku malu dilihat orang,” pinta Widya.


“Kenapa harus malu Widya. Di sini tidak ada orang yang mengenal kita.”


“Kalau ada yang mengenal kita gimana?” tanya Widya lagi.


“Ya nggak apa-apa karena aku nggak takut dengan semua ini Widya. Yang terpenting bagiku saat ini adalah aku bisa memilikimu,” ucap Andre sambil tersenyum menggoda.


“Andre, jangan pernah kamu ucapkan kata itu lagi. Aku tidak mau merusak rumah tangga kalian.”


Akhirnya Andre diam saja karena tidak mau berdebat di tempat umum seperti ini.


***


Begitu sampai di area parkir Andre langsung mempersilahkan Widya untuk masuk ke mobil. Kemudian Andre menyalakan mesin mobilnya.


“Andre, ini mobil siapa?” tanya Widya heran karena setau Widya bahwa Andre ke Jakarta naik pesawat.


“Ini mobil adik aku, Widya,” jawab Andre.


“Bukankah adik kamu Vera dan Lina,” ucap Widya sambil mengingat perkataan Andre saat kuliah dulu.


Memang Widya belum pernah ketemu dengan Vera atau pun Lina tapi Widya masih ingat perkataan Andre yang mengatakan dia mempunyai dua adik perempuan yang bernama Vera dan Lina.


“Kamu masih ingat ya Widya. Berarti kamu masih sering memikirkan aku donk,” goda Andre membuat Widya merasa malu sendiri.


“Ngapain pula aku memikirkan kamu, Andre.”


“Buktinya nama adik aku kamu masih ingat.”


“Kalau hanya sekedar nama ya pasti ingat Andre. Kamu kepedean kali sih Andre.”


Andre langsung tertawa mendengar ucapan Widya barusan.


“Kita mau pergi ke mana Andre?” tanya Widya saat mobil sudah bergerak.


“Nanti kamu akan tau sendiri. Aku akan membawa kamu di tempat yang aman.”


“Memangnya aku penjahat harus kamu bawa di tempat yang aman.”


Andre langsung tertawa mendengar gurauan Widya.


“Bukan gitu maksudnya Widya. Aku tau kamu pasti takut berduaan dengan aku. Kamu takut kalau ada orang yang mengenal kita. Makanya kamu aku bawa ke tempat di mana tidak ada orang yang mengenal kita,” jelas Andre meyakinkan Widya.


***


Setelah hampir setengah jam perjalanan mereka pun sampai di suatu tempat yang sangat indah.


“Ayo kita turun,” ajak Andre saat membukakan pintu mobil.


Widya langsung turun dari mobil. Saat Widya akan melangkahkan kakinya tiba-tiba tangannya digenggam oleh Andre membuat Widya terkejut. Widya berusaha untuk melepaskan genggaman Andre tapi Andre semakin mempererat genggamannya.


Akhirnya Widya diam saja. Keduanya pun berjalan di antara keramaian orang-orang yang ada di sekelilingnya.


Tempat yang didatangi mereka adalah tempat wisata yang sangat indah dan sejuk. Di tempat itu juga ada permainan khusus untuk anak-anak. Terlihat banyak orang tua yang membawa anaknya untuk bermain di tempat itu. Ada yang naik kereta api dan ada juga yang bermain mandi bola. Suasananya sangat ramai oleh anak-anak.


Widya dan Andre berjalan sambil berpegangan tangan. Keduanya sangat mesra. Widya hanya mengikuti Andre saja ke mana Andre melangkah. Kemudian Andre mengajak Widya ke tempat yang sunyi yang jauh dari keramaian.

__ADS_1


__ADS_2