
Jia dan Rayden mengantar Ina dan Sean hingga sampai di teras rumah, mereka terus disana sampai akhirnya mobil Sean keluar dari halaman rumah.
"Mommy, kemana Ina dan Om Sean pergi?" tanya Rayden, yang dia tau kedua orang itu pergi kencan. Tapi kencan bukan nama tempat, jadi sedikit bingung.
"Ke taman kota sayang, sama seperti kita piknik kemarin."
"Wah enak sekali, tau begitu Rayden ikut."
"Kapan-kapan kita pergi lagi, kalau baby Aleia sudah cukup besar."
"Janji?"
"Iya."
Ibu dan Anak ini kemudian masuk, menemui sang ayah yang berada di ruang tengah.
Saat itu baby Aleia sudah tertidur, Alex sedang memberikan sang anak pada Asni untuk ditidurkan di kamar baby Aleia. Jia dan Rayden mencium bayi mungil yang sudah tertidur itu sebelum akhirnya Asna membawanya naik ke lantai 2.
"Ina dan Sean sudah pergi?" tanya Alex dan Jia mengangguk.
"Rayden mau tidur bersama daddy?" tanya Alex pada sang anak.
"Bagaimana kalau kita tidur bertiga?" tawar Rayden pula.
"Oke." dan Jia yang menjawab dengan antusias. Maski ada baby Aleia, tapi perhatian mereka berdua pada Rayden tidak berkurang sedikit pun. Apalagi Rayden lebih peka perasaanya. .Di awal-awal baby Aleia pulang bahkan Rayden mengatakan jika mommy dan daddy mungkin tidak akan menyayangi dia lagi.
__ADS_1
Saat itu Alex dan Jia langsung memeluk anaknya erat, memberikan jawaban dengan tindakan. Yang namanya orang tua tidak akan ada yang membeda-bedakan anak.
Siang itu, Alex, Jia dan Rayden tidur bersama. Rayden berbaring di tengah diantara mommy dan daddynya. Mereka tidur di kamar Rayden.
Jia mengelus punggung sang anak dengan sayang, hingga lambat laun Rayden terlelap.
Jia terus menatap lekat wajah Rayden, sementara Alex terus menatap lekat wajah Jia.
"Mom, i love you," ucap Alex, sebuah ucapan yang membuat Jia langsung menatap dia dengan tatapan curiga. Tiba-tiba mengatakan cinta.
"Kenapa? apa Daddy melakukan kesalahan?" tanya Jia, membuat Alex langsung tersenyum.
"Tidak Mom, daddy tidak melakukan kesalah apapun. Memang ingin mengatakan cinta pada mommy."
"Karena mommy sudah melahirkan Rayden dan baby Aleia, juga anak-anak kita selanjutnya."
Jia mengulum senyum.
"Kalau begitu daddy harus semangat kerja, jangan main dengan baby Aleia terus."
"Kan daddy kerjanya di rumah Mom."
"Kata Sean ada proyek yang harus daddy lihat, tapi daddy tetap tidak pergi. Jangan begitu, kasihan Tim daddy yang lain."
Alex terdiam, mendapatkan bayi perempuan membuatnya dia sangat bahagia, dia selalu ingin dekat dengan baby Aleia.
__ADS_1
Tapi ternyata, malah di marahi Jia.
"Baiklah Mom, besok daddy mulai masuk kerja."
Jia tersenyum, satu tangannya terulur mengelus wajah sang suami dan Alex menahan tangan itu lalu mengecupnya.
Hari berlalu.
Alex benar-benar pergi bekerja hari ini. Dibantu Jia memasangkan Dasi. Rasanya pun sudah lama Jia tidak melihat suaminya memakai setelan jas seperti ini. Terlihat sangat tampan.
"Daddy tampan sekali, apa sebaiknya jangan pergi ya?" ucap Jia, yang mulai tidak ikhlas suaminya pergi karena terlalu tampan. Bagaimana jika wanita-wanita diluar sana menikmati ketampanan suaminya.
"Mom, jangan plin plan. Ini mommy lo yang suruh daddy kerja."
Jia mencebik.
"Tapi Daddy tampan sekali, nanti pasti banyak wanita yang mendekati."
"Daddy tidak peduli, daddy hanya tergila-gila pada mommy."
Setelah mengatakan itu Alex langsung menarik pinggang Jia, juga menahan tengkuk Jia dan menjatuhkan sebuah ciuman dalam di bibir sang istri. Tidak hanya ciuman, tangan Alex pun bergerak aktif memberikan rangsangan di kedua dada sang istri. Hingga dada Jia menegang dan meneteskan air asi nya.
Bibir Jia mendesaah namun Alex segera menutupnya dengan ciuman.
Pagi yang panas sebelum akhirnya mereka berpisah.
__ADS_1