Aku Pangeran

Aku Pangeran
#121 ( Fleur )


__ADS_3

" Mas dari mana "


Fleur menggosok matanya yang lengket


" Habis ngobrol sama papa "


Sean mengusap kepala Fleur


" Mas ngak bisa tidur "


Fleur mengedipkan matanya karena masih terasa berat


" Iya , lagian mas juga harus jaga sayangku ini kan "


Sean naik dan berbaring


" Mas..aku mau di usap usap "


Fleur menggenggam tangan Sean


" Dimana "


Sean berbaring di samping Fleur


" Di usap perutnya "


Fleur mengusap perutnya


" Enak "


Sean bertanya


" Enak mas hehe "


Fleur menelusupkan wajahnya di dalam ketiak Sean


" Hei ngapain ke situ "


Sean mengusap kepala Fleur


" Di sini hangat hehe "


Fleur menunjukkan deretan gigi putihnya


" Ada ada saja sayangku ini "


Sean membawa kelapa Fleur ke atas lengannya dan memeluk Fleur dari belakang


Esok hari


" Sayang , ini sudah siang... Ayo bangun "


Sean mengusap kepala Fleur


" Hm.... "


Fleur menepis tangan Sean dan kembali memejamkan matanya


" Mas mau ke rapat hari ini "


Sean berpamitan


" Jangan "


Fleur menarik tangan Sean


" Ayolah cantik , semua sudah nungguin mas"


Sean mengusap kepala Fleur


" Hiks... Ngak mau .... Jangan pergi.... Hiks.. huaaaaaa "


Fleur langsung menarik tangan Sean dan menangis dengan keras


" Kakak kenapa "


Terdengar suara Aniel dari arah pintu


" Masuk "


Sean mempersilahkan


*Griet


Pintu terbuka


" Kakak kenapa "


Aniel langsung memeluk kaki Sean


" Ada apa Sean "


Adinda masuk dan bertanya


" Bayi besarnya Sean lagi manja "


Sean mengusap kepala Fleur


" Turuti saja permintaannya , itu permintaan anakmu bukan istrimu "


Terdengar suara Sbastian dari pintu


" Hm.... Iya sih , tapi gimana caranya kasih tau mereka kalau Sean ngak jadi ikut rapat "


Sean mengerenyitkan keningnya


" Aku bisa "


Suara Adimas menyahuti


" Boleh , bilang ya... Kalau lagi ada halangan"


Sean memberi pesan


" Okeh... Tapi tempatnya di mana "


Adimas bertanya


" Hm..... Oh si Roux bisa menunjukkan jalan"


Sean menunjuk Roux yang masih tidur di sudut ruangan


" Kalau gitu Aniel mau ikut "


Aniel mengangkat tangannya


" Boleh "


Sean mengangguk


" Roux hapal jalan di sini , jadi kalian ngak akan tersesat "


Sean melambaikan tangan dan Roux mendekat


" Kyung... "


Roux mendekat


" Berikan ini kepada Aloe "


Sean memberikan sapu tangan merah


" Kyung "


Roux menerima sapu tangan Sean dengan mulutnya


" Kami berangkat "


Adimas membawa Aniel dan Roux keluar kamar


" Hati hati anak-anak "


Adinda mengusap kepala Aniel


" Iya bunda "


Mereka berdua pergi meninggalkan rumah


" Papa dan mama udah makan "


Sean bertanya


" Tinggal kalian yang belum makan "


Sbastian menjawab


" Tuh semuanya udah makan , ayo kita makan "


Sean mengusap kepala Fleur


" Di suapin ya "


Fleur meminta


" Iya "


Sean membantu Fleur berdiri


Di dapur


" Mas yang masak "


Fleur bertanya


" Iya , ini mas sama bunda yang masak "


Sean mendudukkan Fleur di atas kursi


" Fleur boleh ngak di suapin sama bunda "


Fleur berbisik


" Boleh "


Adinda menjawab


" Makasih "


Fleur tersenyum malu


" Mas ngak makan "


Fleur memperhatikan Sean yang mengambilkan makanan untuknya


" Emang kenapa hm... Kamu mau makan sama mas "


Sean meletakkan piring Fleur


" Mas udah makan ya "


Fleur menunduk


" Udah , tapi sedikit "


Sean mengangguk


" Kalau begitu mas makan lagi ya , sama Fleur di sini "


Fleur meminta


" Boleh "


Sean mengambil makanan untuknya sendiri dan duduk di samping Fleur


" Padahal Sean makan banyak tadi hahaha"


Sbastian menertawakan Sean yang terlihat makan dengan santai


" Em... Papa udah makan "


Fleur bertanya


" Sudah , tadi makan sama bunda "


Sbastian duduk di samping Sean dan menjawab


" Bunda ngak makan lagi "


Fleur bertanya


" Kamu makan dulu dan habiskan , nanti bunda tambah kalau kurang "


Adinda dengan telaten menyuapi Fleur


" Kenapa bunda mau aku minta kayak gini "


Fleur menunduk dan bertanya


" Memang kenapa "


Adinda tersenyum


" Padahal bunda kan bukan ibu ku "


Fleur menjawab pertanyaan Adinda


" Kamu kan istrinya Sean , jadi ya kamu putri bunda , kan Sean anaknya bunda "


Adinda menjawab


" Hehe makasih bunda "


Fleur tersenyum senang


*Brak


Sean tiba-tiba berdiri dan menggebrak meja


" Kenapa mas "


Fleur memegang tangan Sean


" kalian harus kembali "


Sean menggenggam tangan Fleur


" Maksudnya "


Sbastian bertanya


*Brak


Sean menyisihkan kursi yang dia duduki dengan kasar dan berlari keluar dari dapur


" Mas... Mas kenapa "


Fleur mengikuti langkah Sean


Fleur melihat pintu kamar yang terbuka lebar


" Mas "


Fleur masuk ke dalam kamar


Terlihat Sean memakai jaket kulit tebal , sepatu dan topi dari kulit rusa buatan Fleur


" Kenapa mas pakai ini "


Fleur bertanya


" Sayang , kamu harus ikut papa dan bunda"


Sean memegang pundak Fleur


" Kenapa "


Fleur meremas lengan Sean


" Mereka di sini , mereka mencarimu , kamu harus pergi "


Sean berbalik dan mengambil pedang yang dia simpan rapat-rapat di dalam kotak


" Mas... Fleur ngak mau pisah dari mas lagi"


Fleur menolak


*Brak


Sean membuka lemari dan memakaikan pakaian tebal untuk Fleur


" Kamu harus pergi , selamatkan anak kita "


Sean memakaikan pakaian tebal untuk Fleur


" Ngak mau... Aku mau sama mas "


Fleur menitikkan air matanya


*Grep... Cup


Tanpa aba-aba , Sean langsung ******* bibir Fleur dengan kasar


*Brak


Sean menutup pintu kamar


" Mas... Mas mau apa "


Fleur terkejut melihat Sean melepaskan celananya


" KYAAAAAAA SAKIT MAS "


Fleur berteriak saat Sean tiba-tiba memasukkan miliknya dengan kasar


*Clap...clap...


Sean kembali melumas bibir Fleur dan membuat Fleur semakin bertariak


Dua jam setelah itu


" Mas "


Terdengar suara lirih Fleur


" Kamu tidak akan menurut jika mas tidak seperti ini , maafkan mas "


Sean mengusap dan memeluk Fleur dengan lembut


*Tok...tok...tok...


Pintu kamar Sean di ketuk


" Sebentar "


Sean langsung memakan Fleur pakaian dan membenahi pakaiannya sendiri


*Griet


Sean membuka pintu


" Tuan "


Terlihat Aloe berdiri di depan pintu

__ADS_1


" Alula sudah datang "


Sean bertanya


" Sudah , baru saja datang dengan sebuah perahu "


Aloe menjawab


" Adik dan kakak sudah datang "


Sean berbalik menghampiri Fleur


" Sudah "


Aloe mengangguk


" Mas jangan tinggalin Fleur lagi "


Fleur menatap Sean dengan sayu


" Ini berbahaya , cuma di rumah mas yang aman , kamu harus pergi "


Sean mendudukkan Fleur di atas pangkuannya


" Mas "


Fleur menggelengkan kepalanya


" Percaya dengan mas "


Sean menyatukan keningnya dengan Fleur


" Jangan "


Fleur mengusap pipi Sean


" Mas janji , nanti mas akan pulang "


Sean menggenggam tangan Fleur


" Jangan pergi "


Fleur menggeleng


" Maaf sayang , mas harus melindungi kalian"


*Cup


Sean mengecup telapak tangan Fleur


" Sean "


Sbastian memanggil


" Lihat , aku dan papa itu sama , jika Fleur merindukan mas , minta papa berpakaian seperti mas... Ya sayang "


Sean menunjuk Sbastian


" Ngak mau... hiks.. jangan pergi "


Fleur memejamkan matanya


" Maaf ya cantiknya mas , tapi ini tugas untuk melindungi kalian "


Sean berdiri dan membawa Fleur ke dalam gendongannya


" Ayo ke tempat Alula "


Sean berjalan keluar dari kamar


Sepanjang perjalanan , Fleur selalu memandangi wajah Sean dan sesekali mengusapnya


Di pintu masuk pulau


" Salam tuan "


Alula datang dengan beberapa orang


Sean naik ke atas perahu Alula dan mendudukkan Fleur di salah satu tempat khusus yang telah Alula siapkan


" Ini punya semua saudara mas "


Sean melepas gelang kembar miliknya


" Gelang ini punya banyak informasi tentang mas , jika ada orang bernama Diablo datang , tunjukkan gelang ini kepadanya "


Sean memakaikan gelangnya di tangan Fleur


" Ngak mau "


Fleur menggeleng


" Dengar sayang , jika anak kita laki-laki namakan dia Teck Etiez Faloir , artinya pohon jati yang berharga "


*Cup


Sean mencium perut Fleur


" Dan namakan dia Soliel Levent jika perempuan , artinya matahari terbit "


*Cup


Sean mengecup kening Fleur


" Saya mengingatnya "


Suara key terdengar dari belakang


" Bagus "


Sean tersenyum


" Dan cincin ini akan selalu terhubung , kamu dan aku "


Sean mengusap cincin dari tanduk rusa milik Fleur


" Pulanglah nanti "


Fleur memeluk Sean


" Iya... Pasti "


Sean membalas pelukan hangat Fleur


" Mas pergi ya "


Sean menangkup wajah Fleur


" Hati-hati "


Fleur menggenggam tangan Sean


" Iya "


Sean tersenyum


*Krak


Rambut Fleur terpotong di ujung


" Alula "


Sean terkejut


*Sring


Alula membuat rambut Sean masuk ke dalam sebuah kantung kecil dengan tali


" Di tempatku ini adalah jimat agar doa dari orang yang kita sayang selalu bersama kita"


Fleur memakaikannya di leher Sean


" Kalau begitu buatkan untuk Fleur "


Sean menarik rambut panjangnya


*Krak


Fleur membuatkan hal serupa dari rambut Sean


" Sudah "


Alula memakaikannya di leher Fleur


" Kakak cepat pulang ya "


Aniel memeluk pinggang Sean


" Jaga istri kakak ya "


Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya


" Aniel janji "


Aniel mengangguk


" Bagus "


*Cup


Sean mengecup kening Aniel


" Aniel akan rindu kakak "


Aniel memeluk erat leher Sean


" Kakak akan rindu dengan mu "


Sean mendudukkan Aniel di samping Fleur


" Jaga mereka "


Sean memeluk Adimas


" Aku mengerti "


Adimas membalas pelukan Sean


" Sean titip Fleur ya pa , bunda "


Sean memeluk kedua orang tuanya


" Iya "


*Cup


Sbastian dan Adinda mencium kening Sean


Setelah beberapa percakapan perpisahan , akhirnya Sean turun dari perahu Alula dan melihat keluarganya pergi


" KAKAK.... AKU SAYANG KAKAK "


Terdengar suara teriakan Aniel hingga mereka menghilang di dalam portal dimensi


" Jaga diri kalian baik-baik "


Sean menggumam


" Kalian pergi dari sini , aku akan pergi "


Sean naik ke atas perahu kecil yang di siapkan untuknya


" Dan tolong jaga Roux , dia tidak terlihat dari tadi "


Sean menaikkan jangkarnya


" Baik "


Tetua mengangguk


" Tapi tuan , anda yakin "


North bertanya


" Kalian para petarung di perlukan di sini , jadi aku akan pergi sendiri "


Sean menjawab


Setelah beberapa percakapan dan beberapa pemberian di terima Sean , akhirnya pulau berlayar meninggalkan Sean dan menyamarkan dirinya dengan laut


" Hm... Sepi sekali "


Sean menyadari dirinya berada di tengah-tengah laut sendirian


*Krusuk.. krusuk...


Terlihat sebuah gerakan dari salah satu tas bawaan Sean


*Sring


Sean mengeluarkan belatinya


" KYUUUUUNG... "


Terlihat Roux langsung melompat ke dalam pelukan Sean


" Astaga "


*Brak


Sean terkejut saat Kyung langsung membuatnya terlentang di atas perahu


" Hahahaha kau mengikutiku ya "


Sean mengusap kepala Kyung


" Kyung.... Kyung.... "


Roux menjilati seluruh wajah Sean


" Iya iya aku tidak akan meninggalkanmu "


Sean mengangkat Roux dari wajahnya


" Kyung... "


Terlihat senyuman dari wajah Roux


" Hahaha aku ngak sendiri hahaha "


Sean tertawa


" Ayo berlayar Roux "


Sean membuka layar kapal dan kapal Sean mulai berlayar


Dua bulan Sean terombang ambing di lautan hingga persediaan makanan Sean hampir menipis


" Kita harus segera menepi "


Sean berdiri dan mengeluarkan teropongnya


" Kyung "


Roux berteriak dari belakang


" Woah.... Pulau "


Sean terkejut


" Kita ke sana Roux "


Sean melipat layarnya dan mulai berlayar menuju pulau yang terlihat di ujung


Setelah beberapa saat


" Akhirnya , kita temukan daratan "


Sean turun dan dan menurunkan Roux dari perahu


*Nguuung


Sean mendengar suara mendengung di telinganya


Saat Sean membuka portal miliknya, batu biru miliknya bercahaya dan mengeluarkan suara dengungan


" Kyung... Ggrrrr.... "


Roux terlihat menunjukkan taringnya dan terlihat mewaspadai arah hutan di sana


" Ada apa Roux "


Sean mengembalikan batu birunya


" Kyung.. Kyung... Kyung... Kyung... "


Roux terus mengeluarkan suara


*Sring


Sean mengeluarkan pedangnya dari dalam kotak


" Siapa di sana "


Sean berjalan mendekati semak-semak


*Krusuk.. krusuk


Semak semak itu bergerak


" Kya... Hahaha "


Terlihat seorang anak kecil yang baru belajar merangkak mengejutkan Sean


" Bagaimana bisa anak ini ada di sini "


Sean meletakkan pedangnya


" Apa orang tuamu ada di sini "


Sean menggendong batita itu dan membersihkan pakaiannya yang terlihat terbuat dari kulit hewan


" Kya Kya hahaha "


Batita itu tertawa dan terlihat bermain dengan pakaian Sean


" Ayo Roux "


Sean berjalan meninggalkan pantai


" Kyung... "


Roux melompat lompat menatap perahu


" Sudah ku bawa semua Roux "


Sean berjalan masuk ke dalam hutan di ikuti Roux


" Kyung... "


Roux mengikuti langkah kaki Sean


" Hm.... Kalau kamu di sini , pasti di sekitar sini ada desa atau semacamnya "

__ADS_1


Sean menggumam


" Kyung "


Tiba-tiba Roux menarik celana Sean


" Kenapa Kyung "


Sean berhenti


" Kyung... Kyung... "


Roux meninggalkan Sean dan berjalan ke arah kanan dan itu membuat Roux hilang di antara semak-semak


" Apa kau menemukan sesuatu "


Sean bertanya


" Kyung... "


Roux berteriak dari kejauhan


" Jangan jauh-jauh Roux "


Sean mengikuti suara Roux


" Kyung... Kyuuuuung... "


Roux membuat tumbuhan di sekitarnya bergoyang


Sean mendekati tumbuhan yang di duga asal Roux dan membelah rumput liar yang tinggi itu


" Desa "


Sean terkejut melihat sebuah pemukiman yang sepertinya itu desa dengan manusia normal


" Kyaaaaaaa mama mama "


Anak kecil itu melambai lambaikan tangannya kepada seorang wanita muda


" Anakku "


Wanita itu berlari dan mengambil batita kecil itu dari Sean dengan kasar


" Mau apa kau "


Laki-laki di sekitar sana menempatkan wanita itu di belakang mereka


" Bahasa Indonesia.... Bahasanya sama nih"


Sean menggumam


" Aku hanya menemukan anak manis itu di tepi hutan , jadi aku bawa dia untuk mencari setidaknya orang tuanya "


Sean menjawab


" Bagaimana kami bisa percaya "


Orang orang di sana masih terlihat waspada


" Ada apa ini "


Terlihat seorang pria dengan pakaian prajurit jaman perang menghampiri Sean dan penduduk


" Ini tuan , laki-laki ini mau menculik anak-anak kami"


Salah satu pria di sana mengadu


" Menculik... Tangkap dia "


Prajurit itu langsung memerintahkan anak buahnya menahan Sean


*Sreeet


Tiba-tiba tangan Sean terikat dengan sebuah tali


" Eh.... Aku kira ini salah paham "


Sean mengikuti tarikan para penjaga


" Kyung Kyung "


Roux tidak mengikuti Sean dan hanya melihatnya pergi di seret para penjaga


" Eh.... Kalian bisa melepaskan aku "


Sean berbicara dengan salah satu penjaga


" Diam "


Penjaga di sana menggertak Sean


" Oh ayolah aku ini tidak tau apa-apa "


Sean mengedikkan bahunya


" Kita bawa langsung ke raja "


Prajurit paling depan memerintahkan


" Baik kepala "


Semua prajurit berkata dengan serentak


Selama perjalanan , Sean memperhatikan bangunan dan lingkungan kota juga desa yang terasa tidak asing baginya


" Ketedral "


Sean terkejut ada katedral dengan lambang bunga melati yang di ukir besar tepat di atas pintu ketedral


Keterdal : gereja agung tempat uskup atau imam agung di dudukkan ( tahta milik imam agung ada di keterdal )


" Melati "


Sean memperhatikan desain bunga melati di sana yang sangat detail


" Bunga mawar "


Sean melihat satu bangunan yang memiliki ukiran mawar di pintunya


" Tunggu... Aku tidak asing dengan bangunan ini "


Sean mengerenyitkan keningnya


*Ckit


Semua penjaga berhenti karena suatu kondisi


Sean terus memperhatikan bangunan itu dan melihat orang yang mengenakan mukenah keluar dari bangunan itu


" Eeehhhhh.... Ini kan masjid "


Sean membelalakkan matanya , masjid di sana berdampingan dengan keterdal dan mereka berdua saling bermegah megahan di satu lingkungan yang sama


" Ayo "


Para penjaga mendorong Sean untuk terus berjalan


" Kalau di pikir-pikir aku tidak asing dengan pimpinan ini "


Sean memperhatikan pimpinan prajurit di depannya


Sepanjang jalan , Sean memperhatikan semua bangunan yang memiliki ukiran bunga yang indah


Bahkan semua tanaman mulai bayam hingga rumput liar ada di setiap tembok bengunan


" Woah.... Ini kerajaannya "


Sean kagum melihat yang katanya kastil ada di atas bukit


" Kita lapor dulu ke kepala gerbang "


Semua prajurit membawa Sean menuju tempat seperti loket yang ada di samping gerbang masuk


" Selamat siang pak "


Semua prajurit memberi hormat untuk seseorang yang berdiri di dalam ruangan


Selama menunggu , Sean memperhatikan sekeliling dan mendengarkan beberapa percakapan kecil dari orang-orang yang berlalu-lalang


" Aku dengar pangeran muda sakit lagi "


" Benarkah "


" Iya , katanya pagi ini pangeran muda memanggil manggil ayah... Ayah... Begitu "


" Kasihan pangeran muda "


Suara percakapan antara para pelayan dan prajurit sayup-sayup terdengar


" Hm.... Dimana ya Roux "


Sean mengerucutkan bibirnya


" Haisss... Aku akan mencari Roux setelah terbebas dari sini "


Sean menggumam


" Ayo "


Prajurit mendorong bahu Sean dan mulai berjalan


" Ini kemana atuh "


Sean bertanya


" Diam "


Para prajurit tidak menjawab


Sean di bawa melewati beberapa pintu besar dan berhenti di satu pintu yang mewah dan indah


" Kami membawa tersangka kasus penculikan akhir-akhir ini "


Kepala prajurit memberitahu penjaga gerbang


" Aku akan memberitahu yang mulia dan pangeran "


Penjaga gerbang langsung berlari meninggalkan tempat


" Hei kalian "


Penjaga gerbang yang lain berteriak memanggil sekelompok prajurit yang baru saja lewat


" Siap "


Segerombolan prajurit itu mendekat


" Setelah ini kami yang akan membawanya"


Penjaga gerbang mengambil Sean dari para prajurit


" Kita kemana "


Sean bertanya


" Kami akan membawamu menemui yang mulia raja "


Prajurit di sana menjawab


" Huh... Kalian lebih ramah , tidak seperti mereka tadi "


Sean menggerutu kesal


" Hahaha , tentu saja kami ramah , kau kan akan mati setelah ini "


Para prajurit menertawakan Sean


" Coba aja "


Sean menggerutu


Sean di bawa melewati beberapa taman dan ruangan


Setelah itu Sean di bawa ke ruang terbuka yang di sebut ruang sidang terbuka


" Dimana yang mulia raja "


Prajurit di depan Sean bertanya


" Yang mulia sedang bermain dengan para putri di taman "


Para prajurit menjawab


" Lalu , pangeran "


Prajurit kembali bertanya


" Pangeran sedang menemani para pangeran muda bermain pedang "


Prajurit lain kembali menjawab


*Brak


Sean di jatuhkan dan itu membuat Sean berlutut di lantai


" Apa apaan kalian "


Sean memelototi para prajurit


" Diamlah , kau akan mati setelah ini "


Para prajurit kembali membuat Sean duduk dengan tenang secara paksa


" AYAAAAH "


Terdengar sebuah suara yang menggema di ruangan


" Pangeran , anda tidak boleh masuk "


Terdengar suara para prajurit


" LEPASKAN AYAHKU , KALIAN JAHAT... AYAAAAH "


Suara itu kembali menggema


" Ada apa "


*Set


Saat Sean hendak menoleh , kepala Sean di hentikan oleh para prajurit


" ADA APA INI "


Sebuah suara yang berat membuat ruangan menjadi hening


*Ngung....ngung....


Suara dari kalung biru Sean terdengar nyaring


*Deg


Sean terbelalak


" Ukiran itu "


Sean memperhatikan satu kursi yang ada di tengah-tengah kursi yang lain


Kursi itu memiliki ukiran bunga teratai dengan warna perak yang indah


" " AYAAAAH "


Kembali terdengar suara teriakan tadi


*Grep


Tanpa aba-aba dan peringatan , terasa sesuatu yang kecil masuk ke dalam pelukan Sean


" Ayah.... Hiks.... Aku rindu ayah "


Sesosok kecil mungil ada di dalam pelukan Sean


" Ayah "


Sean memperhatikan anak kecil yang ada di hadapannya


" Neve rindu ayah huaaaaaa... Ayaaaaah "


Anak kecil di depannya menangis meraung-raung di hadapan Sean


*Ctas


Sean melepaskan tali yang mengikat tangannya dengan mudah


" Sudahlah , jangan menangis lagi "


Sean mengusap kepala anak kecil di depannya dengan lembut


" Aku seperti mengenal namanya , tapi Neve itu... "


Sean mengerenyitkan keningnya


" Nama putra terakhirku"


Sean terkejut


*Grep


Sean menjauhkan wajah Neve dari dirinya


" Namamu siapa nak "


Sean menangkup wajah kecil di hadapannya


" Fils..hiks.. ne ..hiks... neuvieme Rudeus "


Neve menjawab dengan terbata-bata


" Fils Neuviaeme Rudeus "


Sean mengulangi kalimatnya


" Iya "


Anak kecil itu melepaskan tangan Sean dan kembali memeluk Sean


" Bagaimana mungkin... Apa ini hanya kebetulan namanya sama dengan putraku "


Sean membawa Neve ke dalam gendongannya dan berdiri


" Berapa usiamu sayang "


Sbastian mengusap lembut punggung Neve yang terasa rapuh dan lembut


" Du..hiks.. Dua belas "


Neve kecil menjawab dengan sedikit sesenggukan


" Hm... Kamu sudah besar ya "


Sean mengusap lembut kepala Neve


Tanpa Sean sadari , banyak orang berkumpul di belakangnya , semuanya menunggu Sean selesai berurusan dengan Neve

__ADS_1


__ADS_2