
Tidak bisa melipat Jia dan membawanya pulang, membuat Alex mengeram frustasi. Akhirnya dia hanya mampu mengelus wajah Jia dengan sayang, lalu segera memerintahkan wanitanya untuk masuk ...
"Masuklah, Mama dan Rayden pasti sudah menunggu mu."
Jia mengangguk.
Perpisahan seperti ini tetap saja masih menyisahkan canggung diantara mereka, karena bingung mau peluk, cium atau pergi-pergi begitu saja.
Tapi akhirnya Jia memilih langsung pergi, meski dengan langkah kakinya yang berat.
5 langkah dia menjauh dan Alex kembali memanggil.
"Ji," panggil Alex dan langkah Jia terhenti.
Belum sempat menjawab, tubuhnya sudah lebih dulu di dekap oleh Alex saat Jia berbalik.
Alex memeluk tubuhnya erat, sangat erat hingga kehangatan itu menjalar di tubuh dan hatinya.
"Mulai sekarang aku akan memeluk mu setiap kali kita berpisah seperti ini." ucap Alex, cukup pelan hingga terdengar seperti sebuah bisikan yang menggoda.
__ADS_1
Dan Jia mengulum senyum, dalam hatinya meminta lebih, bagaimana dengan kecupan?
Namun sungguh, Jia tidak punya keberanian untuk mengucapkan itu. Dia hanya mampu mengangguk dan kembali berjalan masuk.
Sementara Alex terus memperhatikan wanitanya, hingga benar-benar masuk dan hilang.
"Nyonya Jia!" panggil beberapa pelayan saat sang Nyonya kembali ke rumah ini, sebuah sapaan yang membuat Jia sadar dimana kakinya kini berpijak.
Rumah yang selama ini sudah seperti penjara baginya, tapi Jia sungguh tidak menyangka jika dia akan kembali kemari dengan perasaannya yang baik-baik saja, tidak ada takut apa lagi trauma.
Di bibirnya bahkan masih tersisa senyum kecil, masih teringat kebersamaan nya bersama Alex barusan.
Jia pun menyapa beberapa pelayan yang menyambutnya. Lalu menemui Sofia yang sudah menunggu di ruang tengah bersama Rayden.
"Mommy kalau ketemu daddy memang seperti itu Oma, lamaaaaa sekali berpamitannya," celetuk Rayden.
Dan Sofia langsung menatap sang mantan menantu, seraya menahan tubuhnya agar tetap tegap. Perawat pribadi yang disediakan oleh Alex sedang membersihkan jahitannya. Juga mengoles obat agar cepat kering dan meredakan nyerinya.
Tadi ingin mengobati luka ini di kamarnya, tapi Sofia menolak, dia ingin menunggu Jia.
__ADS_1
"Duduk sini," titah Sofia sebelum Jia sempat menjawab pertanyaan pertamanya. Dia juga menepuk pelan sisi kosong disebelah kirinya.
Jia nampak ragu, benarkah duduk disana? di samping Sofia?
Namun Jia terus memantapkan hati bahwa kini dia tidak perlu takut lagi, bukan hanya karena kini dia bukan lagi menantu Sofia, melainkan luka di punggung Sofia itu juga karena dia. Jia pun harus terbiasa untuk dekat dengan Sofia agar juga bisa mengobati luka itu.
"Iya Ma," jawab Jia, setelahnya dia mendekati Sofia, duduk ditempat yang Sofia minta.
"Apa yang kamu bawa?" tanya Sofia, melirik paper bag di tangan kanan Jia.
"Baju ganti Ma."
Dan mendengar itu Sofia membuang nafasnya kasar. Menyadari jika kini Jia benar-benar bukan lagi menantunya. Bahkan datang ke rumah ini pun harus membawa baju ganti.
"Tidurlah di kamar mu yang dulu, mama juga sudah menyiapkan beberapa baju untukmu disana." balas Sofia lirih, membuat Jia menatap tidak percaya.
Jia pikir dia akan tidur di ruang tamu, tidak akan ada sambutan seperti ini. Dan baju? sungguh Jia tidak pernah berpikir sejauh itu.
"Tapi Ma_"
__ADS_1
"Jangan membantah mama, kamu kan tau mama tidak suka dibantah."
Jia terdiam, entah kenapa kini semuanya terasa berbeda. Sofia memang masih memarahi dia, juga masih bersikap dingin. Namun entah bagaimana Jia malah merasa hatinya menghangat.