After Divorce

After Divorce
Menyusul


__ADS_3

Terlihat bunga-bunga yang bermekaran di sana-sini membuat suasana sangat indah dan cantik. Begitu juga dengan pepohonan yang tinggi besar dan rindang membuat suasana di sekelilingnya menjadi sejuk.


Andre kemudian mengajak Widya duduk di bangku di bawah pohon yang cukup rindang. Di sana-sini terlihat sepasang muda-mudi sedang memadu kasih duduk di bawah pohon. Andre dan Widya serasa muda kembali. Kenangan indah ketika masih kuliah dulu berlanjut di hari ini. Keduanya seperti remaja lagi. Duduk berdua sambil bercerita seperti saat kuliah dulu.


“Andre, kenapa kamu bawa aku kemari?” tanya Widya saat sudah duduk berdua.


“Aku ingin mengenang kembali saat-saat kebersamaan kita dulu,” jawab Andre.


“Andre, itu masa lalu kita dan tidak akan mungkin terulang lagi.”


“Siapa yang bilang tidak akan mungkin terulang lagi.”


“Buktinya sekarang kita mengulang kembali masa-masa saat kita berpacaran dulu. Dulu kita sering pergi berdua dan duduk-duduk di taman bunga sampai sore. Sekarang kenangan itu terulang lagi. Kita sekarang duduk berdua di tempat ini. Hanya bedanya sekarang kita sudah tua. Tapi walaupun kamu sudah tua, aku akan menganggap kamu masih muda Widya. Cintaku masih tetap seperti dulu ketika kamu masih muda.”


“Andre, kamu ngomong apa sih. Kamu jangan pernah mengenang masa lalu kita karena hal itu akan menyakitkan.”


“Kenapa menyakitkan Widya?” tanya Andre heran.


“Ya menyakitkan karena harapan kita tidak terwujud,” ucap Widya.


“Aku pasti akan mewujudkannya Widya. Yang penting kamu harus yakin dengan hal itu.”


“Udahlah Andre tak usah dibahas masalah itu lagi.”


“Kenapa nggak boleh dibahas Widya. Bukankah tujuan kamu kemari untuk mewujudkan harapan kita,” tanya Andre.


Widya langsung menggelengkan kepalanya. Andre kemudian menggenggam erat tangan Widya.


“Kenapa kamu tidak mau mewujudkan harapan kita?” tanya Andre sambil menatap lekat wajah Widya.


Melihat tatapan Andre yang begitu dalam Widya langsung memalingkan pandangannya ke arah lain.


“Tujuan aku datang kemari untuk mengajak kamu pulang ke Medan. Kamu pertimbangkan lagi keinginan kamu untuk menikahi aku. Aku memang sudah tidak mempunyai suami sehingga kamu kapan saja bisa menikahi aku. Tapi yang aku pikirkan, kamu masih punya istri dan anak. Andre, kamu jangan egois. Kamu juga harus mikir perasaan mereka. Biarlah harapan kita dulu hanya sebuah mimpi yang tidak akan mungkin terwujud karena aku tidak mau kita menikah dan bahagia tapi di atas penderitaan orang lain, yaitu penderitaan istri dan anak kamu,” ucap Widya dengan nada sedih.


“Widya, sekarang tatap mata aku,” pinta Andre.


Widya yang sangat sedih berusaha untuk tetap kuat dan tegar karena dia tidak mau kesedihannya dilihat oleh Andre. Widya berusaha menahan tangisnya sambil menatap bola mata Andre.


“Kamu lihat mata aku, Widya. Aku berjanji akan mewujudkan impian kita dulu yang sempat tertundah. Kamu lihat juga mata aku. Aku tidak bahagia dengan pernikahanku Widya. Aku sangat tertekan dan aku ingin keluar dari semua ini karena aku sudah nggak kuat lagi Widya.”


Mendengar ucapan Andre yang begitu menyedihkan Widya merasa sedih. Tangisnya langsung pecah ketika mendengar pengakuan dari Andre bahwa Andre tidak bahagia.


Tanpa terasa bulir-bulir hangat keluar dari sudut mata Widya sehingga Widya langsung memalingkan wajahnya ke arah lain supaya tangisnya tidak dilihat Andre. Tapi Andre tau kalau Widya menangis sehingga dia langsung menenggelamkan kepala Widya di dadanya.


Widya merasa sedih dan kasihan atas ucapan Andre barusan. Widya dapat merasakan apa yang dirasakan Andre. Sama seperti dirinya saat belum bercerai. Widya merasa sangat tertekan dengan kelakuan suaminya sehingga dia sudah tidak mau saat diajak rujuk karena hatinya sangat sakit dengan perlakuan Niko selama berumah tangga.


“Apa kamu tidak mau menikah lagi Widya?” tanya Andre sambil mengelus kepala Widya.


Bangku yang diduduki mereka jauh dari keramaian karena terletak di sudut taman sehingga tidak ada yang bisa melihat kemesraan Andre dan Widya.


“Saat ini aku belum memikirkan tentang pernikahan Andre.”


“Apa kamu tidak yakin aku dapat membahagiakan kamu nantinya?” tanya Andre lagi.


“Bukan tidak yakin Andre. Tapi untuk saat ini aku harus lebih fokus pada Noval. Noval butuh perhatian yang lebih dari aku, Andre karena sejak kecil dia kurang kasih sayang dari ayahnya. Kasih sayang yang diharapkan hanya dari aku seorang.”


“Aku akan tetap menunggu kamu, Widya sampai kamu benar-benar siap.”


“Kamu juga harus mikir seribu kali Andre sebelum bertindak. Jangan nantinya akan menjadi penyesalan bagi kamu karena kita masing-masing sudah memiliki anak. Itulah salah satu pertimbangan aku untuk bisa menikah lagi dengan kamu, karena anak kita tidak akan rela kalau orang tuanya menikah lagi. Pasti anak kita akan menyalahkan kita. Bastian akan menyalakan aku dan juga Noval akan menyalakan kamu kalau nantinya kita menikah lagi.”


“Tapi kalau kita bisa memberi pengertian kepada mereka pasti mereka akan paham dan tidak menyalahkan kita, Widya.”


“Masalah pernikahan nanti aja kita bahas Andre. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah kebahagiaan anak kita. Apa artinya kita bahagia sementara anak kita tertekan.”

__ADS_1


“Ini tugas kita untuk memberikan pengertian pada anak-anak kita, Widya. Kalau memang seperti itu mulai sekarang kita harus memberikan pengertian pada anak kita kalau nantinya kita akan menikah.”


“Dan aku harap pada kamu, Andre. Apapun yang terjadi kamu harus kembali ke Medan. Kamu harus selesaikan masalah rumah tangga kalian sampai tuntas. Kalau akhirnya kalian akan berpisah tapi berpisah secara baik-baik karena aku nggak mau nanti dianggap merusak rumah tangga kalian.”


“Tapi aku rasanya malas untuk kembali ke Medan, Widya. Aku rasanya lebih tenang tinggal di sini walaupun di sini aku tinggal dengan adikku.”


“Walaupun kita enak menumpang dengan saudara kita, tapi lebih enak lagi kalau kita tinggal di rumah kita sendiri Andre. Memangnya kamu mau kerja apa di Jakarta ini, bukankah kamu di Medan sudah enak. Kamu mengelola perusahaan mertua kamu sendiri.”


“Tapi aku tetap merasa tertekan Widya. Di Jakarta ini aku akan kerja ikut teman aku. Aku akan bekerja sebagai pegawai biasa. Bagiku itu lebih enak dan tenang dari pada jadi pimpinan tapi selalu tertekan.”


“Apa kamu sudah bicara sama mertua kamu tentang keinginanmu untuk tinggal di Jakarta ?” tanya Widya heran.


Andre pun menggelengkan kepalanya.


“Kenapa kamu tidak berterus terang padanya.”


“Aku malas berdebat dengan ayah mertuaku karena ujung-ujungnya dia selalu menyalahkan aku dan membela anaknya.”


“Memangnya sebesar apa kesalahan istri kamu membuat kamu ingin meninggalkannya,” tanya Widya.


“Rasanya aku nggak pantas cerita keburukan istri aku sama kamu, Widya. Tapi intinya aku sudah tidak tahan tinggal bersamanya dan rumah tangga kami sudah lama retak. Aku tetap berusaha untuk mempertahankannya tapi lama-kelamaan aku rasanya sudah lelah. Apalagi istri aku tidak pernah berubah sampai detik ini. Itulah salah satu alasanku tidak bisa mempertahankan rumah tangga kami.”


***


Shinta yang sudah mendapatkan informasi dari Wira bawa Widya tidak ke Jakarta tetap membuat Shinta tidak tenang. Siang ini sengaja Shinta pergi ke rumah Widya. Dia langsung menghentikan mobilnya tidak jauh dari rumah Widya. Kebetulan di dekat rumah Widya ada warung kecil sehingga Shinta turun dari mobil dan membeli tissue di warung itu. Sebenarnya Shinta ingin mencari informasi tentang keberadaan Widya apada tetangga Widya.


“Bu, ada jual tissue?” tanya Shinta pada pemilik warung.


“Ada Mbak. Mau berapa ya Mbak?” tanya pemilik warung itu.


“Dua aja Bu.”


“Sebentar ya Mbak, saya ambilkan.”


Pemilik warung langsung mengambilkan tissue yang ada di steling jualannya dan memberikannya pada Shinta.


“Maksudnya Noval anaknya mbak Widya?”


“Iya, benar Bu. Di mana rumahnya ya Bu?”


“Rumahnya di samping rumah saya Mbak.”


“Oh, berarti itu rumahnya. Tapi kelihatannya sunyi ya Bu. Apa nggak ada orang di rumahnya?” tanya Shinta lagi.


“Nggak Mbak. Mbak Widya itu tinggal sendiri. Dia seorang janda dan anaknya satu yaitu Noval dan sekarang Noval di pesantren.”


“Mbak Widya-nya tinggal sendiri. Oh gitu, berarti mbak Widya-nya sekarang yang di dalam rumah itu.”


“Tapi tadi pagi mbak Widya pergi ke Jakarta,” jelas penjual itu.


“Ke Jakarta?” ucap Shinta terkejut.


“Kebetulan tadi pagi mbak Widya pamit pada saya, katanya sih mau ke Jakarta dan mungkin besok sudah pulang.”


“Oh gitu. Ya udah Bu, makasih ya Bu atas informasinya,” ucap Shinta.


Dengan perasaan kesal buru-buru Shinta masuk ke dalam mobilnya. Kemudian dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hatinya sangat sakit mendengar penjelasan dari pemilik warung itu.


Begitu sampai di tempat yang jauh dari keramaian Shinta langsung menghentikan mobilnya. Dia langsung menghubungi Wira.


“Hallo Bu, ada apa?” tanya Wira heran.


“Wira, kamu itu nggak pernah becus dikasih kerjaan ya.”

__ADS_1


Wira langsung takut mendengar ucapan Shinta yang terdengar sangat marah.


“Memangnya ada apa Bu?”


“Ada apa... ada apa.... Kan udah saya katakan sama kamu bahwa kalau kerja yang becus. Percuma saya sudah menggaji kamu besar kalau hasil kerja kamu tidak memuaskan.”


“Maksud Ibu apa ya, saya nggak ngerti.” tanya Wira bingung.


“Tadi pagi kamu katakan wanita itu tidak pergi ke Jakarta dan kamu katakan bahwa wanita itu baru saja berangkat kerja. Kamu sebenarnya melihat sendiri atau hanya dengar dari omongan orang saja sih?” tanya Shinta marah.


“Saya lihat sendiri Bu, wanita itu keluar dari rumah memakai kemeja dan celana panjang. Kemudian membawa tas yang disangkutkan di lengannya. Tasnya juga tidak terlalu besar Bu. Berarti wanita itu kan berangkat kerja karena biasanya dia berangkat kerja dengan pakai kemeja dan celana panjang dan tas yang dibawanya juga sama dengan tas yang tadi pagi di bawahnya.”


“Kamu itu bego atau gimana sih Wira. Karena kamu lihat dia memakai kemeja seperti mau kerja dan membawa tasnya tidak terlalu besar, kamu anggap dia pergi kerja?”


“Memang iya Bu. Saya yakin wanita itu berangkat kerja,” ucap Wira tetap ngotot.


“Apa ada buktinya kalau dia berangkat kerja?”


“Memang sih nggak ada Bu. Yang saya lihat dia memakai pakaian dan tas yang biasa dipakai saat kerja.”


“Biar kamu tau ya Wira. Tadi pagi wanita itu berangkat ke Jakarta.”


“Apa Bu, ke Jakarta?” ucap Wira terkejut.


“Iya, benar. Wanita itu sudah di Jakarta sekarang.”


“Ini nggak mungkin Bu karena tadi pagi saya juga ke bandara untuk memastikan apakah wanita itu ke Jakarta atau tidak. Di bandara saya keliling-keliling Bu dari lantai 1 sampai ke lantai 3. Betis saya sampai sakit Bu karena banyak berjalan. Tapi saya tidak menemukan wanita itu juga Bu. Makanya saya berpikir kalau wanita itu tidak pergi ke Jakarta. Memangnya Ibu tau dari mana kalau dia pergi ke Jakarta Bu?”


“Saya taunya dari tetangganya barusan. Karena saya merasa tidak tenang makanya saya ngecek lagi ke sana. Kemudian saya tanya sama pemilik warung yang di samping rumahnya. Dari pemilik warung itulah saya tahu bahwa wanita itu pergi ke Jakarta tadi pagi.”


“Apa iya Bu, saya nggak percaya karena saya juga ke bandara keliling-keliling mencari wanita itu dan tidak ada juga. Memangnya wanita itu naik pesawat jam berapa Bu?” tanya Wira lagi bingung.


“Kalau masalah itu saya nggak tau karena itu bukan urusan saya,” jawab Shinta dengan penuh emosi.


Setelah Shinta menutup teleponnya dia langsung menyalakan mesin mobilnya dan melaju pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang pikirannya tidak tenang. Perasaan cemburunya sangat besar.


***


Sampai di rumah, dengan perasaan kesal dan cemburu Shinta langsung berkemas-kemas karena dia akan menyusul suaminya ke Jakarta. Setelah pakaiannya dimasukkan ke koper dia langsung keluar kamar dengan tergesa-gesa.


Bi Ijah yang melihat Shinta keluar kamar dengan mendorong bag dorong langsung bertanya.


“Ibu mau pergi ke mana?” tanya bi Ijah heran.


“Saya mau menyusul mas Andre ke Jakarta, Bi.”


“Kenapa tiba-tiba Bu?” tanya bi Ijah bingung.


“Iya Bi. Ada masalah genting yang harus diselesaikan.”


“Oh ya Bi, ayah di mana?”


“Tuan baru saja keluar Bu. Katanya mau ke kantor.”


“Kalau begitu, tolong sampaikan kepada ayah ya Bi. Saya ke Jakarta ada urusan penting. Tolong katakan seperti itu ya di Bi?”


“Baik Bu. Hati-hati di jalan ya Bu...”


Shinta langsung berangkat ke bandara. Sampai di bandara dia langsung check in dan menunggu pesawat berangkat. Dia duduk di kursi bersama penumpang lainnya. Sebentar-sebentar diliriknya jam tangannya. Dia sudah tidak sabar ingin segera sampai ke Jakarta.


Begitu ada pemberitahuan bahwa penumpang yang akan berangkat ke Jakarta agar segera masuk ke pesawat, Shinta langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam pesawat. Sengaja Shinta tidak memberitau suaminya kalau dia akan pergi ke Jakarta karena dia ingin memergoki suaminya.


Begitu duduk di kursi pesawat, Shinta langsung memenjamkan matanya. Dia ingin istirahat supaya ketika sampai di Jakarta pikirannya lebih fresh lagi. Tapi dia tidak dapat tidur juga karena pikirannya sedang kacau.

__ADS_1


‘Kamu telah menyakiti perasaanku Mas. Awas kamu Mas. Kalau sampai aku melihat kamu dengan wanita itu, aku akan menghajar wanita itu habis-habisan depan kamu. Aku akan membuat perhitungan dengan wanita itu. Kamu sengaja memperpanjang waktu kamu di Jakarta supaya kamu bisa bersenang-senang dengan wanita itu. Apa kamu pikir aku bodoh mas. Aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan,’ batin Shinta geram.


Shinta sangat marah ketika mengetahui bahwa suaminya sedang di Jakarta bersama Widya.


__ADS_2