
"Terima kasih Niel, hati-hati," ucap Jia pada Daniel dan setelahnya dia turun dan berlindung di bawah payung milik Alex.
Sementara Daniel hanya terpaku, merasakan hatinya yang tiba-tiba sesak.
"Jadi seperti ini rasanya cemburu," gumam Daniel. Pintu mobil itu sudah ditutup oleh Alex, namun dia masih terus memperhatikan keduanya dari dalam mobil ini.
Melihat dengan jelas, Alex yang lebih banyak memberi payung Jia hingga satu bahunya basah, karena hujan turun dengan semaunya.
"Jalan," ucap Daniel dan mobil itu pun segera melaju meninggalkan halaman rumah Sofia.
"Jangan terlalu banyak memberiku payung, lihat tanganmu basah," ucap Jia, dia ikut memegang payung dan memggesernya ke arah Alex, ingin mereka sama-sama terlindung di bawah payung ini dengan porsi yang sama.
"Bukan begitu caranya," tolak Alex.
"Lalu?"
"Seperti ini." Alex lantas menarik pinggang Jia, membawanya lebih dekat. Sementara Jia langsung terkekeh, dia memukul dada Alex pelan.
"Apa yang terjadi? kenapa datang terlambat?"
"Ada kecelakaan dari arah kantorku, jalanan jadi semakin macet."
"Kamu baik-baik saja?"
Alex mengangguk dan mereka tiba di teras rumah Sofia.
Meletakkan payung basah itu disana dan mengantar Jia hingga berdiri persis di depan pintu rumah.
"Masuklah, aku akan langsung pulang," ucap Alex.
__ADS_1
Namun entah kenapa Jia tidak suka mendengar ucapan itu, masih ada rindu yang belum ia tuntaskan. Pertemuan ini terlalu singkat.
"Kenapa tidak masuk dulu?" tanya Jia dengan tatapan yang penuh harap.
Tapi sungguh, Alex masih enggan untuk kembali ke rumah ini. Jika Jia bisa dengan mudah memaafkan Sofia, maka tidak dengan dia.
Kembali ke rumah ini sama saja dia melupakan 5 tahun hidupnya yang dipermainkan oleh sang ibu, dan Alex belum bisa melakukan itu.
"Baju mu basah, setidaknya ganti baju dulu." timpal Jia lagi.
Di kamar mereka dulu, baju mereka berdua masih tersusun dengan rapi, Sofia bahkan membeli beberapa baju baru pula untuk Alex. Berharap kelak anaknya akan kembali.
Namun belum sempat Alex kembali menolak, pintu rumah itu terbuka. Penjaga keamanan menelpon rumah dan mengatakan jika Jia sudah sampai.
Sofia dengan segera membuka kan pintu, dia yang sedari tadi cemas Jia akan kehujanan.
Sedikit terkejut dan langsung bahagia melihat ada Alex disini.
Dia bahkan menarik tangan Alex untuk masuk, namun tubuh Anaknya ini tertahan, membuat Sofia langsung menghentikan langkah dan melepaskan tangan Alex secara perlahan.
Mulai sadar jika hubungan diantara mereka belum membaik.
"Mama mohon Al, masuklah dulu. Baju mu basah," pinta Sofia dengan suaranya yang lebih lirih, tidak seperti pertama tadi.
Tapi melihat Sofia, Alex jadi ingin segera pergi.
"Ini bukan masalah bagiku. Aku pulang," pamit Alex sekali lagi pada Jia, dia mengacuhkan begitu saja Sofia di ambang pintu.
Membuat Sofia hanya mampu menelan ludahnya kasar.
__ADS_1
Alex pun hendak berlalu, namun kembali urung ketika suara nyaring memanggilnya dengan antusias.
"Daddy!" teriak Rayden dari dalam rumah, lalu keluar dan memeluk kakinya erat.
"Celana Daddy basah. Kenapa semuanya disini? ayo kita masuk!" ajak Rayden pula. Dia menarik tangan Alex dan Jia untuk masuk.
Alex tak bisa menolak, sementara Jia langsung mengulum senyum kecil.
Sementara Sofia yang melihat pemandangan itu hanya mampu tersenyum kecut, sikap dingin Alex padanya sungguh membuat hatinya terluka.
Sofia meringis, kembali merasakan ngilu di punggungnya, padahal tadi sudah merasa lebih baik.
"Ayo Ma," ajak Jia yang entah kapan kembali lagi kemari. Jia memapah Sofia masuk.
"Maafkan mama Ji," ucap Sofia tiba-tiba. Mendapati sikap dingin Alex, dia kembali mengingat dengan jelas semua kesalahannya.
"Iya Ma, aku sudah memaafkan mama."
"Kenapa kamu semudah itu memaafkan mama?"
"Karena selama ini aku sudah menganggap mama seperti ibuku sendiri."
Air bening yang sudah menggenang di kedua mata Sofia akhirnya jatuh juga.
Sangat tahu jika selama ini Jia merindukan kedua orang tuanya.
Sofia menangis, dia memeluk lengan Jia diantara langkahnya yang pelan-pelan.
Benar-benar merasa buta dan bodoh karena diperdaya oleh Amora.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...