
Setelah penyatuan berulang mereka, kini Alex dan Jia seolah tidak memiliki jarak lagi. Tidak ada lagi kata canggung bagi keduanya untuk menunjukkan perhatian, untuk memberikan sentuhan dan untuk membicarakan apapun.
Mereka bahkan memutuskan untuk mandi bersama, saling memeluk di dalam bathtub yang dipenuhi oleh busa.
Lalu saat menjelang makan malam, alex dan Jia mendatangi kamar sang anak. Saat itu Rayden masih asik dengan mainan-mainan baru nya.
"Mommy! Daddy!" teriak Rayden ketika melihat kedua orang tua nya masuk. Ina pun sedikit menyingkir, memberi jarak keluarga kecil ini untuk berkumpul.
"Mommy dan Daddy sudah bertengkar nya?" tanya Rayden dengan menatap ayah dan ibu nya secara bergilir. Menatap penuh harap, berharap sang daddy berhenti menghukum Mommy nya.
Namun Alex dan Jia yang mendengar pertanyaan itu mengerutkan kening.
Bertengkar?
Tapi belum sempat salah satu diantara mereka menjawab, Rayden kembali buka suara.
"Kata Oma mommy kalah taruhan dan Daddy menghukum mommy, kalian jadi bertengkar. Tapi kata Ina Mommy dan Daddy sedang membuat adik untuk Rayden. Jadi yang mana yang benar?"
Ina yang namanya disebut langsung menunduk, takut. Tapi sungguh baik Alex ataupun Jia tidak ada yang mempermasalahkan hal itu. Salah mereka memang karena terlalu lama mengurung diri di dalam kamar, jadi semua orang bingung untuk mencari alasan.
"Mommy dan Daddy sudah tidak bertengkar lagi, hukuman mommy juga sudah selesai, jadi ayo kita makan malam," ajak Jia, memilih mengikuti pemikiran sang anak.
Tapi Alex yang mendengar itu tidak terima, malam masih pajang dan hukuman akan terus berlanjut.
"Kata siapa hukumannya selesai? nanti malam bagaimana?" bisik Alex pada sang istri, namun Jia menanggapinya dengan sebuah cubitan keras di pinggang. Membuat Alex meringis menahan pedih, namun kemudian dia mengulum senyum.
Setelahnya mereka semua turun ke lantai 1 untuk makan malam, Sofia sudah menunggu disana.
Malam ini suasana di meja makan begitu hangat. Selesai makan malam, Sofia bahkan mengatakan sekali lagi kepada Jia tentang permintaan maafnya perihal masa lalu. Dan Jia menjawab Iya dengan memeluk sang mertua erat.
__ADS_1
Jia sungguh sudah memaafkan Sofia, bagi Jia satu pelukan tulus yang diberikan oleh Sofia sudah mampu menyembuhkan semua luka.
Selepas makan malam, kini Alex, Jia dan Rayden duduk di kursi taman yang berada di halaman ruang tengah. Dinding kaca di ruang itu bisa digeser dan dibuka, mereka bertiga duduk disana dan menikmati semilir angin malam.
Alex memangku Rayden dan satu tangannya menggenggam erat tangan sang istri. Memiliki Rayden dan Jia, Alex merasa sudah menggenggam dunia.
"Dad?" panggil Rayden.
"Apa sayang?"
"Apa Daddy dan Mommy akan memberikan Rayden seorang adik?"
"Rencananya begitu, Rayden mau tidak?"
Rayden nampak berpikir, menimang nimang bagaimana baiknya. Jika dia memiliki adik pasti akan seru karena dia jadi punya teman bermain, tapi Rayden juga takut kasih sayang mommy dan daddy padanya akan berkurang.
Jia terus memperhatikan interaksi keduanya.
"Entahlah, Rayden ragu, kadang mau kadang tidak mau."
"Kenapa begitu?"
"Nanti mommy dan Daddy tidak menyayangi Rayden lagi."
"Iiss, siapa yang bilang begitu? kasih sayang orang tua pada semua anaknya itu sama, tidak ada pembeda."
"Benarkah?"
"Tentu saja, seperti Rayden yang menyayangi mommy dan Daddy, dua-duanya Rayden sayang kan? tidak ada pilih-pilih."
__ADS_1
Rayden mengangguk, membenarkan.
Mereka terus berbincang hingga akhirnya Rayden terlelap di dalam dekapan sang ayah.
Tapi Alex dan Jia masih betah duduk disana.
"Mommy," panggil Alex lembut.
"Iya Dad, apa?"
"Aku ingin kita punya banyak anak. Kamu tau apa alasannya?"
"Kenapa? Bukan hanya karena ingin?"
Alex menggeleng.
"Aku sangat takut kehilangan mommy, jadi aku akan mengikat mommy dengan memiliki banyak anak dariku."
Jia tidak menjawab apa-apa, hanya sedikit mendengus dan memeluk suaminya.
Tentang masa depan memang tidak ada yang bisa menebak jadi seperti apa. Ketakutan kembali kehilangan juga sempat mengusik hati Jia.
Tapi dia sudah lelah berpikir, sudah lelah bergelut dengan kesedihan. Jadi Jia hanya ingin menikmati semuanya.
"Dad?"
"Iya Mom, apa?"
"Mommy sangat mencintai Daddy."
__ADS_1
"Kalau begitu cium."
Jia mendongak, dan saat itu Alex langsung menyambutnya dengan sebuah ciuman dalam. Mereka akan terus saling mencium, sampai keduanya sama-sama yakin jika diantara mereka tidak akan ada lagi yang saling meninggalkan.