
" Baik anak-anak sekarang kita lanjutkan pelajarannya "
Bu guru aniel berdiri dan membagikan berbagai kartu buah
" Kalian tuliskan nama-nama anggota keluarga kalian ya mulai dari ayah ibu dan ayah kalian , jika punya kakak maka tulis namanya , jika punya adik juga tuliskan namanya ya "
Saat Bu guru aniel selesai membagikan kartu buah dan kembali ke meja guru lagi
Setelah beberapa saat semuanya sudah selesai menuliskan nama anggota keluarga masing-masing dan ada juga beberapa yang di bantu saat menuliskan anggota keluarganya
" Baiklah... Kalian akan maju sesuai dengan nomer absen ya "
Bu guru Clara mulai memanggil satu persatu nama siswa dan tibalah giliran dimana Sean harus maju ke depan
" Sean Ken silahkan ke depan "
Bu guru aniel memanggil
" Sean "
Bu guru aniel kembali memanggil nama Sean
" Iya Bu guru "
Sean berdiri dan berjalan ke depan
" Perkenalkan nama anggota keluarga Sean ya "
Bu guru aniel tersenyum
" Sean "
Bu guru aniel memanggil lagi karena Sean hanya menunduk melihat kertas catatan miliknya
" Hai namaku Sean... "
Sean berhenti sejenak
" Aku punya empat anggota keluarga "
Sean menatap kertasnya
" Dan aku yang ke empat "
Sean melihat teman-temannya yang menunggu Sean melanjutkan kalimatnya
" Ayahku namanya Sbastian , aku anak terakhir di keluargaku "
Sean menatap kembali kertasnya lalu matanya tidak sengaja menatap pintu
" Papa "
Sean menggumam
Sbastian tersenyum dan mengangguk mengisyaratkan agar kalimatnya di lanjutkan
" Itu papaku "
Sean menunjuk pintu dan semua orang yang ada di ruangan itu menoleh
" Bundaku namanya adinda dan aku juga punya kakak , kakakku namanya Adimas , aku suka coklat seperti bundaku , bundaku sangaaat cantik , kata papa tidak ada yang secantik bundaku dan kataku tidak ada yang setampan papaku "
Semua orang tertawa dan Sean juga tersenyum karena melihat papanya yang terkekeh
"kakakku juga sangat tampan , wajah kakakku mirip dengan bunda namun wajahku mirip dengan papa "
Sean mengungkapkan semuanya namun manik matanya tidak lepas dari Sbastian
" Apakah kamu tidur di temani bundamu "
Salah satu anak bertanya dan membuat perhatian Sean teralih
" Tidak , yang tidur di temani bunda itu kakak , aku tidur di temani papa "
Sean menjawab dengan sendu
" Kakakmu kelas berapa "
Anak yang lain bertanya
" Kakakku tidak sekolah "
Sean menjawab dengan lirih
" Kenapa "
Anak itu kembali bertanya
" Tidak apa-apa "
Sean menggeleng
" Kenapa kamu tidak di antar bundamu , aku di antar mamaku "
Anak yang lain lagi bertanya
" Karena..karena... "
Sean meremas kertas yang ada di tangannya dan menunduk dalam-dalam
Air mata Sean mulai mengalir meski Sean memejamkan matanya berusaha menahan air matanya sekuat tenaga , hingga Sean merasakan sebuah tangan hangat menyentuh pipinya
" Bunda sudah tenang di sana nak "
Sbastian mengusap pipi Sean dan memberikan senyuman terbaiknya untuk Sean
" Iya papa "
Sean mengangguk lalu memeluk erat papanya
Sbastian membawa Sean kedalam pelukannya namun itu membuat Sean semakin terisak
__ADS_1
" Sudah ya , apa Sean ngak malu di lihat teman-teman "
Sbastian berbisik dan membuat Sean melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya
" Sudah ya , sekarang belajar dulu "
Sbastian mengusap air mata Sean dan mencium kening Sean lama
" Duduklah "
Sbastian berdiri dan mengantarkan Sean menuju tempat duduknya
Setelah Sbastian pergi dari bangku siswa , ana mengusap bahu Sean
" kenapa "
Sean bertanya
" Kamu hebat "
Ana hanya berkata itu dan kembali melanjutkan kegiatan membacanya
Di bangku tunggu di sudut ruangan
" Maaf tuan saya sempat berburuk sangka dengan anda "
Salah satu ibu-ibu meminta maaf mewakili yang lain dan hanya di balas senyuman Sbastian
" Iya tuan , kami sempat berburuk sangka dengan anda "
Ibu-ibu yang lain menyambung kalimat
" Iya "
Sbastian hanya menjawab dengan singkat padat dan jelas
Setelah sesi belajar selesai , Sean pulang paling terakhir bersama Ana
" Ana , kamu di jemput siapa "
Sean bertanya karena di bangku tunggu hanya tertinggal papanya saja
" Ngak tau "
Ana mengedikkan bahunya
" Kamu sudah selesai "
Sean menutup tasnya dan melihat ana
" Sudah "
Ana memakai ransel miliknya dan berdiri
" Ayo "
Sean memakai ranselnya lalu menarik tangan Ana
Ana mengikuti tarikan tangan Sean dan menghampiri Sbastian yang sedang berbincang dengan Bu guru Clara
" Papa... "
Sean melepaskan Ana dan memeluk kaki Sbastian
" Hai "
Sbastian berjongkok dan mengelus kepala Sean
" Apa dia teman mu "
Sbastian berbisik pada Sean
" Iya , dia belum di jemput "
Sean mengangguk
" Bisakah kita tunggu dia sampai di jemput "
Sean memohon
" Boleh "
Sbastian mengusap rambut Sean dan berdiri
" Kalau begitu kami duluan "
Sbastian berpamitan kepada Bu guru Clara
" Babay kakak cantik "
Sean melambaikan tangannya dan menggandeng Ana keluar dan di balas lambaian tangan oleh Bu guru Clara
" Papa... Adek laper "
Sean dan yang lain menuju area parkir
" Iya , nanti kita mampir makan ayam "
Sbastian mengeluarkan kunci motornya dan membuka jok motor untuk mengambil dompetnya
" Ayo kita kesana "
Sbastian mengajak kedua anak-anak itu duduk di bangku taman di dekat pintu masuk sekolah
" Kalian mau beli apa , papa mau ke sana "
Sbastian menunjuk mini market di sebrang jalan
" Mau coklat , ana mau apa "
Sean bertanya
__ADS_1
" Terimakasih , ana ngak pengen apa-apa "
Ana menjawab dengan sopan
" Kalian tunggu di sini ya , papa bentar aja "
Sbastian mendudukkan Sean dan ana di bangku taman
" Baik papa "
Sean melambaikan tangannya saat melihat Sbastian menjauh
" Rumah kamu dimana "
Sean memulai pembicaraan
" Di jalan anggrek "
Ana mengeluarkan buku dari tasnya
" Oh.... "
Sean memberikan oh yang panjang
Setelah beberapa saat Sbastian kembali dengan menenteng kresek khas minimarket
" Wah... Coklat Sean ada ngak pa "
Sean menyambut kedatangan Sbastian
" Ada "
Sbastian mengeluarkan dua batang coklat dan memberikan kepada Sean dan ana masing-masing satu
Setelah beberapa saat , sebuah mobil sport Lamborghini Gallardo berhenti di depan gerbang masuk sekolahan
" Ana "
Seorang pria membuka pintu mobil dan meneriakkan nama ana
" Papa "
Ana melompat dari kursi taman dan menghampiri pria yang berjalan memasuki area sekolahan
" Hai anak papa "
Pria itu menggendong ana dan mencium pipinya
" Tuan Lagardio "
Sbastian berdiri dan menyapa pria itu
" Anda.... Tuan Sbastian "
Pria yang di panggil Lagardio itu terkejut
" Astaga , pakaian anda... Saya tidak percaya ini anda tuan "
Lagardio mengenali Sbastian
" Ya tuan , saya mengantarkan putraku sekolah "
Sbastian memanggil Sean yang sedang makan coklat dengan tenang
" Wah... Ini ya yang namanya Sean "
Lagardio menurunkan ana dan menyapa Sean
" Selamat pagi "
Lagardio menyapa dengan ramah
" Sudah siang papa "
Ana mengingatkan
" Ah benarkah , issss papa lupa sayang "
Lagardio mencium ana gemas
" Bisakah kita berbicara layaknya teman , sekarang kita di luar kantor dan percakapan ini tidak menyangkut pekerjaan "
Lagardio meminta
" Ok ok "
Sbastian melambaikan tangan ke atas dan ke bawah
" Papa Sean laper "
Sean menarik-narik celana panjang Sbastian
" Mau makan sekarang "
Sbastian berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Sean
" iya "
Sean mengangguk
" Bagaimana jika kita makan bersama , kebetulan juga hampir jam makan siang
" Boleh "
Sbastian menanggapi dengan baik
" Adek kita makan siang sama-sama ya "
Sbastian mengelus kepala Sean
" Sama ana , mau dong "
__ADS_1
Sean menanggapi dengan antusias