
Andre yang selalu disalahkan oleh ayah mertuanya lama-kelamaan merasa bosan sendiri. Setiap hari waktunya dihabiskan di kantor atau pergi dengan sopirnya. Kalau sampai rumah dia langsung masuk kamar dan tidur tanpa pernah ngobrol dengan ayah mertuanya ataupun istrinya sendiri. Shinta yang melihat sikap suaminya sudah berubah seratus delapan puluh derajat berusaha untuk memperbaiki dirinya. Setiap sore sengaja dia memasak makan malam buat suaminya.
Andre yang setiap malam makan di rumah tidak pernah memuji masakan istrinya. Dia bersikap biasa saja dan menganggap makanan yang dimakan adalah buatan d]bi Ijah. Sikapnya semakin hari semakin berubah. Kalau dulu dia masih mau ngobrol dengan ayam mertuanya ataupun Shinta di ruang tengah sambil menonton TV, tapi belakangan ini tidak pernah dilakukan karena dia selalu pulang malam. Sampai di rumah dia langsung menyantap hidangan makan malam.
Sebenarnya dia malas untuk makan malam di rumah tapi dia tidak mau terjadi keributan antara dia dan istrinya. Karena kalau dia tidak makan di rumah Shinta akan semakin curiga dan selalu marah. Walaupun di luar Andre sudah makan, di rumah dia tetap makan walaupun sedikit. Semua ini dilakukan untuk menghindari keributan dengan istrinya.
“Mas, nanti malam mau di masakan apa?” tanya Shinta saat sarapan pagi.
“Terserah kamu aja,” jawab Andre.
“Jangan gitu donk Mas. Kalau terserah aku nanti aku masakkan makanan kesukaanku takutnya kamu nggak mau makan. Makanya kamu katakan aja makanan apa yang harus aku masak karena aku senang loh lihat kamu makannya lahap,” ucap Shinta sambil mencari simpati suaminya.
Andre yang tau sikap Shinta yang sengaja mencari perhatiannya hanya menanggapi dengan cuek.
“Apapun yang kamu masak pasti akan aku makan. Jadi terserah kamu aja,” jawab Andre.
Setelah mengucapkan kalimat itu Andre langsung berangkat ke kantor. Shinta yang mendengar perkataan suaminya dan sikap suaminya yang begitu cuek hanya diam saja. Perasaannya sangat sakit dan marah karena niat baiknya hanya ditanggapi seperti itu.
‘Kenapa mas Andre semakin hari semakin mengesalkan. Aku sudah merubah sikapku untuk lebih baik lagi tapi sambutan mas Andre biasa saja. Mas Andri tetap tidak memperdulikan aku bahkan saat berbicara dia tidak pernah lagi memperhatikan aku. Sepertinya dia sangat membenci aku,’ batin Shinta kesal.
Shinta yang merasa curiga dengan kelakuan suaminya sekaligus takut akan kehilangannya sengaja menyewa seseorang untuk mengikuti kemana pergi suaminya, sehingga setiap hari yang dilakukan Andre, Shinta selalu mendapat informasi dari orang yang disewanya.
Malam ini sudah pukul delapan Andre belum pulang juga. Shinta langsung menelepon Wira orang yang disewanya untuk mengikuti setiap gerak langkah Andre. Dia menanyakan tentang keberadaan suaminya.
Andre yang malas buru-buru pulang ke rumah mengajak Anton yang merupakan sopir pribadinya untuk menonton di studio.
__ADS_1
“Anton, malam ini kita nonton yuk di studio?”
“Apa, nonton Pak?” tanya Anton heran.
Anton merasa heran karena tidak pernah melihat Andre menonton di studio.
“Memangnya kenapa Ton. Kelihatannya kamu heran,” ucap Andre sambil tersenyum.
Anton langsung tersenyum ke arah Andre.
“Saya heran aja karena Bapak nggak pernah saya lihat menonton di studio.”
“Memang saya nggak pernah menonton di studio, tapi ketika masih kuliah dulu saya sering loh nonton di studio,” jelas Andre bangga.
Andre tidak menjawab dia hanya senyum-senyum saja.
“Gimana, mau kan menerima tawaran saya?” tanya Andre.
“Ya jelas mau Pak. Saya juga jarang nonton, paling sekali-sekali saya mau juga menonton.”
Akhirnya begitu jam kerja berakhir Andre dan Anton langsung pergi ke studio.
“Kamu lihat tontonan apa yang enak malam ini ya,” pinta Andre.
Anton kemudian mengecek film yang diputar malam ini di studio.
__ADS_1
“Pak, ini film yang diputar di studio malam ini,” ucap Anton sambil menunjukkan judul filmnya.
“Ya udah, kita nonton sekarang ya.”
Kemudian Anton membeli tiket untuk 2 orang. Setelah itu mereka pun masuk ke studio yang begitu luas. Sengaja Andre dan Anton mengambil tempat duduk yang paling depan.
***
Sejak Noval pulang ke asrama di pesantren, Widya merasa kesunyian. Biasanya Widya sering menghabiskan waktunya sebulan sekali untuk menonton di studio sendiri. Begitu juga malam ini. Sejak sore dia sudah bersiap-siap akan pergi menonton.
Widya yang sejak kuliah sudah hobby nonton di studio sampai sekarang masih tetap melakukan hobbynya. Hobby menonton Widya didapat ketika dia berpacaran dengan Andre. Mereka sebulan sekali pasti menonton di studio sehingga kebiasaan yang dilakukan ketika mereka berpacaran masih tetap dilakukan Widya sampai sekarang. Kebetulan tempat tinggal Widya sangat dekat dengan studio sehingga hanya berjalan kaki saja sudah sampai.
Setelah pintu semua dikunci Widya langsung pergi ke studio. Sampai di sana Widya Sudah terlambat beberapa menit sehingga dia buru-buru membeli karcis dan langsung masuk ke ruang studio. Ketika masuk ternyata film baru saja diputar dan dia mencari tempat duduk di pinggir.
Setelah duduk manis dia langsung fokus ke layar studio. Malam ini film yang ditonton adalah film kesukaan Widya yaitu film antagonis di mana pemerannya sangat terkenal. Dia memang sangat suka menonton film yang antagonis yang sering membuat perasaan penasaran dan kadang membuat kesal sendiri.
Setelah satu jam lebih film pun berakhir sehingga semua penonton keluar dari ruang studio. Sengaja Widya keluar belakangan karena dia tidak mau berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya. Setelah pengunjung sudah keluar semua Widya pun langsung keluar. Dia langsung berjalan ke keluar. Tapi begitu sampai depan studio terlihat hujan sehingga Widya mencari tempat duduk untuk menunggu sampai hujan reda.
Andre yang sudah keluar sejak tadi berdiri di depan studio menunggu Anton mengambil mobil yang di parkir. Betapa terkejutnya Andre ketika saat menoleh ke samping kiri terlihat Widya sedang duduk di kursi panjang sambil memandang ke halaman studio. Andre yang tidak percaya dengan penglihatannya langsung mengusap matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya tidak salah. Ternyata benar Widya lah yang sedang duduk di kursi itu tetapi Widya tidak melihat keberadaan Andre.
‘Apakah Widya juga menonton di sini.’
Andre langsung melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bawa orang yang mengikutinya sejak tadi ada di dekatnya. Ternyata orang yang sudah disewa Shinta untuk mengikuti Andre sedang berdiri tidak jauh dari keberadaan Andre sehingga Andre pun tidak berani mendekati Widya.
Dari gerak gerik orang itu sangat mencurigakan karena dia selalu memperhatikan Andre sejak tadi. Andre yang melihat gerak gerik orang itu langsung mengetahui kalau orang itu adalah suruhan istrinya.
__ADS_1