
Karena Jia hamil, maka kini Jia hanya berjaga di kantor. Sementara untuk urusan diluar sana semuanya dikerjakan oleh Sandra.
Memasuki bulan ke 7 perut Jia sudah semakin terlihat membuncit. Jam makan siang nanti Alex akan datang ke kantornya untuk mereka makan siang bersama, lalu setelahnya Alex akan mengantar Jia pulang. Kini pulang pergi Jia akan selalu bersama dengan Alex.
2 bulan terakhir ini seperti itu terus jadwal mereka. Dan sejak saat itu pula Jia tidak pernah bertemu Abbu lagi.
Sedikit khawatir tentang bagaimana kabar Abbu saat ini, Jia akhirnya mengajak Alex untuk mengunjungi beliau. Selama ini Jia juga belum sempat untuk berkunjung ke rumah Abbu.
"Dad, kita berhenti dulu di toko itu ya? ada yang ingin mommy beli," ucap Jia, menunjuk toko kelontong di depan sana, bukan pusat perbelanjaan mewah.
"Iya Mom."
Alex berhentikan mobilnya dan parkir diantara motor-motor di depan toko sembako itu.
Mereka berdua turun dan saling bergandengan masuk. Jia membeli bahan pokok untuk dia bawa ke rumah Abbu, seperti beras, minyak, gula, susu dan yang lainnya.
Alex membawa barang-barang itu ke dalam mobil dan Jia membayar di kasir.
Sedikit berlari Alex kembali menghampiri istrinya dan menuntun Jia untuk masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Mommy capek?" tanya Alex saat mereka berdua sudah duduk sempurna, Alex juga mulai menghidupkan mesin mobil dan kembali melaju.
"Tidak Dad, kalau mommy capek nanti mommy bilang."
Mendengar itu Alex tersenyum, dia mengelus kepala Jia dengan sayang.
Jia melihat ponselnya dan melihat petunjuk arah rumah Abbu, sesekali memberi petunjuk Alex untuk mengikuti arahannya. Sampai akhirnya mereka berdua sampai di sebuah rumah sederhana di ujung komplek perumahan ini.
Rumah dengan cat berwarna biru dengan banyak pot bunga mawar di halaman rumahnya.
Jia tersenyum, ingat ucapan Abbu kala itu jika istrinya suka sekali menanam bunga mawar. Dan melihat banyaknya bunga mawar itu Jia yakin dia tidak salah alamat.
"Iya Mom."
Keduanya turun dan menghampiri pintu rumah Itu, Alex mengutuknya beberapa kali hingga akhirnya pintu itu terbuka. Seorang wanita paruh baya membukanya dan menatap bingung pada Alex dan Jia.
Sampai akhirnya Abbu pun ikut keluar dan melihat Jia Alex.
Pertemuan hangat pun terjadi, mereka saling mengenalkan diri tanpa segan dan sungkan. Abbu dan istrinya Amira, mempersilahkan Jia dan Alex masuk, mereka duduk bersama si ruang tamu sederhana itu.
__ADS_1
Disaat semua asik berbincang, Alex malah menatap sebuah bingkai foto yang menggantung di atas dinding sana. Melihat seorang gadis kecil sekitaran usia 8 tahun ditengah-tengah Abbu dan Amira yang nampak tidak asing baginya.
"Maaf Pak Abbu, apa itu putri Anda?" tanya Alex, menunjuk dengan matanya yang mengarah pada bingkai foto itu.
"Iya Al, dia anak satu-satunya bapak dan ibu," jawab Abbu dengan senyum kecil, senyum getir.
Amira bahkan langsung menyentuh lengan suaminya, seolah menenangkan. Membicarakan tentang ini seperti membuat luka bagi mereka berdua.
Dan Jia yang tahu sedikit tentang anak Abbu dan Amira pun juga menyentuh lengan Alex, memberi isyarat untuk tidak bertanya lebih.
Alex paham itu, dia lantas mengalihkan pembicaraan dengan yang lainnya.
Jam 3 sore Alex dan Jia pamit pulang. Mulai menjauh dari rumah Abbu, Alex kemudian menanyakan pada Jia tentang anak Abbu.
"Mommy tahu cerita tentang anaknya itu?" tanya Alex.
"Iya Dad, kenapa Daddy sepertinya penasaran sekali?"
Alex tersenyum, "Entahlah, wajahnya seperti tidak asing."
__ADS_1