
[“Tapi Ndre, aku nggak akan mungkin ke Jakarta menemui kamu.”]
[“Kalau kamu tidak mau juga ke Jakarta menemui aku, maka kamu tidak akan pernah menemui aku selamanya karena aku akan menetap selamanya di Jakarta.”]
[“Maksud kamu, kamu tidak pulang lagi kemari?”]
[“Nggak Widya. Untuk apa aku kembali lagi ke Medan kalau orang yang aku harapkan mendampingi aku sudah tidak mau.”]
[“Maksud kamu apa sih Ndre.”]
[“Aku sudah pernah mengatakan sama kamu bahwa aku akan menikahi kamu karena rumah tangga aku sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Kalau kamu tidak mau menemui aku di Jakarta, itu artinya kamu tidak mau sama aku. Berarti untuk apa aku pulang ke Medan karena yang kuinginkan hanya satu yaitu menjadikan kamu istri aku. Tapi kalau kamu tidak mau maka aku akan menetap di Jakarta dan berkumpul kembali dengan saudara-saudaraku di sini.”]
Andre sudah bertekat kalau Widya tidak mau dinikahi maka dia akan tetap di Jakarta. Apalagi saudara Andre semua tinggal di Jakarta makanya Andre sudah bertekat untuk kembali berkumpul dengan saudara-saudaranya.
***
Widya merasa bingung sendiri mengingat ucapan Andre barusan.
‘Apa yang dikatakan Andre itu benar bahwa dia tidak akan kembali lagi kemari kalau aku tidak menemuinya besok di Jakarta. Tapi aku nggak mau juga kehilangan Andre. Kalau Andre benar-benar tidak pulang lagi kemari maka aku tidak akan pernah bisa ketemu dia lagi. Tapi kalau untuk menjadi istrinya aku masih takut. Aku takut nanti istrinya akan marah padaku karena telah merebut Andre dari tangannya. Walaupun kata Andre rumah tangga mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi, tapi aku yakin istrinya tidak akan mau dicerai. Kalau benar Andre menceraikan istrinya dan menikahi aku maka akan jadi masalah juga bagi Noval karena Noval satu kelas dengan anaknya Andre. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku. Sejak aku ketemu Andre rasanya aku tidak bisa berpisah darinya. Sebaiknya aku besok pergi saja ke Jakarta untuk menemuinya. Manatau Andre dapat merubah pikirannya dan mau pulang kembali kemari,’ batin Widya.
***
Sore ini urusan Andre selesai, dia langsung pergi ke rumah adiknya yang ada di Jakarta. Kedua orang tuanya sudah meninggal sehingga yang ada hanyalah adik-adiknya saja Lina dan Vera. Andre sangat dekat dengan Vera karena Vera adalah adik yang paling bungsu.
Sore ini dia berniat untuk pergi ke rumah Vera. Setelah membereskan kopernya dia langsung pergi ke rumah Vera.
Melihat kedatangan Andre, Vera dan Lina menyambut abangnya dengan senyum ceria. Keduanya tampak bahagia dengan kedatangan Andre yang sudah lama tidak bertemu.
Begitu turun dari mobil, Andre langsung memeluk Vera dan kemudian Lina. Vera sambil menggandeng lengan abangnya masuk ke dalam rumah, sedangkan Lina membawakan koper Andre.
“Silahkan masuk Bang. Abang dan kakak sehat kan?” tanya Lina.
“Alhamdulillah kami semua sehat,” jawab Andre santai.
“Bastian gimana kabarnya Bang?” tanya Vera.
__ADS_1
“Bastian sekarang sudah pesantren dan tinggal di asrama.”
“Oh, gitu. Berarti Abang sekarang pengantin baru lagi donk.”
Andre langsung tersenyum mendengar ucapan adiknya.
“Mana anak dan suami kalian?” tanya Andre.
“Mas Anjas lagi piket sedangkan Doni tinggal di asrama Bang,” jawab Lina.
“Memangnya Doni sekolah apa Lina?”
“Doni sekolah SMP di Al Azhar dan tinggal di asrama Bang.”
“Suami kamu mana Vera?”
“Biasalah Bang. Mas Zulham dinas luar kota.”
“Oh, gitu....”
Vera adalah adik Andre paling kecil dan dia sudah menikah tiga tahun yang lalu tetapi belum dikaruniai seorang anak. Sedangkan Lina anak nomor dua setelah Andre. Anak Lina dan anak Andre hampir sebaya dan keduanya sama-sama tinggal di asrama. Sedangkan suami Lina adalah seorang polisi.
Kemudian Andre ngobrol bersama kedua adiknya sambil melepas kangen.
“Jadi gimana masalah rumah tangga Abang?” tanya Vera yang duduk di samping Andre.
Lina yang duduk di depan Andre terbengong. Dia sangat heran dengan ucapan adiknya.
“Memangnya kenapa rumah tangga bang Andre, Vera?” tanya Lina ingin tau.
“Bang, Vera ceritakan sama kak Lina ya.”
Andre pun mengangguk sambil tersenyum pada adiknya. Selama ini Andre sering curhat pada Vera tentang rumah tangganya yang sudah diambang kehancuran.
Kemudian Vera menceritakan pada Lina tentang rumah tangga abangnya.
__ADS_1
“Bang Andre kenapa sih nggak pernah cerita sama Lina, ceritanya selalu sama Vera aja,” ucap Lina sedikit cemburu.
“Maaf ya Lina bukan abang nggak mau cerita sama kamu, tapi abang dengar kamu juga ada masalah dengan keluarga suami kamu. Makanya abang nggak berani cerita sama kamu karena takutnya menambah beban pikiran kamu.”
Lina kemudian duduk di samping Andre sehingga Andre didampingi oleh kedua adiknya. Di sebelah kanannya Vera dan di sebelah kirinya Lina.
“Bang Andre, Abang harus pertimbangkan lagi tentang keinginan Abang untuk meninggalkan kak Shinta. Abang juga harus memikirkan masa depan Bastian,” ucap Lina menasehati abangnya.
“Tapi abang rasanya sudah tidak sanggup Lin. Abang seperti diperbudak oleh Shinta dan juga ayahnya. Ayahnya selalu membela Shinta dan selalu menyalahkan abang.”
“Namanya juga orang tua Bang pasti selalu membela anaknya walaupun itu salah,” ucap Vera sambil mengelus pundak abangnya.
Kedua adiknya sangat menyayangi Andre dan hubungan mereka juga sangat dekat terutama dengan Vera hubungannya sangat dekat. Mungkin karena Vera anak paling kecil sehingga dia selalu manja pada abangnya. Walau pun jarang ketemu tapi Vera setiap saat selalu menelpon abangnya.
“Apa karena Abang sudah ketemu dengan mantan pacar Abang waktu kuliah dulu makanya Abang sekarang ngotot ingin bercerai,” jelas Vera.
“Kamu kok tau Vera?” tanya Lina.
“Bang Andre ada cerita sama Vera, Kak,” jelas Vera.
“Jadi Abang baru saja ketemu sama mantan Abang?” tanya Lina heran.
Andre langsung mengangguk sambil tersenyum.
“Bukan Vera, bukan karena itu. Tapi memang abang sudah malas untuk mempertahankan rumah tangga kami,” ucap Andre.
“Bang, Lina hanya mengingatkan Abang. Abang jangan pernah sakiti kak Shinta, karena kalau Abang menyakiti perasaan kak Shinta misalnya Abang meninggalkannya, maka nanti imbasnya akan jatuh pada kami adik Abang. Kami juga nanti akan diperlakukan oleh suami kami seperti Abang memperlakukan istri Abang,” jelas Lina.
“Abang bukan menyakiti hati Shinta, tapi Shintalah yang selalu menyakiti hati abang.”
“Memangnya sudah separah apa sih kelakuan kak Shinta pada Abang sehingga Abang ngotot ingin meninggalkannya,” tanya Lina penasaran.
“Maaf ya kak Lina. Kak Lina kan nggak tau yang sebenarnya,” ucap Vera.
“Kamu juga nggak pernah cerita sama kakak, gimana kakak mau tau,” ucap Lina marah.
__ADS_1
Terlihat Lina sangat kesal karena tidak pernah tau masalah yang sedang dihadapi abangnya.