Aku Pangeran

Aku Pangeran
#43 ( keluargaku )


__ADS_3

" Baik anak-anak sekarang kita lanjutkan pelajarannya "


Bu guru aniel berdiri dan membagikan berbagai kartu buah


" Kalian tuliskan nama-nama anggota keluarga kalian ya mulai dari ayah ibu dan ayah kalian , jika punya kakak maka tulis namanya , jika punya adik juga tuliskan namanya ya "


Saat Bu guru aniel selesai membagikan kartu buah dan kembali ke meja guru lagi


Setelah beberapa saat semuanya sudah selesai menuliskan nama anggota keluarga masing-masing dan ada juga beberapa yang di bantu saat menuliskan anggota keluarganya


" Baiklah... Kalian akan maju sesuai dengan nomer absen ya "


Bu guru Clara mulai memanggil satu persatu nama siswa dan tibalah giliran dimana Sean harus maju ke depan


" Sean Ken silahkan ke depan "


Bu guru aniel memanggil


" Sean "


Bu guru aniel kembali memanggil nama Sean


" Iya Bu guru "


Sean berdiri dan berjalan ke depan


" Perkenalkan nama anggota keluarga Sean ya "


Bu guru aniel tersenyum


" Sean "


Bu guru aniel memanggil lagi karena Sean hanya menunduk melihat kertas catatan miliknya


" Hai namaku Sean... "


Sean berhenti sejenak


" Aku punya empat anggota keluarga "


Sean menatap kertasnya


" Dan aku yang ke empat "


Sean melihat teman-temannya yang menunggu Sean melanjutkan kalimatnya


" Ayahku namanya Sbastian , aku anak terakhir di keluargaku "


Sean menatap kembali kertasnya lalu matanya tidak sengaja menatap pintu


" Papa "


Sean menggumam


Sbastian tersenyum dan mengangguk mengisyaratkan agar kalimatnya di lanjutkan


" Itu papaku "


Sean menunjuk pintu dan semua orang yang ada di ruangan itu menoleh


" Bundaku namanya adinda dan aku juga punya kakak , kakakku namanya Adimas , aku suka coklat seperti bundaku , bundaku sangaaat cantik , kata papa tidak ada yang secantik bundaku dan kataku tidak ada yang setampan papaku "


Semua orang tertawa dan Sean juga tersenyum karena melihat papanya yang terkekeh


"kakakku juga sangat tampan , wajah kakakku mirip dengan bunda namun wajahku mirip dengan papa "


Sean mengungkapkan semuanya namun manik matanya tidak lepas dari Sbastian


" Apakah kamu tidur di temani bundamu "


Salah satu anak bertanya dan membuat perhatian Sean teralih


" Tidak , yang tidur di temani bunda itu kakak , aku tidur di temani papa "


Sean menjawab dengan sendu


" Kakakmu kelas berapa "


Anak yang lain bertanya


" Kakakku tidak sekolah "


Sean menjawab dengan lirih


" Kenapa "


Anak itu kembali bertanya


" Tidak apa-apa "


Sean menggeleng


" Kenapa kamu tidak di antar bundamu , aku di antar mamaku "


Anak yang lain lagi bertanya


" Karena..karena... "


Sean meremas kertas yang ada di tangannya dan menunduk dalam-dalam


Air mata Sean mulai mengalir meski Sean memejamkan matanya berusaha menahan air matanya sekuat tenaga , hingga Sean merasakan sebuah tangan hangat menyentuh pipinya


" Bunda sudah tenang di sana nak "


Sbastian mengusap pipi Sean dan memberikan senyuman terbaiknya untuk Sean


" Iya papa "


Sean mengangguk lalu memeluk erat papanya


Sbastian membawa Sean kedalam pelukannya namun itu membuat Sean semakin terisak

__ADS_1


" Sudah ya , apa Sean ngak malu di lihat teman-teman "


Sbastian berbisik dan membuat Sean melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya


" Sudah ya , sekarang belajar dulu "


Sbastian mengusap air mata Sean dan mencium kening Sean lama


" Duduklah "


Sbastian berdiri dan mengantarkan Sean menuju tempat duduknya


Setelah Sbastian pergi dari bangku siswa , ana mengusap bahu Sean


" kenapa "


Sean bertanya


" Kamu hebat "


Ana hanya berkata itu dan kembali melanjutkan kegiatan membacanya


Di bangku tunggu di sudut ruangan


" Maaf tuan saya sempat berburuk sangka dengan anda "


Salah satu ibu-ibu meminta maaf mewakili yang lain dan hanya di balas senyuman Sbastian


" Iya tuan , kami sempat berburuk sangka dengan anda "


Ibu-ibu yang lain menyambung kalimat


" Iya "


Sbastian hanya menjawab dengan singkat padat dan jelas


Setelah sesi belajar selesai , Sean pulang paling terakhir bersama Ana


" Ana , kamu di jemput siapa "


Sean bertanya karena di bangku tunggu hanya tertinggal papanya saja


" Ngak tau "


Ana mengedikkan bahunya


" Kamu sudah selesai "


Sean menutup tasnya dan melihat ana


" Sudah "


Ana memakai ransel miliknya dan berdiri


" Ayo "


Sean memakai ranselnya lalu menarik tangan Ana


Ana mengikuti tarikan tangan Sean dan menghampiri Sbastian yang sedang berbincang dengan Bu guru Clara


" Papa... "


Sean melepaskan Ana dan memeluk kaki Sbastian


" Hai "


Sbastian berjongkok dan mengelus kepala Sean


" Apa dia teman mu "


Sbastian berbisik pada Sean


" Iya , dia belum di jemput "


Sean mengangguk


" Bisakah kita tunggu dia sampai di jemput "


Sean memohon


" Boleh "


Sbastian mengusap rambut Sean dan berdiri


" Kalau begitu kami duluan "


Sbastian berpamitan kepada Bu guru Clara


" Babay kakak cantik "


Sean melambaikan tangannya dan menggandeng Ana keluar dan di balas lambaian tangan oleh Bu guru Clara


" Papa... Adek laper "


Sean dan yang lain menuju area parkir


" Iya , nanti kita mampir makan ayam "


Sbastian mengeluarkan kunci motornya dan membuka jok motor untuk mengambil dompetnya


" Ayo kita kesana "


Sbastian mengajak kedua anak-anak itu duduk di bangku taman di dekat pintu masuk sekolah


" Kalian mau beli apa , papa mau ke sana "


Sbastian menunjuk mini market di sebrang jalan


" Mau coklat , ana mau apa "


Sean bertanya

__ADS_1


" Terimakasih , ana ngak pengen apa-apa "


Ana menjawab dengan sopan


" Kalian tunggu di sini ya , papa bentar aja "


Sbastian mendudukkan Sean dan ana di bangku taman


" Baik papa "


Sean melambaikan tangannya saat melihat Sbastian menjauh


" Rumah kamu dimana "


Sean memulai pembicaraan


" Di jalan anggrek "


Ana mengeluarkan buku dari tasnya


" Oh.... "


Sean memberikan oh yang panjang


Setelah beberapa saat Sbastian kembali dengan menenteng kresek khas minimarket


" Wah... Coklat Sean ada ngak pa "


Sean menyambut kedatangan Sbastian


" Ada "


Sbastian mengeluarkan dua batang coklat dan memberikan kepada Sean dan ana masing-masing satu


Setelah beberapa saat , sebuah mobil sport Lamborghini Gallardo berhenti di depan gerbang masuk sekolahan


" Ana "


Seorang pria membuka pintu mobil dan meneriakkan nama ana


" Papa "


Ana melompat dari kursi taman dan menghampiri pria yang berjalan memasuki area sekolahan


" Hai anak papa "


Pria itu menggendong ana dan mencium pipinya


" Tuan Lagardio "


Sbastian berdiri dan menyapa pria itu


" Anda.... Tuan Sbastian "


Pria yang di panggil Lagardio itu terkejut


" Astaga , pakaian anda... Saya tidak percaya ini anda tuan "


Lagardio mengenali Sbastian


" Ya tuan , saya mengantarkan putraku sekolah "


Sbastian memanggil Sean yang sedang makan coklat dengan tenang


" Wah... Ini ya yang namanya Sean "


Lagardio menurunkan ana dan menyapa Sean


" Selamat pagi "


Lagardio menyapa dengan ramah


" Sudah siang papa "


Ana mengingatkan


" Ah benarkah , issss papa lupa sayang "


Lagardio mencium ana gemas


" Bisakah kita berbicara layaknya teman , sekarang kita di luar kantor dan percakapan ini tidak menyangkut pekerjaan "


Lagardio meminta


" Ok ok "


Sbastian melambaikan tangan ke atas dan ke bawah


" Papa Sean laper "


Sean menarik-narik celana panjang Sbastian


" Mau makan sekarang "


Sbastian berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Sean


" iya "


Sean mengangguk


" Bagaimana jika kita makan bersama , kebetulan juga hampir jam makan siang


" Boleh "


Sbastian menanggapi dengan baik


" Adek kita makan siang sama-sama ya "


Sbastian mengelus kepala Sean


" Sama ana , mau dong "

__ADS_1


Sean menanggapi dengan antusias


__ADS_2