
[“Kalau kamu mau dihargai oleh seseorang, sebaiknya kamu hargai orang lain dulu.”]
[“Maksud Mas apa sih.”]
[“Kan udah aku katakan, aku udah mencabut tuntutan terhadap anak itu.”]
[“Kenapa Mas cabut.”]
[“Pertimbanganku karena anak itu masih di bawah umur.”]
[“Berarti hanya karena dibawa umur kamu mencabut tuntutan itu. Kalau seperti itu kedepannya akan semakin banyak anak di bawah umur yang melakukan tindakan kekerasan.”]
[“Perlu aku ingatkan sama kamu. Kamu jangan terlalu memanjakan Bastian sehingga Bastian selalu merendahkan anak lain dan dia selalu semena-mena terhadap teman di kelasnya.”]
[“Jadi Mas menyalakan aku!”]
[“Semua ini karena didikan kamu yang selalu memanjakan Bastian. Semua keinginan Bastian selalu kamu turuti, bahkan ketika Bastian berbicara bohong kamu selalu mempercayainya.”]
[“Maksud Mas bohong gimana?”]
[“Semalam saat aku introgasi terlihat Bastian banyak bohong untuk menutupi kesalahannya dan kamu jangan hanya menyalahkan anak orang, tapi kamu lihat sendiri anak kamu gimana. Gimana kelakuan Bastian harus kamu perhatikan. Makanya mulai sekarang kamu harus sering berikan perhatianmu pada Bastian.”]
[“Mas, aku yang melahirkan Bastian jadi aku lebih tau gimana kepribadian anak kita.”]
[“Ya udah kalau memang kamu lebih paham dengan kepribadian anak kita. Sekarang kamu jangan melibatkan aku dalam masalah Bastian. Kamu urus sendiri aja dia.”]
Andre yang merasa kesal langsung menutup pembicaraannya membuat Shinta merasa sangat kesal dan kecewa.
‘Ingat mas, aku akan melakukan sendiri apa yang kuinginkan,’ batin Shinta.
Shinta yang sudah emosi langsung menelpon kembali bapak kepala sekolah.
[“Hallo, Assalamualaikum Bu.”]
[“Waalaikumsalam Pak. Pak besok saya ingin ketemu dengan orang tua Noval kira-kira jam sepuluh pagi ya.”]
[“Ada apa ya Bu?”] tanya bapak kepala sekolah heran.
__ADS_1
[“Saya tidak bersedia mencabut tuntutan saya terhadap anak itu Pak, jadi saya besok mau orang tuanya datang ke sekolah menemui saya.”]
[“Tapi pak Andre sudah mencabutnya Bu.”]
[“Masalah Bastian ada di tangan saya Pak, bukan di tangan papinya.”]
Bapak kepala sekolah yang mendapat tekanan dari Shinta selaku pemegang modal di pesantren ini tidak dapat berbuat banyak karena dia tau modal pesantren sebagian besar dimiliki oleh ayahnya Shinta atau kakeknya Bastian, sehingga apa yang dikatakan Shinta, bapak kepala sekolah nurut saja karena dia tidak mau menanggung resikonya. Kalau kemauan Shinta tidak dituruti dikhawatirkan kakeknya Bastian akan marah dan mencabut bantuannya setiap bulan. Sebagian besar guru-guru pesantren tau bahwa berdirinya pesantren ini karena peran besar dari kakeknya Bastian.
***
Widya yang mendapat telepon dari wali kelas Noval merasa tidak tenang, apalagi wali kelas Noval yaitu ustadzah Tami telah mengatakan pada Widya bahwa maminya Bastian tidak jadi mencabut tuntutannya.
“Mbak Widya kenapa, saya lihat sejak tadi murung aja,” tanya Rika yang merupakan rekan kerjanya.
Widya langsung menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.
“Mbak sedang bingung Ka,” jawab Rika singkat.
“Bingung kenapa Mbak. Cerita donk mana tau aku bisa bantu.”
“Semalam Mbak dipanggil wali kelas Noval dan ketika Mbak sampai sana papinya Bastian mencabut tuntutannya. Tapi barusan Mbak ditelepon oleh wali kelas Noval dan mengatakan bahwa maminya Bastian tidak jadi mencabut tuntutannya,” jelas Widya.
“Noval menendang kakinya Bastian dengan kursi sehingga kakinya robek dan harus dijahit.”
“Kalau Noval melakukan hal itu tentukan ada alasannya Mbak.”
“Menurut cerita Noval, Noval sudah sering kesal dibuat Bastian. Bastian sering mengejeknya dan merendahkannya sehingga semalam itu Noval sudah tidak tahan sehingga emosinya langsung meluap dan kaki Bastian ditendang dengan kaki kursi.”
“Berarti semalam masalahnya sudah selesai donk Mbak.”
“Ya iya karena papinya Bastian sudah memaafkan Noval, tapi barusan kata wali kelasnya, maminya Bastian marah-marah dan tidak jadi membatalkan tuntutannya. Mbak sekarang bingung harus berbuat apa Ka.”
Rika langsung mendekati Widya dan mengelus pundak wanita itu.
“Mbak yang sabar ya, mudah-mudahan masalah ini cepat selesai.”
“Terima kasih Ka.”
__ADS_1
“Kalau saran aku ya Mbak, gimana kalau Mbak tanya langsung sama papinya Bastian. Semalam papinya Bastian memaafkan Noval tapi kenapa sekarang maminya yang menuntut. Jangan-jangan papinya Bastian nggak tau kalau istrinya yang telah merencanakan ini.”
“Entahlah Ka. Mbak juga bingung. Mungkin papinya Bastian nggak bisa berbuat apa-apa karena pemilik modal pesantren itu adalah milik keluarga Bastian.”
“Maksud Mbak, kakeknya Bastian?”
“Iya, kakeknya orang kaya selain memiliki perusahaan yang sekarang dikelola oleh papinya Bastian juga memiliki pesantren itu.”
“Oh gitu. Pantas saja maminya Bastian sepertinya berkuasa. Kasihan juga ya kalau gitu papinya Bastian.”
Widya yang mendengar ucapan Rika merasa prihatin terhadap Andre. ‘Apa yang dikatakan Rika benar. Kasihan juga Andre, dia tidak bisa berbuat banyak karena kekayaan yang dimiliki adalah milik istrinya. Pantas saja Andre tidak bisa berbuat apa-apa.’
***
Keesokan paginya Widya tidak masuk kerja lagi karena dia harus pergi ke pesantren. Setelah naik bus angkutan pertama Widya turun di terminal dan dari terminal dia harus naik becak untuk menuju ke pesantren Noval.
Widya yang terburu-buru dari rumah tidak memperdulikan lagi penampilannya karena dia tidak mau sampai terlambat sampai di pesantren sehingga penampilannya apa adanya.
Begitu sampai depan ruang kepala sekolah dada Widya berdetak sangat kencang menahan rasa takut karena akan bertemu dengan maminya Bastian.
‘Kenapa maminya Bastian membatalkan tuntutannya pada Noval, atau jangan-jangan maminya Bastian tau kalau semalam aku tidur di penginapan bersama suaminya,’ batin Widya takut.
Widya sempat berdiri sesaat sambil menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan ketika akan mengetuk pintu ruang kepala sekolah. Kemudian diketuknya pintu itu dengan perasaan takut.
“Tok, tok.... Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam, silakan masuk...” Terdengar sahutan dari dalam sehingga Widya langsung membuka pintu dan masuk ke dalam.
“Ceklek...”
Terlihat di ruang kepala sekolah ada maminya Bastian yang sedang menatap sinis ke arah Widya. Widya langsung tersenyum pada bapak kepala sekolah dan maminya Bastian.
“Maaf Pak, Bu kalau saya terlambat,” ucap Widya pelan.
“Silakan duduk Bu,” ucap bapak kepala sekolah ramah.
Dengan perasaan gemetar Widya duduk tepat di depan maminya Bastian. Walaupun jantungnya berdetak kencang tapi Widya berusaha untuk menenangkan diri.
__ADS_1
‘Ya Allah, berilah kekuatan padaku dalam menghadapi masalah ini,’ batin Widya dalam hati.
Walaupun perasaannya sangat takut dan sedih tapi Widya berusaha untuk tetap tegar. Setelah Widya duduk, ketiganya pun masih terdiam. Maminya Bastian terlihat memandang wajah Widya dengan tatapan tajam sementara Widya hanya menundukkan kepalanya. Dia tidak berani untuk menatap maminya Bastian karena terlihat maminya Bastian sangat marah sehingga Widya hanya banyak menundukkan kepala sembari berdoa minta diberi kekuatan.