
Jia sudah bersiap untuk pergi berkerja, tapi Rayden terus merengek di kakinya. Tidak ingin ditinggal dan ingin segera pergi ke rumah sakit menemui Sofia.
"Tapi mommy harus kerja sayang, dan kata daddy kan kita ke rumah sakit nya sore," jawab Jia dengan wajah yang memelas pula, mengikuti raut wajah sang anak.
"Mommy izin saja pada Uncle Niel, bilang hari ini tidak kerja."
"Atasan mommy bukan Uncle Niel sayang, tapi aunty Emma."
"Coba aku telepon Uncle Niel, pasti dia akan izinkan mommy."
"Jangan!" cegah Jia cepat, dia menahan tubuh sang anak yang hendak berlari masuk ke dalam kamar. Mengambil ponsel milik Rayden sendiri yang disimpan di laci nakas.
"Tuh kan, mommy tidak mau menemani Rayden menemui Oma," keluh Rayden lagi, membuat Jia tidak bisa berkata apa-apa selain pasrah.
"Baiklah, mommy akan hubungi aunty Emma dulu."
"Benar?" tuntut Rayden dan Jia menganggukkan kepala.
"Iya," jawab Jia dengan bibir tersenyum, dia juga mengelus puncak kepala sang anak dengan sayang.
Jia menyingkir menghubungi Emma, tanpa tahu jika Rayden juga berlari ke kamar dan mengambil ponselnya. Diam-diam dia menghubungi Daniel.
__ADS_1
Tidak ingin ibunya dimarah dan dipecat karena meminta izin gara-gara dia, jadi Rayden pun akan membujuk Daniel, seseorang yang dia tahu adalah pemimpin di hotel tempat sang ibu bekerja.
Dengan kedua tangan kecilnya, Rayden membuka ponsel itu, menekan kontak dan mencari nama Uncle Niel.
Setelah ketemu dia tersenyum, lalu langsung menghubungi.
"Uncle!" teriak Rayden ketika panggilannya di jawab.
Di ujung sama Daniel baru saja bangun, saat ini masih jam 7 pagi. Dia bahkan tidak ada rencana untuk datang ke hotel.
"Rayden, ada Apa? merindukan Uncle?" tanya Daniel, matanya terpejam tapi bibirnya tersenyum.
"Uncle, oma ku masuk rumah sakit, aku ingin mengajak mommy kesana, jadi bolehkah mommy izin untuk tidak bekerja hari Ini? hari iniiiii saja," ucap Rayden dengan memohon.
Dan suara menggemaskan itu mampu membuat Daniel akhirnya membuka mata.
"Baiklah, akan Uncle izinkan. Tapi ada syaratnya."
"Apa?" tanya Rayden cepat.
"Biarkan Uncle yang mengantar kalian, agar Uncle yakin jika Rayden tidak berbohong, benar-benar pergi ke rumah sakit dan bukan ke taman hiburan."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan kirim alamat apartemen daddy." sahut Rayden dengan percaya diri, dia akan tunjukan pada Daniel jika dia adalah anak yang pintar, anak yang tidak suka berbohong.
Setelah sepakat, panggilan itu terputus. Rayden dengan buru-buru kembali menyimpan ponselnya di dalam laci dan kembali menemui ibunya di ruang tengah.
"Ayo sayang, kita pergi sekarang," ajak Jia setelah Rayden datang menghampiri.
"Nanti dulu Mom, aku masih lapar, boleh aku makan sedikit lagi?" pinta Rayden, padahal dia tidak lapar, dia hanya sedang mengulur waktu menunggu Daniel menekan bell apartemen ini.
"Baiklah, ayo mommy temani." Jia membawa anaknya kembali ke ruang makan, tanpa curiga sedikitpun.
Hingga 20 menit kemudian, bell apartemen itu berbunyi dan Rayden dengan segera berlari untuk membuka pintu.
Jia mengikuti.
Seseorang yang sudah Rayden tunggu akhirnya berdiri di depan sana dengan tampan nya.
"Tuan," ucap Jia dengan kedua mata yang melotot. Sementara Rayden hanya tersenyum, tanpa merasa bersalah sedikit pun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1