After Divorce

After Divorce
AD BAB 62 - Serangan Mendadak


__ADS_3

"Mama!" pekik Jia, saat menyadari jika yang terluka adalah punggung Sofia.


Wanita paruh baya ini menarik Jia, melindungi Jia hingga membuat punggungnya yang tersayat benda tajam itu.


Darah mulai mengalir membanjiri baju yang Sofia pakai, dia meringis merasakan pedih.


Sementara Amora langsung gemetar dan menjatuhkan senjata yang dia pegang. Namun belum sempat lari untuk kabur, tubuhnya sudah lebih dulu dibekuk oleh supir Sofia.


"Mama," lirih Jia, air mata yang Sedari tadi dia tahan, kini akhirnya jatuh juga.


"Ayo kita ke rumah sakit!" ucap Jia dengan suaranya yang bergetar dan takut.


Jia tidak bisa mengendarai mobil, hingga dia berlari ke jalanan dan berteriak meminta bantuan pada siapapun.


Tidak ada taksi, namun ada beberapa orang baik yang bersedia membantu.


Sofia hanya menurut saat mantan menantunya membimbing dia masuk ke dalam sebuah mobil yang entah punya siapa. Dia hanya mampu terpejam, merasakan pedih yang mulai menjalar di seluruh tubuh.


Sementara supir Sofia segera menghubungi kantor polisi dan tidak sedikit pun menyentuh barang bukti.


"Ma, maafkan aku," lirih Jia diantara tangis yang semakin deras.


Sofia tidak menjawab apa-apa, hanya meringkuk di dalam dekapan Jia.

__ADS_1


Semenjak kedatangan Amora kemarin, dia jadi terpikirkan akan nasib Jia. Sofia mulai takut jika Amora sampai mencelakai mantan menantunya ini.


Bayangan-bayangan buruk pun mulai menghantui, membayangkan Jia yang terluka. Tangis Rayden yang tidak akan terhenti dan kecemasan Alex yang tidak berujung.


Sofia semakin sering mengawasi rumah Jia, bahkan siang malam dia terus duduk di dalam mobil dan memperhatikan rumah kosong itu.


Dan tadi dia sedikit terlambat datang, sekuat tenaga dia berlari dan menarik Jia saat Amora mengibaskan senjata tajam.


15 menit perjalanan dan akhirnya mereka sampai di rumah sakit terdekat. Berulang kali Jia mengucapkan terima kasih pada seseorang yang membantunya barusan. Jia memberikan semua uang yang ada di dalam dompetnya dan memberikannya pada orang itu.


Lalu segera memapah Sofia untuk masuk ke dalam rumah sakit dan mendapatkan penanganan.


"Tolong Mama saya Suster, tolong segera ditangani!" pinta Jia, penuh permohonan.


Sedangkan Jia tetap di luar dan menunggu dengan cemas. Dia kulu kilir tidak tenang, dan terhenti saat merasakan ponselnya bergetar.


Dilihatnya ponsel itu dan ada panggilan masuk dari Alex. Tangis Jia semakin pecah, dengan segera dia mengangkatnya.


"Al_"


"Rumah sakit mana? aku akan kesana sekarang."


"Rumah sakit Hanna Claire."

__ADS_1


"Jangan menangis, aku akan kesana."


"Maafkan aku Al."


"Semuanya akan baik-baik saja."


Panggilan itu terputus, Jia terduduk di kursi dan kembali menangis, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Merasa bersalah yang sangat dalam.


Jia sangat yakin, Jika Alex akan sangat marah padanya. Apa lagi jika melihat Sofia yang terluka.


Tapi ini memang semua kesalahannya. Jia terus menyalahkan diri sendirian, terus bertanya kenapa tidak dia saja yang terluka.


Sementara di ujung sana Alex segera menemui Jia, tadi supir Sofia memberinya kabar tentang ini semua.


"Sean kemudikan mobil mu dengan cepat!"


"Baik Tuan."


10 menit waktu yang mereka butuhkan hingga kini akhirnya sampai di rumah sakit dan menemui Jia.


Alex mempercepat langkah, derap kakinya membuat Jia menoleh dan bangkit. Alex melihat dengan jelas, beberapa bercak darah di baju dan lengan Jia.


"Al ..." lirih Jia, namun belum sempat dia berucap, Alex sudah lebih dulu mendekapnya erat.

__ADS_1


__ADS_2