
Setelah dua minggu menikah, Niko berkunjung ke rumah ibunya. Ibunya yang baru keluar dari kamar mandi melihat kedatangan Niko dengan membawa tas pakaiannya merasa heran.
“Ririn mana Niko?” tanya ibunya.
“Di rumah Bu.”
“Kenapa istri kamu tidak diajak sekalian kemari?” tanya bu Tanti.
“Besok Niko akan tugas luar kota Bu, jadi malam ini Niko tidur di rumah Ibu.”
“Kamu ini apa-apaan sih.... Udah nikah tapi tidur disini sendiri. Apa kata mertua kamu kalau melihat kamu nginap di rumah ibu sendiri,” jelas bu Tanti.
“Niko udah pamit pada ibu dan ayah mertua Niko dan mereka tidak masalah Bu.”
“Berapa lama kamu tugas luar kota Niko?”
“Kemungkinan seminggu Bu.”
“Seharusnya istri kamu, kamu bawa sekalian kemari biar dia tinggal di sini bersama ibu. Walaupun kamu tugas luar kota kan nggak salah dia tinggal di rumah ibu.” Bu Tanti terlihat sedikit kecewa.
“Ibu jangan khawatir tentang Ririn. Nanti kalau Niko udah pulang pasti Ririn akan Niko ajak tinggal di sini bersama ibu.”
Bu Tanti merasa heran dengan kelakuan anaknya. Biasanya yang namanya pengantin baru pasti terlihat ceria. Tapi beda dengan Niko. Dia terlihat sedikit murung tidak seperti biasanya.
Bu Tanti yang merasa penasaran dengan kelakuan Niko, kemudian memanggil Niko dan mengajaknya untuk bicara.
Didekatinya Niko yang sedang menonton tv di ruang tengah. Kemudian bu Tanti duduk di sampingnya.
“Niko, ada yang mau ibu tanyakan sama kamu.” ucap bu Tanti hati-hati.
“Tanya apa Bu, kelihatannya serius kali,” ucap Niko sambil tetap fokus ke layar tv.
“Gimana dengan pernikahan kamu?”
“Maksud Ibu apa?” tanya Niko tidak mengerti.
“Ibu lihat kamu sepertinya tidak bahagia setelah menikah.”
Niko hanya diam sesaat. Melihat Niko tidak merespon ucapan ibunya, bu Tanti kembali bertanya.
“Ibu lihat kamu sepertinya tidak bahagia. Apa kamu menyesal menikah dengan Ririn?”
“Entahlah Bu. Tapi rasanya Niko belum bisa menerima Ririn. Niko masih menganggap dia, adik Niko. Sekarang hubungan kami semakin renggang setelah kami menikah. Padahal sebelumnya kami sangat akrab. Tapi begitu menikah kami jarang bicara. Apalagi Ririn terkenal pendiam.”
“Ya kamu harus banyak bertanya pada dia supaya dia berbicara. Kamu ajak dia ngobrol seperti saat kalian sebelum menikah.”
“Tapi Niko merasa sungkan Bu.”
“Kenapa sungkan. Bukankah dia sudah menjadi istri kamu?”
“Entahlah Bu,” jawab Niko singkat.
“Kamu sejak tadi hanya entah...entah saja. Kamu harus cari solusinya. Kamu juga harus belajar untuk bisa menerimanya, karena kamu sudah tidak bisa mendapatkan Widya lagi. Widya sebentar lagi juga akan menikah.”
Begitu mendengar nama Widya, emosi Niko langsung memuncak. Dia langsung marah pada ibunya karena dulu sempat ditentangnya ketika akan rujuk kembali pada Widya. Masih mengatakan niatnya untuk rujuk saja, ibunya sudah marah. Apalagi kalau benar-benar Widya mau diajak rujuk.
“Semua ini karena Ibu. Kalau seandainya Ibu tidak melarang Niko untuk rujuk kembali dengan Widya, mungkin Niko sudah bahagia bersama Widya.
“Kenapa kamu berbicara seperti itu Niko. Kamu sudah pernah gagal dengan Widya, jadi kenapa mengulang lagi kegagalan itu.”
“Nggak selamanya kegagalan yang pernah kita alami akan kita alami lagi Bu. Bisa jadi kegagalan yang kita alami akan menjadi pengalaman yang terbaik supaya kita bisa berusaha lebih baik lagi,” jelas Niko meyakinkan ibunya.
“Tapi Ibu tidak pernah memberi kesempatan pada Niko untuk rujak kembali. Kalau Ibu memberi kesempatan pada Niko, mungkin akan lain ceritanya.”
“Jodoh itu sudah diatur Allah, Niko. Jadi kalau kamu tidak bisa menikah lagi dengan Widya, itu artinya kamu tidak berjodoh. Jadi kamu jangan menyalahkan ibu. Sekarang kamu harus syukuri apa yang telah kamu terima. Kamu sudah menikah dengan Ririn dan kamu harus bersikap baik pada dia.”
“Tapi Niko rasanya nggak bisa Bu. Niko sudah berusaha untuk mencintai Ririn dan menggantikan posisi Widya dihati Niko, tapi nggak bisa juga. Karena kami sejak kecil sudah dekat dan Niko tetap menganggap Ririn adalah adik.
__ADS_1
“Kamu harus belajar mulai dari sekarang untuk mencintainya. Ibu yakin kalau kamu berusaha pasti kamu akan bisa dan kamu jangan pernah mengecewakan Ririn.”
Niko hanya terdiam. Ada perasaan menyesal telah menikahi Ririn. Tapi tidak ada pilihan lain karena Widya yang diharapkan akan menjadi istrinya kembali, akan menikah dengan orang lain.
Di hati kecil Niko ada perasaan marah terhadap ibunya. Tapi dia tidak berani menolak keinginan ibunya karena Niko tahu betul bagaimana perjuangan ibunya dalam membesarkannya sampai dia berhasil seperti sekarang ini.
Walaupun dalam hati kecilnya dia sangat marah karena ibunya menentang keras saat dia akan rujuk dengan Widya, tapi Niko berusaha untuk ikhlas.
***
Setelah beres-beres Niko bersiap-siap untuk berangkat ke luar kota.
“Ibu, Niko berangkat ya. Do’akan Niko ya Bu,” ucap Niko sambil mencium tangan ibunya.
“Hati-hati di jalan ya Nak. Kalau sudah sampai tujuan langsung kabari ibu ya.”
“Baik Bu, Niko pasti memberitau Ibu.”
“Kamu udah pamit sama istri kamu kalau mau pergi ke luar kotakan?”
“Udah Bu. Tadi sebelum sarapan Niko telepon Ririn,” jelas Niko.
***
Ririn yang merasa kalau suaminya belum bisa menerimanya sepenuh hati merasa maklum saat Niko menginap di rumah ibunya meskipun ada sedikit rasa kecewa yang terselip dalam hatinya. Apalagi sikap Niko terlihat jauh berbeda saat sudah menikah. Dia tidak banyak berbicara pada Ririn membuat Ririn merasa serba salah. Bahkan saat berkumpul dengan kedua orang tua Ririn, Niko selalu diam saja tidak seperti biasanya ketika mereka belum menikah.
Sudah dua minggu mereka menikah tapi keduanya masih selalu berdiam diri. Bahkan kalau sudah masuk kamar Niko langsung merebahkan dirinya di sofa. Tidak pernah sekali pun dia tidur di ranjang bersama Ririn.
Selesai makan malam biasanya Niko langsung masuk kamar dan menyalakan tv. Sambil rebahan di sofa Niko menonton tv. Lama-kelamaan kalau sudah ngantuk Niko tertidur di sofa itu.
Terkadang untuk menutupi rasa curiga kedua orang tuanya, Ririn pun ikut masuk kamar kalau suaminya sudah masuk kamar. Pernah satu kali saat Niko masuk kamar dan Ririn ngobrol bersama kedua orang tuanya di ruang tengah, kemudian ibunya langsung menyuruhnya ikut masuk.
“Kamu temani suami kamu di kamar Ririn,” ucap ibunya.
Akhirnya Ririn pun ikut masuk ke kamar menemani Niko. Padahal Ririn merasa sedih dan kecewa melihat sikap Niko yang terlihat sangat berubah dan cuek paadanya.
***
Tugas Luar Kota
Sudah satu minggu Niko tugas luar kota dan hari ini rencananya Niko akan pulang. Begitu pulang dari kantor Ririn langsung mandi. Dia sengaja berdandan di depan cermin dan tidak lupa dipakainya parfum sedikit saja. Kamar ditatanya serapi mungkin supaya ketika suaminya pulang dia bisa berlama-lama di kamar.
Walaupun sudah sebulan mereka menikah tapi Niko masih dingin. Bahkan ketika tugas luar kota Niko tidak pernah menghubungi istrinya menanyakan kabar istrinya. Tapi Ririn tetap berusaha membuat suaminya bisa mencintainya.
Dia sudah tidak sabar menunggu kedatangan suaminya. Untuk menghilangkan rasa bosannya Ririn rebahan di tempat tidurnya dan memainkan ponselnya. Waktu berjalan terus dan magrib pun tiba, Niko belum pulang juga. Ririn merasa khawatir karena sudah hampir malam suaminya tidak pulang juga, padahal saat akan berangkat Ririn sudah bertanya pada Niko kira-kira sampai rumah jam berapa. Niko mengatakan pada Ririn kalau tidak ada halangan biasanya jam lima sore sudah sampai rumah. Tapi ini sudah menjelang malam Niko juga belum pulang.
‘Kenapa mas Niko belum sampai rumah juga. Apa terjadi sesuatu padanya?’
Ririn yang sangat khawatir akhirnya menelepon suaminya tapi ponsel Niko tidak aktif. Akhirnya Ririn keluar kamar dan mondar-mandir di teras menunggu kedatangan suaminya. Prasaannya tidak tenang sebelum suaminya pulang.
Melihat Ririn yang seperti orang kebingungan bolak-balik keluar masuk dari ruang tengah ke teras dan kembali lagi ke ruang tamu, ibu dan ayahnya langsung bertanya.
“Kamu kenapa Ririn, ibu lihat sejak tadi kamu mondar mandir kerjanya,’ ucap ibunya.
“Iya, ayah lihat juga seperti itu. Memangnya ada apa Ririn?” tanya ayanya lagi.
“Mas Niko kok belum sampai juga ya Bu, padahal dia katakan sore sudah sampai. Tapi ini sudah malam mas Niko belum sampai juga,” jelas Ririn.
Ibunya langsung tersenyum. “Mungkin jalanan macet makanya dia belum sampai. Coba kamu telepon aja.”
“Udah Ririn telepon Bu, tapi ponselnya nggak aktif.”
“Ya udah, kamu tunggu aja. Mudah-mudahan aja tidak terjadi apa-apa pada dia. Kamu banyak berdoa Ririn, semoga Niko sampai dengan selamat,” ucap ibunya.
“Ini juga belum terlalu malam. Mungkin habis isya nanti dia baru sampai.”
“Tapi kenapa lama kali ya Bu.”
__ADS_1
“Ya mungkin aja ada kendala,” ucap ayahnya.
“Maklumlah namanya pengantin baru, menunggu gitu aja nggak sabar.” Ibunya bercanda.
Ririn yang mendengar ucapan ibunya merasa malu sendiri. Dia langsung masuk ke kamar.
***
Niko yang sudah pulang dari tugas luar kota tidak langsung pulang ke rumahnya. Tapi dia pulang ke rumah ibunya.
Begitu sampai rumah ibunya, ibunya merasa heran.
“Kenapa kamu tidak langsung pulang ke rumah kamu Niko. Pasti Ririn sudah menunggu kamu.”
“Nanti aja Bu, Niko masih mau di rumah Ibu.”
Akhirnya bu Tanti membiarkan Niko istrirahat di depan tv. Dia menonton tv dan lama-kelamaan tertidur di sofa. Bu Tanti yang melihat Niko tertidur nyenyak hanya diam saja. Nanti kalau sudah bangun dari tidurnya rencananya bu Tanti akan menyurhnya pulang ke rumahnya.
***
Melihat Niko sudah bangun dari tidurnya, bu Tanti langsung menyuruhnya segera pulang.
“Niko, mau jam berapa lagi kamu pulang?” tanya bu Tanti.
“Sebentar lagi Bu,” jawab Niko sambil asik nonton tv.
“Tadi kamu katakan habis magrib kamu pulang. Ini sudah habis magrib kamu belum pulang juga. Kamu nggak kasihan sama istri kamu. Pasti Ririn sudah menunggu kamu sejak tadi. Kamu juga kenapa langsung kemar. Seharusnya kamu pulang ke rumah kamu dulu dan temui istri kamu karena kamu sudah menikah, Niko.”
“Niko malas aja Bu pulang ke rumah.”
“Memangnya kenapa. Kalau kamu merasa nggak enak tinggal bersama mertua, kamu kan bisa ngontrak rumah bersama Ririn.”
Niko hanya diam saja mendengarkan ucapan ibunya. Sebenarnya Niko malas pulang ke rumah bukan karena tinggal serumah dengan mertuanya, tapi dia merasa lebih nyaman tinggal di rumah ibunya sendiri.
Tapi kalau mengingat ucapan ibunya barusan Niko juga merasa kasihan dengan Ririn. Selama ini terlihat Ririn sangat baik padanya. Dia selalu menyiapkan sarapan pagi dan menyiapkan pakaian kerjanya juga. Sementara Niko tidak pernah memperhatikan Ririn. Kalau sudah selesai sarapan Niko langsung berangkat ke kantor tanpa memperdulikan Ririn berangkat jam berapa dan naik apa. Niko sedikit pun tidak pernah mengobrol dengan istrinya.
Sejak mereka menikah, begitu pulang kerja Niko langsung masuk ke kamar dan asik menonton tv di dalam kamar. Lama kelamaan Niko baru menyadari bahwa sebenarnya dia telah melukai perasaan istrinya. Jangankan untuk menyentuh istrinya, untuk ngobrol pun dia rasanya sudah tidak punya waktu. Niko selalu berbicara pada istrinya untuk hal yang penting saja. Sehingga di dalam kamar keduanya hanya diam saja. Sedangkan Ririn yang terkenal pendiam tidak pernah berbicara atau mengajak ngobrol suaminya. Saat di dalam kamar keduanya asik menonton tv tanpa ada berbicara sedikit pun. Niko sambil rebahan di sofa nonton tv, sedangkan Widya rebahan di tempat tidurnya.
‘Aku selama ini telah banyak bersalah pada Ririn. Walaupun aku tidak mempedulikan Ririn dan sikapku sangat dingin pada Ririn, tapi Ririn tetap bersikap baik padaku. Dia tetap menyiapkan sarapan pagi untukku bahkan baju dan sepatuku semuanya disiapkannya. Tapi aku sendiri tidak pernah bersikap baik padanya. Aku sudah pernah gagal berumah tangga dengan Widya dan aku nggak mau kalau pernikahanku yang kedua kalinya ini gagal lagi. Aku harus merubah sikapku pada Ririn. Aku akan belajar untuk mencintainya.’
Setelah berpikir cukup lama dan menyesali akan perbuatannya, akhirnya Niko memutuskan untuk pulang sekarang juga. Bu Tanti yang melihat Niko pulang dengan wajah ceria merasa sangat senang.
***
Hampir jam setengah sepuluh malam Niko sampai di rumah mertuanya. Saat masuk kamar terlihat Ririn sedang memainkan ponselnya. Begitu melihat kedatangan suaminya, Ririn langsung bangkit dan turun dari tempat tidur.
“Mas baru pulang, udah makan?” tanya Ririn terlihat khawatir.
Niko tidak menjawab. Dia hanya memandang wajah Ririn tidak berkedip. Begitu ditatapnya wajah Ririn, Niko merasa menyesal.
‘Ternyata Ririn sangat cantik,’ batin Niko dalam hati.
Niko menatap Ririn tidak berkedip membuat Ririn merasa heran.
‘Kenapa mas Niko menatap aku seperti itu. Apa dia marah,’ batin Ririn bingung.
“Mas sudah makan, biar aku siapkan ya,” ucap Ririn lagi.
Kemudian Ririn hendak keluar kamar tapi keburu tangannya ditarik Niko. Begitu dekat, Niko langsung memeluk erat tubuh istrinya membuat Ririn tidak bisa bernafas. Ririn langsung terkejut dengan kelakuan suaminya yang tiba-tiba memeluknya.
“Mas lepaskan...” ucap Ririn.
Niko tidak melepaskan pelukannya bahkan dia mempererat pelukannya.
“Maafkan aku, Ririn karena telah menyakiti perasaanmu. Aku tidak pernah memperlakukanmu sebagai istri aku padahal kita sudah menikah.”
Jantung Ririn seperti mau copot rasanya mendengarkan ucapan suaminya.
__ADS_1