
“Ayo Niko, makan sekarang keburu sopnya dingin.”
Niko langsung duduk di kursi makan dan makan hidangan yang ada di depannya. Sedangkan bu Tanti duduk di depan Niko sambil memperhatikan putranya makan.
“Ibu kenapa nggak makan?” tanya Niko melihat ibunya hanya diam saja memperhatikannya.
“Ibu sudah makan tadi Niko. Menunggu kamu lama kali pulang makanya ibu makan duluan.”
“Mulai besok Ibu jangan nunggu Niko. Kalau Ibu sudah lapar makan aja duluan.”
“Memangnya kamu besok pulang malam lagi?”
“Ya belum tau lagi Bu. Belakangan ini Niko sibuk dengan kerjaan kantor.”
“Oh ya Niko, tadi pakde Budi datang kemari.” Pakde Budi adalah ayah Ririn yang merupakan abang bu Tanti.
“Ngapain Bu, bukankah semalam baru dari sini.”
“Iya, tadi Pakde kamu sendirian kemari. Dia mau memastikan masalah hubungan kalian Niko.”
Niko yang sedang mengunyah makanan langsung tersedak mendengar ucapan ibunya. Bu Tanti langsung memberikan air putih.
“Kamu minum dulu,” ucap bu Tanti memberikan air putih.
Niko langsung meneguk air putih itu sambil memikirkan ucapan ibunya barusan.
“Lalu Ibu jawab apa?” tanya Niko penasaran.
“Ya ibu jawab aja bahwa ibu belum bisa memberi keputusan karena keputusan ada di tangan kamu. Pakde kamu ingin pernikahan kalian digelar bulan depan Niko.”
Niko langsung terkejut mendengar penjelasan ibunya.
“Bukankah Niko belum ngasih keputusan Bu, kenapa pakde sudah menentukan bulan depan,” ucap Niko protes.
“Niko, coba kamu pikir-pikir lagi. Mau sampai kapan kamu sendiri seperti ini. Ini semua demi kebaikan kamu dan Ririn. Kamu jangan pernah mengharapkan Widya lagi. Kamu nggak kasihan dengan Pakde kamu yang sudah sering sakit-sakitan. Walaupun stroknya sudah sembuh tapi belum bisa sembuh total makanya Pakde menginginkan agar Ririn segera menikah dengan kamu. Pakde akan merasa tenang kalau Ririn sudah menikah dengan kamu karena kamu itu bukan orang lain,” jelas bu Tanti.
__ADS_1
“Tapi Bu, Niko kan belum ngasih keputusan mau atau tidak menikah dengan Ririn.”
“Apa kamu tidak mau menikah dengan Ririn, Niko?”
“Kan udah Niko katakan pada Ibu bahwa Niko belum bisa berpikir saat ini.”
“Kenapa Niko, apa karena kamu sedang memikirkan Widya. Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan Ibu, Niko. Keinginan Ibu hanya satu Niko yaitu kamu mau menikah dengan Ririn. Ibu tidak akan menuntut yang macam-macam dari kamu. Yang Ibu minta hanya kamu mau menikahi Ririn. Hanya itu harapan ibu dan juga harapan Pakde kamu.”
***
Dengan perasaan kecewa Niko pun masuk ke kamarnya. Dia kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang. Pikirannya sedang kacau memikirkan ucapan ibunya barusan.
Padahal tadi siang dia sempat ketemu dengan Shinta dan membicarakan masalah kedekatan Widya dengan Andre. Dari hasil pembicaraan mereka berdua, mereka akan berusaha untuk mencegah hubungan Widya dengan Andre. Shinta akan merebut kembali hati suaminya dan Niko akan rujuk kembali dengan Widya. Tapi mendengar penjelasan ibunya yang sangat mendesak Niko agar mau menikahi Ririn, Niko semakin bingung. Dalam hati kecilnya sedikit pun tidak ingin untuk menikahi Ririn tapi melihat kemauan keras ibunya, rasanya Niko tidak sampai hati kalau menolak permintaan ibu dan pakdenya sehingga membuat Niko merasa pusing memikirkan semua ini.
‘Ya Allah, bantulah aku dalam memecahkan masalah ini. Berilah jalan keluar yang terbaik buat aku,’ ucap Niko dalam doanya.
Kemudian Niko memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur tapi pikirannya masih menerawang entah ke mana. Setelah cukup lama berpikir akhirnya Niko pun tertidur juga meskipun sudah menjelang pukul satu dini hari.
***
Saat bangun dari tidurnya Widya merasakan perutnya tidak enak. Dia seperti masuk angin tapi Widya tetap memaksakan diri untuk bekerja. Akhirnya walaupun terlambat Widya tetap pergi kerja. Sampai di tempat kerjanya Rika langsung bertanya.
“Iya Rika, sejak tadi perut mbak nggak enak,” jelas Widya.
“Kenapa Mbak, apa Mbak masuk angin atau ada salah makan sesuatu.”
“Entahlah mbak juga ngggak tau. Mungkin mbak masuk angin karena semalam saat pulang kerja mbak kehujanan.”
“Jadi Mbak tadi udah minum obat?”
“Udah Rika. Tadi saat berangkat kerja mbak minum obat dulu tapi sampai sekarang perut mbak nggak enak juga,” jelas Widya pada Rika.
“Ya udah Mbak, kalau Mbak kurang sehat entar lagi mbak pulang aja biar nanti aku yang menghandle semuanya,” ucap Rika penuh pengertian.
“Maaf loh Rika, mbak jadi nggak enak sama kamu.”
__ADS_1
“Nggak enak gimana sih Mbak namanya juga sakit.”
Tempat pukul sepuluh siang Widya sudah tidak tahan lagi sehingga dia permisi pada Rika untuk pulang ke rumah.
“Mbak coba minum obat ini manatau sembuh?” ucap Rika sambil memberikan obat Antangin.
“Tapi tadi mbak udah minum obat.”
“Mbak nggak apa-apa minum ini karena ini kan termasuk jamu,” jelas Rika.
“Terimakasih ya Rika atas pengertiannya,” ucap Widya dan langsung pergi pulang.
***
Sampai di rumah Widya langsung istirahat di kamarnya. Widya pun tertidur sangat nyenyak mungkin efek dari obat yang baru diminumnya. Hampir jam dua siang Widya baru terbangun. Begitu bangun dari tidurnya badan Widya terasa lebih enak, masuk anginnya pun sudah hilang.
Kemudian Widya bangkit di tidurnya karena dirasakan badannya sudah mulai enak. Tiba-tiba ponselnya berdering dan dia langsung meraihnya. Saat dilihat, ada pesan wa yang masuk dari Andre.
{Widya, besok pagi kamu harus ke Jakarta. Aku akan menunggumu di bandara.}
Widya langsung terkejut membaca pesan singkat itu. Dia kemudian menelepon Andre.
[“Andre, kamu apa sudah gila menyuruh aku datang ke Jakarta.”]
[“Aku memang sudah gila Widya. Itu semua karena kamu.”]
[“Andre, pokoknya aku nggak mau ke Jakarta menemui kamu.”] jawab Widya singkat.
[“Kenapa kamu nggak mau menemui aku?”]
[“Aku nggak mau jadi duri dalam rumah tangga kamu.”]
[“Widya, aku kan sudah pernah mengatakan sama kamu bahwa rumah tangga aku sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Itu semua bukan karena kamu tapi ada hal yang tidak mungkin aku ceritakan sama kamu.”]
[“Tapi Ndre, aku nggak mau merusak rumah tangga kalian.”]
__ADS_1
[“Kamu tidak merusak rumah tangga aku. Sebelum aku ketemu kamu rumah tangga aku memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi Widya. Jadi kamu jangan takut akan hal ini.”] jelas Andre berusaha meyakinkan Widya.
Widya hanya terdiam memikirkan ucapan Andre barusan. Sebenarnya Widya masih sangat mencintai Andre tapi dia takut untuk menikah dengan Andre karena status Andre yang masih beristri. Pasti istrinya Andre akan marah besar pada Widya dan menganggap Widya telah merusak rumah tangganya. Widya pun semakin bingung menghadapi masalah ini.