
Andre yang masih kesal dengan Shinta akhirnya istirahat di ruang kerjanya. Dia rebahan di sofa dan tidak lama kemudian dia pun tertidur pulas. Sedangkan Shinta yang merasa kesal dan marah pada sikap suaminya yang sangat cuek langsung meluapkan emosinya dengan membanting semua peralatan make up nya yang ada di depan meja rias. Peralatan make up yang tidak bersalah pun menjadi sasarannya, sehingga semua peralatan make up itu hancur lebur jatuh ke lantai.
Bi Ijah yang sedang berada di dapur merasa terkejut dan ketakutan mendengar Shinta mengamuk di dalam kamarnya. Tidak lama kemudian Bastian pun keluar dari kamarnya dan menghampiri bi Ijah.
“Mami kenapa Bi?” tanya Bastian yang baru muncul di dapur.
“Bibi juga nggak tau,” jelas bi Ijah.
Terlihat Bastian juga takut mendengar kemarahan maminya.
“Pasti mami dan papi sedang bertengkar ya Bi.”
“Mungkin juga Bastian, tapi bibi nggak denger suara papi kamu. Bibi hanya mendengar suara mami kamu yang marah-marah di dalam kamar. Memangnya kenapa ya Bastian, padahal kalian baru pulang dari taman bunga tadi,” tanya bi Ijah heran.
“Waktu perjalanan pulang tadi mami memang sudah marah-marah di dalam mobil tapi Bastian nggak tau di alasannya apa. Tapi sepertinya mami cemburu dengan papi karena papi sepertinya punya pacar Bi,” jelas Bastian polos.
“Punya pacar?”
Bastian menganggukkan kepalanya.
“Dari mana kamu tau kalau papi kamu punya pacar?” tanya bi Ijah tidak percaya.
“Ya dari mami sendiri. Mami kan tadi marah-marah.”
“Tapi bibi nggak percaya Bastian. Papi kamu itu orangnya baik, setia dan jujur lagi. Mana mungkin dia punya pacar.”
“Ya mungkin aja Bi. Bibi kan nggak tau siapa pacarnya.”
“Memangnya kamu tau siapa pacarnya?”
“Pacarnya papi adalah ibunya Noval, Bi.”
“Siapa itu Noval? Apa kamu mengenalnya?”
“Ya kenal Bi. Noval itu adalah teman sekelas Bastian yang telah mencelakai Bastian, Bi.”
“Kamu ada-ada aja Bastian. Bibi nggak percaya.”
“Terserah deh kalau Bibi nggak percaya.”
Tidak lama kemudian ayahnya Shinta turun dari tangga menuju ke ruang samping. Tapi begitu mendengar suara ribut di kamar Shinta, ayahnya Shinta langsung terkejut dan menghampiri bi Ijah dan Bastian yang sedang berdiri mendengarkan keributan di kamar Shinta.
“Bastian, ada apa di kamar mami kamu?” tanya Opanya Bastian.
“Nggak tau Opa. Barusan Bastian dengar mami marah-marah di kamar dan sepertinya mami sedang bertengkar dengan papi.”
__ADS_1
Mendengar penjelasan cucunya pak Husin yang merupakan ayahnya Shinta langsung menuju ke kamar putrinya dan mengetuk pintu itu.
“Tok, tok....”
Karena tidak mendapat sahutan dari dalam kamar akhirnya pak Husin membuka pintu kamar itu. Terlihat Shinta duduk di pinggir ranjang sambil menangis sedangkan di lantai berserakan peralatan kosmetik Shinta. Pak Husin merasa heran melihat kamar putrinya berserakan dan Shinta sedang menangis.
“Ada apa Shinta, apa yang sudah terjadi dengan kamu?” tanya ayahnya.
Shinta hanya diam saja sehingga pak Husin mendekati putrinya. Sambil terisak-isak Shinta yang merasa kesal dengan sikap Andre akhirnya menjelaskan pada ayahnya kalau tadi Shinta melihat sendiri suaminya duduk dengan Widya yang merupakan mantan kekasihnya.
Begitu mendengar penjelasan Shinta, emosi pak Husin langsung meluap.
“Mana sekarang Andre, Sinta?” tanya ayahnya dengan ada marah.
Shinta yang mendengar ayahnya tersulut emosi merasa takut sendiri. Dia takut dan kasihan pada Andre kalau ayahnya sampai memarahinya. Karena Shinta tau sendiri bagaimana tempramen ayahnya kalau sudah marah tidak dapat dikendalikan. Shinta langsung menggelengkan kepalanya mengatakan kalau tidak tau di mana Andre.
‘Bi Ijah.... Bi Ijah...” panggil pak Husin pada pembantunya.
Bi Ijah yang mendengar suara pak Husin memanggilnya langsung berlari terbirit-birit dan masuk ke kamar Shinta.
“Ada apa Pak?”
“Coba Bibi panggilkan Andre. Mungkin dia ada di ruang kerjanya.”
“Tok, tok....”
Setelah pintu diketuk tidak ada sahutan dari dalam, kemudian bi Ijah mengetuk sekali lagi dan baru terdengar sahutan dari dalam.
“Masuk....”
Bi Ijah langsung membuka pintu itu dan masuk ke dalam. Terlihat Andre sedang rebahan di sofa dan dan sepertinya Andre baru saja terbangun dari tidurnya.
“Ada apa Bi?” tanya Andre dengan suara malas.
“Bapak dipanggil sama opa Bastian.”
“Ayah sekarang di mana Bi?” tanya Andre yang masih setengah sadar karena baru terbangun dari tidurnya.
“Opa Bastian sekarang berada di kamar Bapak.”
“Di kamar saya? Memangnya ada apa Bi?”
“Tadi bu Shinta marah-marah dan perabotan di dalam kamar dicampakkan semua.”
“Apa, dia marah?” Andre langsung melompat dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Dia baru ingat saat akan masuk ke ruang kerjanya dia sedang bertengkar dengan istrinya. Buru-buru Andre keluar ruang kerja dan menuju ke kamarnya. Begitu masuk ke kamarnya Andre langsung terkejut melihat kamarnya sudah seperti kapal pecah karena peralatan make up up Sinta berserakan di lantai. Begitu juga dengan bantal dan selimut semua sudah berserakkan di lantai.
Begitu melihat kedatangan Andre, pak Husin langsung meluapkan amarahnya.
“Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Shinta, Ndri?”
Dengan tenang Andre pun menjawab pertanyaan mertuanya.
“Ayah tanya aja sendiri sama Shinta, apa yang sudah dia lakukan tadi.”
Mendengar jawaban menantunya yang sangat cuek, pak Husin merasa heran. Karena tidak biasanya Andre bersikap cuek seperti itu saat menjawab pertanyaan mertuanya. Apalagi pak Husin sedang marah seperti ini. Andre sepertinya tidak merasa takut.
“Karena Shinta tidak menjawab makanya ayah bertanya sama kamu Ndre.”
“Shinta, sekarang kamu jelaskan dari awal sama ayah.”
“Ayah mau penjelasan itu dari mulut kamu Ndre, bukan dari Shinta,” ucap ayah mertuanya.
“Yang menyebabkan masalah ini kan Shinta, Yah. Bukan Andre makanya biar Shinta yang menjelaskan.”
Akhirnya pak Husin langsung melihat ke arah putrinya.
“Coba kamu jelaskan Shinta, apa permasalahan kalian.”
Akhirnya Shinta pun menjelaskan pada ayahnya kalau tadi dia melihat suaminya duduk berdua bersama mantan kekasihnya.
“Oh, jadi seperti itu masalahnya. Kamu sepertinya tidak tau malu ya Ndre,” ucap pak Husin.
“Tidak tahu malu gimana Ayah?” tanya Andre heran.
“Tadi kata Shinta kamu duduk berdua dengan mantan kekasih kamu dan Shinta melihatnya sendiri. Bukankah itu berarti kamu tidak tau malu, sudah salah tapi tidak merasa bersalah.”
Andre langsung tersenyum sinis mendengar ucapan ayah mertuanya.
“Ayah hanya percaya dari ucapan Shinta tapi kan Ayah tidak tau masalah yang sebenarnya. Memang tadi Andre ada duduk di samping Widya, tapi Andre baru saja duduk. Tadi saat Andre balik dari toilet melihat Widya dan Andre menghampirinya. Widya sedang duduk sendiri jadi kan nggak salah kalau Andre langsung duduk di sampingnya. Tiba-tiba Shinta datang dan marah-marah sehingga orang di sekeliling itu memperhatikan kami. Coba Ayah bayangkan sendiri. Apakah itu salah?”
“Ya jelas salah,” jawab pak Husin membela putrinya.
“Salahnya di mana Yah. Andre hanya menegur Widya. Apa nggak boleh Andre menegur sapa teman-lama Andre?”
Mendengar penjelasan Andre, Shinta langsung buka suara.
“Nggak mungkin Mas ketemu secara kebetulan. Pasti Mas sudah merencanakan dan sudah janjian sama perempuan itu,” ucap Shinta.
Andre yang malas berdebat akhirnya diam saja. Dengan tenang dia duduk sambil memperhatikan istrinya yang sedang menjelaskan pada ayah mertuanya
__ADS_1