
Sudah satu minggu Niko tugas luar kota dan hari ini rencananya Niko akan pulang. Begitu pulang dari kantor Ririn langsung mandi. Dia sengaja berdandan di depan cermin dan tidak lupa dipakainya parfum sedikit saja. Kamar ditatanya serapi mungkin supaya ketika suaminya pulang dia bisa berlama-lama di kamar.
Walaupun sudah sebulan mereka menikah tapi Niko masih dingin. Bahkan ketika tugas luar kota Niko tidak pernah menghubungi istrinya menanyakan kabar istrinya. Tapi Ririn tetap berusaha membuat suaminya bisa mencintainya.
Dia sudah tidak sabar menunggu kedatangan suaminya. Untuk menghilangkan rasa bosannya Ririn rebahan di tempat tidurnya dan memainkan ponselnya. Waktu berjalan terus dan magrib pun tiba, Niko belum pulang juga. Ririn merasa khawatir karena sudah hampir malam suaminya tidak pulang juga, padahal saat akan berangkat Ririn sudah bertanya pada Niko kira-kira sampai rumah jam berapa. Niko mengatakan pada Ririn kalau tidak ada halangan biasanya jam lima sore sudah sampai rumah. Tapi ini sudah menjelang malam Niko juga belum pulang.
‘Kenapa mas Niko belum sampai rumah juga. Apa terjadi sesuatu padanya?’
Ririn yang sangat khawatir akhirnya menelepon suaminya tapi ponsel Niko tidak aktif. Akhirnya Ririn keluar kamar dan mondar-mandir di teras menunggu kedatangan suaminya. Prasaannya tidak tenang sebelum suaminya pulang.
Melihat Ririn yang seperti orang kebingungan bolak-balik keluar masuk dari ruang tengah ke teras dan kembali lagi ke ruang tamu, ibu dan ayahnya langsung bertanya.
“Kamu kenapa Ririn, ibu lihat sejak tadi kamu mondar mandir kerjanya,’ ucap ibunya.
“Iya, ayah lihat juga seperti itu. Memangnya ada apa Ririn?” tanya ayanya lagi.
“Mas Niko kok belum sampai juga ya Bu, padahal dia katakan sore sudah sampai. Tapi ini sudah malam mas Niko belum sampai juga,” jelas Ririn.
Ibunya langsung tersenyum. “Mungkin jalanan macet makanya dia belum sampai. Coba kamu telepon aja.”
“Udah Ririn telepon Bu, tapi ponselnya nggak aktif.”
“Ya udah, kamu tunggu aja. Mudah-mudahan aja tidak terjadi apa-apa pada dia. Kamu banyak berdoa Ririn, semoga Niko sampai dengan selamat,” ucap ibunya.
“Ini juga belum terlalu malam. Mungkin habis isya nanti dia baru sampai.”
“Tapi kenapa lama kali ya Bu.”
“Ya mungkin aja ada kendala,” ucap ayahnya.
__ADS_1
“Maklumlah namanya pengantin baru, menunggu gitu aja nggak sabar.” Ibunya bercanda.
Ririn yang mendengar ucapan ibunya merasa malu sendiri. Dia langsung masuk ke kamar.
***
Niko yang sudah pulang dari tugas luar kota tidak langsung pulang ke rumahnya. Tapi dia pulang ke rumah ibunya.
Begitu sampai rumah ibunya, ibunya merasa heran.
“Kenapa kamu tidak langsung pulang ke rumah kamu Niko. Pasti Ririn sudah menunggu kamu.”
“Nanti aja Bu, Niko masih mau di rumah Ibu.”
Akhirnya bu Tanti membiarkan Niko istrirahat di depan tv. Dia menonton tv dan lama-kelamaan tertidur di sofa. Bu Tanti yang melihat Niko tertidur nyenyak hanya diam saja. Nanti kalau sudah bangun dari tidurnya rencananya bu Tanti akan menyurhnya pulang ke rumahnya.
***
“Niko, mau jam berapa lagi kamu pulang?” tanya bu Tanti.
“Sebentar lagi Bu,” jawab Niko sambil asik nonton tv.
“Tadi kamu katakan habis magrib kamu pulang. Ini sudah habis magrib kamu belum pulang juga. Kamu nggak kasihan sama istri kamu. Pasti Ririn sudah menunggu kamu sejak tadi. Kamu juga kenapa langsung kemar. Seharusnya kamu pulang ke rumah kamu dulu dan temui istri kamu karena kamu sudah menikah, Niko.”
“Niko malas aja Bu pulang ke rumah.”
“Memangnya kenapa. Kalau kamu merasa nggak enak tinggal bersama mertua, kamu kan bisa ngontrak rumah bersama Ririn.”
Niko hanya diam saja mendengarkan ucapan ibunya. Sebenarnya Niko malas pulang ke rumah bukan karena tinggal serumah dengan mertuanya, tapi dia merasa lebih nyaman tinggal di rumah ibunya sendiri.
__ADS_1
Tapi kalau mengingat ucapan ibunya barusan Niko juga merasa kasihan dengan Ririn. Selama ini terlihat Ririn sangat baik padanya. Dia selalu menyiapkan sarapan pagi dan menyiapkan pakaian kerjanya juga. Sementara Niko tidak pernah memperhatikan Ririn. Kalau sudah selesai sarapan Niko langsung berangkat ke kantor tanpa memperdulikan Ririn berangkat jam berapa dan naik apa. Niko sedikit pun tidak pernah mengobrol dengan istrinya.
Sejak mereka menikah, begitu pulang kerja Niko langsung masuk ke kamar dan asik menonton tv di dalam kamar. Lama kelamaan Niko baru menyadari bahwa sebenarnya dia telah melukai perasaan istrinya. Jangankan untuk menyentuh istrinya, untuk ngobrol pun dia rasanya sudah tidak punya waktu. Niko selalu berbicara pada istrinya untuk hal yang penting saja. Sehingga di dalam kamar keduanya hanya diam saja. Sedangkan Ririn yang terkenal pendiam tidak pernah berbicara atau mengajak ngobrol suaminya. Saat di dalam kamar keduanya asik menonton tv tanpa ada berbicara sedikit pun. Niko sambil rebahan di sofa nonton tv, sedangkan Widya rebahan di tempat tidurnya.
‘Aku selama ini telah banyak bersalah pada Ririn. Walaupun aku tidak mempedulikan Ririn dan sikapku sangat dingin pada Ririn, tapi Ririn tetap bersikap baik padaku. Dia tetap menyiapkan sarapan pagi untukku bahkan baju dan sepatuku semuanya disiapkannya. Tapi aku sendiri tidak pernah bersikap baik padanya. Aku sudah pernah gagal berumah tangga dengan Widya dan aku nggak mau kalau pernikahanku yang kedua kalinya ini gagal lagi. Aku harus merubah sikapku pada Ririn. Aku akan belajar untuk mencintainya.’
Setelah berpikir cukup lama dan menyesali akan perbuatannya, akhirnya Niko memutuskan untuk pulang sekarang juga. Bu Tanti yang melihat Niko pulang dengan wajah ceria merasa sangat senang.
***
Hampir jam setengah sepuluh malam Niko sampai di rumah mertuanya. Saat masuk kamar terlihat Ririn sedang memainkan ponselnya. Begitu melihat kedatangan suaminya, Ririn langsung bangkit dan turun dari tempat tidur.
“Mas baru pulang, udah makan?” tanya Ririn terlihat khawatir.
Niko tidak menjawab. Dia hanya memandang wajah Ririn tidak berkedip. Begitu ditatapnya wajah Ririn, Niko merasa menyesal.
‘Ternyata Ririn sangat cantik,’ batin Niko dalam hati.
Niko menatap Ririn tidak berkedip membuat Ririn merasa heran.
‘Kenapa mas Niko menatap aku seperti itu. Apa dia marah,’ batin Ririn bingung.
“Mas sudah makan, biar aku siapkan ya,” ucap Ririn lagi.
Kemudian Ririn hendak keluar kamar tapi keburu tangannya ditarik Niko. Begitu dekat, Niko langsung memeluk erat tubuh istrinya membuat Ririn tidak bisa bernafas. Ririn langsung terkejut dengan kelakuan suaminya yang tiba-tiba memeluknya.
“Mas lepaskan...” ucap Ririn.
Niko tidak melepaskan pelukannya bahkan dia mempererat pelukannya.
__ADS_1
“Maafkan aku, Ririn karena telah menyakiti perasaanmu. Aku tidak pernah memperlakukanmu sebagai istri aku padahal kita sudah menikah.”
Jantung Ririn seperti mau copot rasanya mendengarkan ucapan suaminya.