
" Adimas tertidur "
Adinda mendekati Adimas
" Kakak mungkin ingin tidur dengan papa "
Sean tersenyum
" Kakak "
Suara Aniel terdengar dari ambang pintu
" Kemarilah cantik "
Sean melambaikan tangannya dan Aniel mendekat
" Hoho kau tidak kangen papa "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Kangen , tapi tadi aku udah tidur siang sama papa , jadi kakak itu biar bisa tidur sama papa "
Aniel menyembunyikan wajahnya dari Adinda
" Baiknya "
Sean tersenyum
" Kakak itu siapa sih "
Aniel berbisik
" Kalau bibi ini kamu kenal "
Sean membuat Aniel menatap Adinda
" Kenal... Itu bibi yang ada di foto luang tamu sama di kamal bunda papa "
Aniel mengenali Adinda
" Boleh bunda menggendongnya "
Adinda meminta
" Boleh "
Sean menyerahkan Aniel kepada Adinda
" Hai cantik "
Adinda melihat Aniel terlalu takut untuk ia gendong
" Dia sepertinya takut "
Adinda tersenyum
" Kakak "
Aniel menatap Sean dengan Kilauan bening di matanya
" Tak apa , ini Bunda.. jadi jangan takut "
Sean membelai lembut kepala Aniel
" Ngak mau... Aniel mau kakak "
Aniel menggelengkan kepalanya
" Apa Aniel suka cake "
Adinda mengusap kepala Aniel
" Suka "
Aniel mengangguk
" Kalau puding "
Adinda bertanya kembali
" Suka "
Aniel mengangguk
" Kamu suka manis "
Adinda membawa Aniel dan Sean duduk di sofa
" Suka "
Aniel mengangguk kembali
" Bunda juga suka , bagaimana kalau bunda buatkan puding sama cake "
Adinda tersenyum
" Bunda bisa "
Aniel menatap Adinda
" Bisa dong , tapi papa ngak suka manis , makanya bunda dulu jarang buat "
Adinda menoel pipi Aniel
" Tapi kalau sama Aniel dulu papa suka manis , katanya kalena bunda suka "
Aniel mulai berceloteh ria kembali hingga waktu menunjukkan pukul 12 siang
" Kakak mau ke ruang kerja , Aniel sama bunda ya "
Sean membelai lembut kepala Aniel
" Iya "
Aniel mengangguk
" Oh ya bunda , ini dairy milik papa , Sean menemukan ini dua hari yang lalu "
Sean memberikan sebuah buku kecil yang dia letakkan di dalam nakas
" Ah iya , bunda ngak tau papamu suka nulis yang kayak gini "
Adinda memperhatikan sampul biru dari buku dairy yang ia pegang
" Sean ngak pernah tau kapan papa nulis , dan lagi Sean juga lihat papa sangat sibuk hingga tidak bisa menulis sesuatu seperti ini "
Sean mengambil jas kantornya yang bertengger di atas nakas
" Papa lucu "
Aniel menyentuh dairy Sbastian
" Kamu sudah baca "
Adinda bertanya
" Sean ngak sempat baca , lagipun Sean yakin isi dairy itu bunda semua , dan Sean sudah mendengar banyak cerita tentang bunda dari mulut papa sendiri "
Sean tersenyum
" Sean permisi "
Sean keluar dan menutup pintu
" Babay "
Aniel melambaikan tangannya kepada pintu yang sudah di tutup
" Gadis sekecil ini di siksa oleh ibunya , sungguh kejam "
Adinda mencium kening Aniel
" Kata papa bunda itu bundaku "
Aniel memeluk Adinda
" Benarkah "
Adinda terkejut
" Iya "
Aniel mengangguk
" Aniel mau main boneka , bunda tungguin Aniel di sini ya "
Aniel meminta
" Iya "
Adinda menurunkan Aniel dari pangkuannya
" Kita mulai baca "
Adinda membuka buku dairy Sbastian
Halaman 1
Hai dairy
Kata Adinda kalau aku menulis di buku itu akan membuat perasaan menjadi lebih baik , jadi aku akan menulis banyak di sini
" Ahaha mas Tian lucu banget sih "
Adinda terkekeh
Halaman 2
Woe dairy
Aku sebel hari ini , masa iya Sean hancurkan puzzle yang aku susun berhari-hari , dia juga mengancam akan merusak kamar Adinda kalau tidak di ajari membaca , aku sebal
" Sepertinya mas Tian terlalu terbawa suasana "
Adinda terkekeh
Halaman 3
Hai dairy
Aku bahagia lho , hari ini ulang tahun Sean dan dia suka sama hadiah perpus pribadinya , dan lagi katanya aku ini mirip sama Adinda , jadi senang deh
Halaman demi halaman dia baca sambil meladeni banyak pertanyaan Aniel , hingga satu halaman yang membuat hatinya bergetar hebat
Hei dairy , aku rindu dengan Adindaku sayang , hari ini hari ulang tahun Adindaku dan aku pergi mengunjungi makamnya , aku bawa Sean kesana , dan aku sampai menangis hebat di makam anakku yang tampan , tapi kata Sean aku ngak perlu nangis karena Adinda selalu bersamaku
Hei dairy , boleh ngak sih aku ketemu Adinda lagi , sekali aja , aku pasti seneng
Hei Adinda sayang kau harus tau bahwa aku sangat sayang dan cinta sama kamu love you baby
Di atas kertas terlihat beberapa tetes air mata yang telah mengering kini di tambah kembali dengan titik titik air mata milik Adinda
" Bunda "
Adimas terbangun
" Hai "
Adinda tersenyum
" Wah dia adik kecil yang biasanya ada sama Sean "
Adimas turun dari tempat tidur dan menghampiri Adinda
" Aku selalu mau punya adik "
Adimas meletakkan kepalanya di pundak Adinda
*Cup
Adinda mencium kening Adimas
Beberapa bulan berlalu , kabar Adinda dan putranya yang tinggal di kastil tidak boleh di sebarkan keluar dan hanya orang-orang kastil yang tau
Hari ini hari di mana tarawih untuk menyambut puasa pertama nya dengan adinda dan Sean membawa adinda juga Adimas untuk sholat tarawih di masjid dekat kastil
Sebelum berangkat sholat isya' di masjid
" Talawih talawih ayo kakak kita belangkat "
Aniel berlari dan berputar-putar di ruang tamu
" Adek mau sholat sama bunda apa sama kakak "
Sean turun menggunakan sarung putih polos dengan baju kokoh hitam , peci hitam dan sajadah yang bertengger di pundaknya
" Kakak keren "
Aniel memeluk kaki Sean
" Jangan gini nanti sarungnya melorot "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Bunda "
Adimas datang dengan memakai pakaian Sbastian
" Kamu seperti papamu "
Adinda tersenyum
" Aku tidak salah kan haha "
Sean dengan bangga tertawa
" Iya... Makasih "
Adimas memakai sarung hitam dengan baju kokoh hitam bergaris putih , peci hitam dan Sean menambahkan sajadah kesayangan Sbastian di pundak Adimas
" Kata papa ini baju kesayangannya karena baju ini di pakai saat hari raya pertama dengan bunda "
Sean menepuk pundak Adimas
" Benarkah "
Adimas menatap pakaian yang dia pakai
" Memang "
Adinda yang memakai mukenah putih menghampiri anak anaknya
" Mari berangkat "
Sean berjalan keluar
" Apa perlu pakai mobil tuan "
Salah satu pengawal bertanya
" Tidak paman , kami akan berangkat ramai ramai dengan para tetangga "
Sean berjalan keluar dan terlihat di luar gerbang banyak anak laki-laki yang berdiri di sekitar pintu gerbang
Sean yang kini tingginya bertambah karena rajin olahraga dan minum susu penambah tinggi badan , Sean sudah tidak bisa di sebut anak-anak lagi , dia sudah terlihat seperti siswa SMA betulan apalagi badannya yang terlihat kekar membuat saudara saudaranya tidak percaya bahwa Sean itu seorang adik
Setelah sampai di luar gerbang
" Hai Sean "
Banyak laki-laki yang menyapa Sean
" Hai "
Aniel menjawab sapaan untuk Sean
" Halo imut , mau sholat sama kakak Sean lagi "
Para laki-laki menggoda Aniel
" Sudah sudah , ayo berangkat "
Suara Sean yang semakin besar dan berat karena pubertas membuatnya benar-benar menjadi orang dewasa
" Dia siapa "
Teman-teman Sean menatap Adimas
" Kakakku , namanya Adimas dan ini bundaku "
Sean memperkenalkan Adimas dan Adinda
" Hai bibi selamat malam "
Mereka semua menyapa Adimas
" Malam "
Adinda tersenyum
__ADS_1
" Ayo bunda kita berangkat "
Sean berjalan di ikuti Adimas yang selalu bersama Adinda
Di halaman depan masjid
" Adek jadi mau sama siapa "
Sean menawari
" Sama bunda "
Aniel memeluk kaki Adinda
" Yasudah ayo "
Adinda membawa Aniel menuju tempat sholat para wanita
Aniel melaksanakan tarawih dengan tenang dan tidak berlarian kesana kemari karena janjinya dengan Adinda
Tadi
" Kalau adek bisa tenang saat sholat dan tidak berlarian , nanti akan bunda buatkan makanan kesukaan adek "
Adinda mengajukan jari kelingkingnya
" Janji "
Tanpa berpikir lagi , Aniel menautkan jari kelingkingnya
Saat sholat
" Tenang sekali haha "
Adinda terkekeh melihat Aniel yang hanya berdiri , duduk dan tiduran di atas sajadahnya tanpa berlarian mengikuti anak-anak yang lain
Setelah selesai tarawih
" Kakaaaak "
Aniel berlari dan memeluk Adimas yang sedang duduk di serambi masjid
" Halo "
Adimas membawa Aniel ke dalam pangkuannya
" Mana bunda "
Adimas bertanya
" Bunda lagi ke kamar mandi "
Aniel memberitahu
Orang-orang berhamburan keluar dari dalam masjid dan teman-teman Sean duduk di samping Adimas
" Hei kamu Adimas kan "
Salah satu teman Sean bertanya
" Iya "
Adimas mengangguk
" Aniel "
Teman Sean yang lain memanggil
" Kakak "
Suara Sean membuat semuanya menoleh
" Woe bro , kakak Lo sekolah di mana "
Mereka bertanya
" Belum , kan kakak gue pindahan , jadi habis hari raya sekalian "
Sean membuat Adimas menoleh
" Ayo pulang , bunda nungguin tuh "
Sean mengambil Aniel dari Adimas
" Bundaaaaa "
Aniel melambaikan tangannya
" Bunda bunda "
Aniel memukul pundak Sean dan Sean menurunkan Aniel
" Pulang yuk Bun "
Aniel memeluk kaki adinda
" Kalau Aniel "
Teman Sean bertanya lagi
" Kalau dia udah di daftarin , tapi katanya kekecilan jadi nunggu tahun ajaran baru , nanti boleh sekolah , padahal dia udah milih banyak barang buat sekolah "
Sean terlihat kecewa
" Hahaha "
Mereka tertawa melihat Sean yang kecewa
" Lihat Bray , ciwi ciwi perhatiin Lo "
Teman-teman Sean menepuk pundak Sean
" Gak peduli "
Sean mengibaskan tangannya
" Gue rasa mereka perhatiin kakak Lo deh "
Teman Sean yang lain menepuk pundak Adimas
" Hahaha dan mereka punya bahan gosip baru "
Sean menirukan gaya seorang wanita saat berjalan
" Hahahaha bener bener , dan kakak Lo langsung populer "
Perjalanan pulang cukup ramai karena teman-teman Sean yang berpisah di sepanjang jalan
" Jadi kan bangunin orang sahur "
Teman Sean menghentikan Sean saat hendak masuk ke dalam rumah
" Kayaknya enggak deh , kerjaan gue banyak"
Sean menolak
" Kalau gitu loh aja Bray "
Mereka menunjuk Adimas
" Maaf aku ngak bisa "
Adimas menolak
" Kakak Lo pemalu ya hahaha "
Mereka tertawa
" Oh ya , gue imam "
Teman Sean memperkenalkan dirinya
" Gue Alif "
" Gue Rian "
" Gue hakim "
" Dan gue Lukman "
Teman teman Sean memperkenalkan dirinya
" Aku Adimas "
Adimas tersenyum dan menerima jabat tangan semua orang
" Ayolah yan , nanti bangunin sahur "
Imam terlihat memaksa
Sean berjongkok di depan gerbang di ikuti yang lain dan Adimas
" Ya gak papa , kan nanti Aniel bisa di duduki di atas pickup terus bawa keliling "
Rian memberi saran
" Iya , bawa wafi sekalian "
Hakim menaik turunkan alisnya
" Hm..... "
Sean meletakkan telunjuknya di dagunya
" Gimana "
Imam bertanya
" Oke deh , jam dua kumpul ya "
Sean memberikan jempol
" Yes "
Mereka semua terlihat senang
" Lo ikutan juga ya "
Mereka menunjuk Adimas
" Aku juga "
Adimas menunjuk dirinya sendiri
" Iya lah , kan sekarang Lo teman kita kita"
Mereka semua mengiyakan
" Baik , nanti saya izin bunda "
Adimas mengangguk
" Jangan formal bro , santuy aja "
Imam menepuk pundak Adimas
" Iya "
Adimas mengangguk
" Ayo masuk kak , kalian pada pulang deh , nanti di cariin "
Sean berdiri
" Jangan lupa ya "
" Awas Lo pada gak Dateng "
Semua teman-teman Sean melambaikan tangannya
" Ayo kak "
Sean membawa Adimas masuk ke dalam
" Sean "
Adimas memanggil
" Iya kak "
Sean menoleh
" Tentang yang di masjid..."
Adimas tidak melanjutkan kalimatnya
" Maaf ya kak baru kasih tau kakak sekarang , sebenarnya Sean daftarin kakak seminggu setelah kakak sampai di sini , tapi katanya ngak bisa langsung karena kakak ngak sekolah SD , jadi Sean masih urusin surat suratnya "
Sean memberitahu
" Aku ngak akan bisa sekolah , aku tau itu "
Adimas tersenyum
" Itu perasaan kakak aja , tahun depan kakak akan masuk Mts kelas satu , jadi siap-siap ya , kakak sekolah nanti bareng Aniel "
Sean tersenyum
" Beneran "
Adimas menatap Sean
" Bener "
Sean mengangguk
" Nanti kita mungkin satu kelas , Sean akan loncat kelas nanti "
Sean tersenyum
" Beneran "
Adimas terlihat senang
" Ngak bohong kok "
Sean tersenyum
" Makasih Sean "
Adimas memeluk Sean
" Hahaha iya "
Sean tertawa
" Ngomong-ngomong teman temanmu tadi kelas berapa "
Adimas bertanya
" Ada yang kelas sembilan SMP , ada juga yang udah kelas dua SMA , yaaa sekitar itu lha "
Sean memberitahu
" Kalau begitu aku paling kecil "
Adimas menunjuk dirinya sendiri
" Sean dong "
Sean membenarkan
" Gini gini Sean ini kelas lima SD "
Sean membuat Adimas terbelalak
" Serius "
Adimas bertanya
" Terserah "
Sean mempercepat langkahnya
" Sean kamu serius kelas lima SD "
Adimas mengimbangi langkah kaki Sean
" Iya kak "
Sean melepas alas kakinya dan menggantinya dengan sendal lantai
" Ngak bohong "
Adimas mengganti sendalnya juga
" Kakeeeeek "
Adimas menghampiri pak Sam
" Sean masih kelas berapa sekarang "
Adimas bertanya
__ADS_1
" Adikmu itu masih SD , kenapa memangnya"
Pak Sam yang terlihat baru saja selesai memimpin tarawih para maid dan penjaga duduk di sofa ruang tamu
" Ngak percaya "
Adimas berdiri dan berlari menuju dapur
" Kakak lucu haha "
Sean tertawa
" Duduk sini "
Pak Sam menepuk sofa di sampingnya
" Iya kek "
Sean duduk dengan baik
" Kamu katanya mau buka cabang baru "
Pak Sam mengambil cemilan di atas meja
" Di Singapura "
Sean menjawab
" Jadi kamu yang berangkat apa Diablo "
Pak Sam memakan keripiknya
" Sean sendiri "
Sean menyalakan televisi
" Kapan berangkat "
Pak Sam mengambil remote dari Sean dan mengganti Chanel televisi yang Sean buka
" Habis hari raya "
Sean memakan keripik yang di bawa pak Sam
" Kakaaaak Aniel bawa cake "
Aniel membawa satu nampan kecil yang berisi dua cake dan ada Adinda yang membawa satu nampan berisi empat cake dan di temani beberapa teh dan susu
" Hm... Enak nih "
Sean membantu Aniel dan Adinda menata cake dan minuman di atas meja
" Papa sering lho belikan Aniel cake "
Aniel duduk dan mulai bercerita banyak tentang Sbastian hingga seorang pengawal berlari menuruni tangga
" TUAN TUAN SBASTIAN MEMBUKA MATANYA "
Begitu pengawal itu berteriak , Sean langsung saja melompati meja dan berlari menuju lantai atas di ikuti yang lain
Sean melompati empat anak tangga sekaligus agar cepat sampai di lantai atas
*Brak
Sean membuka pintu rawat dengan kasar
" Papa "
Terlihat Sbastian melihat sekeliling dan Mao yang sedang melepaskan beberapa alat bantu
" Biar aku Mao , kamu keluarlah "
Sean menghampiri Sbastian dan tersenyum
" S..si..apa ka..mu "
Sbastian berkata dengan tertatih-tatih
" Ini Sean "
Sean duduk di samping Sbastian dan melepaskan alat bantu yang menempel di dada Sbastian dengan air mata yang menetes
" Se..an "
Sbastian menaikkan tangannya sedikit ke atas
" Ini Sean pa "
Sean menganggap tangan Sbastian dan meletakkan tangan Sbastian di pipinya
" Ka..mu su..dah be..sar "
Sbastian menunjukkan senyum kecilnya
" Ma..na iel "
Sbastian memperhatikan sekeliling
" Aniel sedang perjalanan kemari "
Sean melepaskan seluruh alat bantu Sbastian
" Pa..pa ta..di d..de..gar su..a..ra bu..n..dan "
( Papa tadi dengar suara bunda )
Sbastian melihat Sean yang sedang merapihkan banyak alat
" Benarkah pa "
Sean tersenyum
" I..ya pa..pa ri..n..du Bu..n..da "
( Iya papa rindu bunda )
Sbastian memejamkan matanya
" Memangnya ada hari tanpa merindukan bunda "
Sean membuat Sbastian tersenyum
" Berapa lama agaknya aku tertidur , Sean sudah tumbuh sebesar ini "
Sbastian berbicara dalam hati
" Mas Tian "
Suara adinda memasuki pendengaran
" Aku mendengarnya , suara Adinda yang sama "
Sbastian membatin dan tersenyum
*Tuk
Terasa sesuatu yang amat lembut menyentuh kening Sbastian
Sbastian perlahan membuka matanya dan terlihat senyum manis yang tidak pernah dia lupakan
" A..din "
Sbastian menatap bibir yang ranum nan indah di depannya
" Ini adinda mas "
Terasa di pipi Sbastian sebuah tangan lembut nan hangat yang masih ia ingat setiap saat
" S..se..an "
Sbastian memejamkan matanya
" Papa , ini bunda "
Sean duduk di samping kiri Sbastian
Lidah Sbastian terasa kelu , hatinya berdebar kencang dan dia merasakan sesuatu yang sudah lama dia ingin rasakan
" Mas Tian "
Adinda tersenyum dengan air mata yang membasahi pipi putihnya
" K..ka..mu "
Sbastian mengangkat tangannya dan adinda langsung membawa tangan Sbastian ke dalam genggaman hangatnya
" Adinda rindu sama mas Tian , adinda minta maaf , Adinda salah , Adinda takut kalau mas Tian pergi "
Adinda memeluk Sbastian dengan lembut
" Dia istriku , apa aku bermimpi "
Sbastian mengangkat tangannya perlahan hingga tangannya menyentuh punggung adinda
" Adindaku di sini , semoga ini bukan mimpi , kenapa dia di sini , apa dia mau menjemputku , tapi bagaimana dengan anak anakku "
Sbastian berbicara dalam hati namun dirinya masih memeluk Adinda yang sekarang ini ada di dalam pelukannya
" Mas Tian "
Adinda melepaskan pelukannya dan melihat Sbastian memejamkan matanya
" Mas Tian "
Adinda mengguncang Sbastian namun Sbastian tidak merespon
" Mas Tian , mas.. mas kenapa "
Adinda mengguncang tubuh Sbastian dengan deraian air mata namun Sbastian tidak bergerak sama sekali
" Biar saya periksa "
Mao mengambil alih
" Bunda tenanglah "
Adimas memeluk Adinda yang sudah terisak-isak
" Kakak , papa kenapa "
Aniel memeluk kaki Sean
" Papa ngak kenapa-kenapa "
Sbastian membawa Aniel ke dalam pelukannya
" Tuan syok dan pingsan , sebentar lagi tuan akan sadar "
Mao membenarkan selimut Sbastian
" Nyonya tenang saja , dan saat tuan bangun nanti tolong panggil saya , saya ada di kamar tunggu , saya permisi "
Mao keluar dari kamar rawat
Kamar tunggu adalah kamar yang di buatkan khusus untuk Mao dan jenisnya untuk beristirahat , kamar tunggu di letakkan di lantai dua bersama kamar pak Sam dan kamar bi Aini
" Suamiku "
Adinda mengusap kening Sbastian
" Kakak dan adek istirahat aja "
Sean membawa Aniel dan Adimas untuk beristirahat di kasur sebelah
" Papa baik kan kak "
Aniel menarik tangan Sean saat dirinya sudah di baringkan
" Papa baik sayang , sekarang kamu tidur ya , besok kamu harus bangun sahur "
*Cup
Sean mencium kening Aniel
" Kakak istirahatlah "
Sean berdiri dan mengambil boneka Aniel yang ada di atas nakas
" Kakak "
Sean menepuk pundak Adimas
" Iya "
Tangan Adimas di tarik oleh Sean dan Adimas di minta beristirahat di samping Aniel
" Papa baik baik aja kak , jangan khawatir "
Sean menaikkan selimut Aniel dan Adimas
" Bunda istirahat saja , biar Sean yang jaga papa "
Sean menghampiri adinda
" Bunda di sini aja "
Adinda menggenggam tangan Sbastian
" Ya sudah , Sean akan ke ruang kerja sebentar , nanti Sean kembali "
Sean memakaikan selimut untuk Adinda
Adimas memeluk Aniel yang sudah terpejam dan memperhatikan apa yang di lakukan Sean hingga Sean keluar dari kamar rawat
" Papa baik baik aja kan , aku takut "
Adimas memeluk Aniel yang ada di sampingnya dan memejamkan matanya berharap rasa takutnya berkurang
Adimas sudah terbiasa memanggil Sbastian dengan sebutan papa , karena lidah Aniel dan Sean yang tidak terbiasa memanggil Sbastian dengan sebutan ayah
Adimas membuka matanya karena sesuatu yang menuntut untuk keluar
" Aku mau kencing "
Adimas mendudukkan dirinya dan tidak mendapati Aniel di sampingnya
" Mana Aniel "
Adimas menoleh ke kanan dan ke kiri
Terlihat Adinda yang awalnya duduk di kursi dan menunggu Sbastian sadar , kini sudah berbaring di samping Sbastian
" Papa udah sadar ya tadi "
Adimas berdiri dan melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 12.00
" Aniel di sini "
Adimas melihat Aniel yang tertidur di sisi kiri Sbastian
" Sean mana "
Adimas masuk ke dalam kamar mandi
Setelah keluar dari kamar mandi , Adimas mencari keberadaan Sean
" Ngak ada "
Adimas menutup pintu kamar Sean
" Ruang kerja "
Adimas berlari menuruni tangga hingga sampai di lantai dua
" Sean di sini "
Adimas melihat lampu ruang kerja Sean masih menyala
*Tok..tok
Adimas mengetuk pintu
" Masuk "
Sean menyahuti dari dalam
" Kamu belum tidur "
Adimas masuk dan menutup pintu
" Ini masih jam dua belas , nanti sahur lho kak "
Sean tidak memperhatikan Adimas
" Kenapa kamu ngak tidur "
Adimas mendekati Sean
" Sean tidur , tapi nanti "
Sean terlihat masih sibuk dengan laptopnya dan beberapa berkas di sampingnya
" Papa tadi gimana "
__ADS_1
Adimas berdiri di samping Sean