
" Mas dari mana "
Fleur menggosok matanya yang lengket
" Habis ngobrol sama papa "
Sean mengusap kepala Fleur
" Mas ngak bisa tidur "
Fleur mengedipkan matanya karena masih terasa berat
" Iya , lagian mas juga harus jaga sayangku ini kan "
Sean naik dan berbaring
" Mas..aku mau di usap usap "
Fleur menggenggam tangan Sean
" Dimana "
Sean berbaring di samping Fleur
" Di usap perutnya "
Fleur mengusap perutnya
" Enak "
Sean bertanya
" Enak mas hehe "
Fleur menelusupkan wajahnya di dalam ketiak Sean
" Hei ngapain ke situ "
Sean mengusap kepala Fleur
" Di sini hangat hehe "
Fleur menunjukkan deretan gigi putihnya
" Ada ada saja sayangku ini "
Sean membawa kelapa Fleur ke atas lengannya dan memeluk Fleur dari belakang
Esok hari
" Sayang , ini sudah siang... Ayo bangun "
Sean mengusap kepala Fleur
" Hm.... "
Fleur menepis tangan Sean dan kembali memejamkan matanya
" Mas mau ke rapat hari ini "
Sean berpamitan
" Jangan "
Fleur menarik tangan Sean
" Ayolah cantik , semua sudah nungguin mas"
Sean mengusap kepala Fleur
" Hiks... Ngak mau .... Jangan pergi.... Hiks.. huaaaaaa "
Fleur langsung menarik tangan Sean dan menangis dengan keras
" Kakak kenapa "
Terdengar suara Aniel dari arah pintu
" Masuk "
Sean mempersilahkan
*Griet
Pintu terbuka
" Kakak kenapa "
Aniel langsung memeluk kaki Sean
" Ada apa Sean "
Adinda masuk dan bertanya
" Bayi besarnya Sean lagi manja "
Sean mengusap kepala Fleur
" Turuti saja permintaannya , itu permintaan anakmu bukan istrimu "
Terdengar suara Sbastian dari pintu
" Hm.... Iya sih , tapi gimana caranya kasih tau mereka kalau Sean ngak jadi ikut rapat "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Aku bisa "
Suara Adimas menyahuti
" Boleh , bilang ya... Kalau lagi ada halangan"
Sean memberi pesan
" Okeh... Tapi tempatnya di mana "
Adimas bertanya
" Hm..... Oh si Roux bisa menunjukkan jalan"
Sean menunjuk Roux yang masih tidur di sudut ruangan
" Kalau gitu Aniel mau ikut "
Aniel mengangkat tangannya
" Boleh "
Sean mengangguk
" Roux hapal jalan di sini , jadi kalian ngak akan tersesat "
Sean melambaikan tangan dan Roux mendekat
" Kyung... "
Roux mendekat
" Berikan ini kepada Aloe "
Sean memberikan sapu tangan merah
" Kyung "
Roux menerima sapu tangan Sean dengan mulutnya
" Kami berangkat "
Adimas membawa Aniel dan Roux keluar kamar
" Hati hati anak-anak "
Adinda mengusap kepala Aniel
" Iya bunda "
Mereka berdua pergi meninggalkan rumah
" Papa dan mama udah makan "
Sean bertanya
" Tinggal kalian yang belum makan "
Sbastian menjawab
" Tuh semuanya udah makan , ayo kita makan "
Sean mengusap kepala Fleur
" Di suapin ya "
Fleur meminta
" Iya "
Sean membantu Fleur berdiri
Di dapur
" Mas yang masak "
Fleur bertanya
" Iya , ini mas sama bunda yang masak "
Sean mendudukkan Fleur di atas kursi
" Fleur boleh ngak di suapin sama bunda "
Fleur berbisik
" Boleh "
Adinda menjawab
" Makasih "
Fleur tersenyum malu
" Mas ngak makan "
Fleur memperhatikan Sean yang mengambilkan makanan untuknya
" Emang kenapa hm... Kamu mau makan sama mas "
Sean meletakkan piring Fleur
" Mas udah makan ya "
Fleur menunduk
" Udah , tapi sedikit "
Sean mengangguk
" Kalau begitu mas makan lagi ya , sama Fleur di sini "
Fleur meminta
" Boleh "
Sean mengambil makanan untuknya sendiri dan duduk di samping Fleur
" Padahal Sean makan banyak tadi hahaha"
Sbastian menertawakan Sean yang terlihat makan dengan santai
" Em... Papa udah makan "
Fleur bertanya
" Sudah , tadi makan sama bunda "
Sbastian duduk di samping Sean dan menjawab
" Bunda ngak makan lagi "
Fleur bertanya
" Kamu makan dulu dan habiskan , nanti bunda tambah kalau kurang "
Adinda dengan telaten menyuapi Fleur
" Kenapa bunda mau aku minta kayak gini "
Fleur menunduk dan bertanya
" Memang kenapa "
Adinda tersenyum
" Padahal bunda kan bukan ibu ku "
Fleur menjawab pertanyaan Adinda
" Kamu kan istrinya Sean , jadi ya kamu putri bunda , kan Sean anaknya bunda "
Adinda menjawab
" Hehe makasih bunda "
Fleur tersenyum senang
*Brak
Sean tiba-tiba berdiri dan menggebrak meja
" Kenapa mas "
Fleur memegang tangan Sean
" kalian harus kembali "
Sean menggenggam tangan Fleur
" Maksudnya "
Sbastian bertanya
*Brak
Sean menyisihkan kursi yang dia duduki dengan kasar dan berlari keluar dari dapur
" Mas... Mas kenapa "
Fleur mengikuti langkah Sean
Fleur melihat pintu kamar yang terbuka lebar
" Mas "
Fleur masuk ke dalam kamar
Terlihat Sean memakai jaket kulit tebal , sepatu dan topi dari kulit rusa buatan Fleur
" Kenapa mas pakai ini "
Fleur bertanya
" Sayang , kamu harus ikut papa dan bunda"
Sean memegang pundak Fleur
" Kenapa "
Fleur meremas lengan Sean
" Mereka di sini , mereka mencarimu , kamu harus pergi "
Sean berbalik dan mengambil pedang yang dia simpan rapat-rapat di dalam kotak
" Mas... Fleur ngak mau pisah dari mas lagi"
Fleur menolak
*Brak
Sean membuka lemari dan memakaikan pakaian tebal untuk Fleur
" Kamu harus pergi , selamatkan anak kita "
Sean memakaikan pakaian tebal untuk Fleur
" Ngak mau... Aku mau sama mas "
Fleur menitikkan air matanya
*Grep... Cup
Tanpa aba-aba , Sean langsung ******* bibir Fleur dengan kasar
*Brak
Sean menutup pintu kamar
" Mas... Mas mau apa "
Fleur terkejut melihat Sean melepaskan celananya
" KYAAAAAAA SAKIT MAS "
Fleur berteriak saat Sean tiba-tiba memasukkan miliknya dengan kasar
*Clap...clap...
Sean kembali melumas bibir Fleur dan membuat Fleur semakin bertariak
Dua jam setelah itu
" Mas "
Terdengar suara lirih Fleur
" Kamu tidak akan menurut jika mas tidak seperti ini , maafkan mas "
Sean mengusap dan memeluk Fleur dengan lembut
*Tok...tok...tok...
Pintu kamar Sean di ketuk
" Sebentar "
Sean langsung memakan Fleur pakaian dan membenahi pakaiannya sendiri
*Griet
Sean membuka pintu
" Tuan "
Terlihat Aloe berdiri di depan pintu
__ADS_1
" Alula sudah datang "
Sean bertanya
" Sudah , baru saja datang dengan sebuah perahu "
Aloe menjawab
" Adik dan kakak sudah datang "
Sean berbalik menghampiri Fleur
" Sudah "
Aloe mengangguk
" Mas jangan tinggalin Fleur lagi "
Fleur menatap Sean dengan sayu
" Ini berbahaya , cuma di rumah mas yang aman , kamu harus pergi "
Sean mendudukkan Fleur di atas pangkuannya
" Mas "
Fleur menggelengkan kepalanya
" Percaya dengan mas "
Sean menyatukan keningnya dengan Fleur
" Jangan "
Fleur mengusap pipi Sean
" Mas janji , nanti mas akan pulang "
Sean menggenggam tangan Fleur
" Jangan pergi "
Fleur menggeleng
" Maaf sayang , mas harus melindungi kalian"
*Cup
Sean mengecup telapak tangan Fleur
" Sean "
Sbastian memanggil
" Lihat , aku dan papa itu sama , jika Fleur merindukan mas , minta papa berpakaian seperti mas... Ya sayang "
Sean menunjuk Sbastian
" Ngak mau... hiks.. jangan pergi "
Fleur memejamkan matanya
" Maaf ya cantiknya mas , tapi ini tugas untuk melindungi kalian "
Sean berdiri dan membawa Fleur ke dalam gendongannya
" Ayo ke tempat Alula "
Sean berjalan keluar dari kamar
Sepanjang perjalanan , Fleur selalu memandangi wajah Sean dan sesekali mengusapnya
Di pintu masuk pulau
" Salam tuan "
Alula datang dengan beberapa orang
Sean naik ke atas perahu Alula dan mendudukkan Fleur di salah satu tempat khusus yang telah Alula siapkan
" Ini punya semua saudara mas "
Sean melepas gelang kembar miliknya
" Gelang ini punya banyak informasi tentang mas , jika ada orang bernama Diablo datang , tunjukkan gelang ini kepadanya "
Sean memakaikan gelangnya di tangan Fleur
" Ngak mau "
Fleur menggeleng
" Dengar sayang , jika anak kita laki-laki namakan dia Teck Etiez Faloir , artinya pohon jati yang berharga "
*Cup
Sean mencium perut Fleur
" Dan namakan dia Soliel Levent jika perempuan , artinya matahari terbit "
*Cup
Sean mengecup kening Fleur
" Saya mengingatnya "
Suara key terdengar dari belakang
" Bagus "
Sean tersenyum
" Dan cincin ini akan selalu terhubung , kamu dan aku "
Sean mengusap cincin dari tanduk rusa milik Fleur
" Pulanglah nanti "
Fleur memeluk Sean
" Iya... Pasti "
Sean membalas pelukan hangat Fleur
" Mas pergi ya "
Sean menangkup wajah Fleur
" Hati-hati "
Fleur menggenggam tangan Sean
" Iya "
Sean tersenyum
*Krak
Rambut Fleur terpotong di ujung
" Alula "
Sean terkejut
*Sring
Alula membuat rambut Sean masuk ke dalam sebuah kantung kecil dengan tali
" Di tempatku ini adalah jimat agar doa dari orang yang kita sayang selalu bersama kita"
Fleur memakaikannya di leher Sean
" Kalau begitu buatkan untuk Fleur "
Sean menarik rambut panjangnya
*Krak
Fleur membuatkan hal serupa dari rambut Sean
" Sudah "
Alula memakaikannya di leher Fleur
" Kakak cepat pulang ya "
Aniel memeluk pinggang Sean
" Jaga istri kakak ya "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Aniel janji "
Aniel mengangguk
" Bagus "
*Cup
Sean mengecup kening Aniel
" Aniel akan rindu kakak "
Aniel memeluk erat leher Sean
" Kakak akan rindu dengan mu "
Sean mendudukkan Aniel di samping Fleur
" Jaga mereka "
Sean memeluk Adimas
" Aku mengerti "
Adimas membalas pelukan Sean
" Sean titip Fleur ya pa , bunda "
Sean memeluk kedua orang tuanya
" Iya "
*Cup
Sbastian dan Adinda mencium kening Sean
Setelah beberapa percakapan perpisahan , akhirnya Sean turun dari perahu Alula dan melihat keluarganya pergi
" KAKAK.... AKU SAYANG KAKAK "
Terdengar suara teriakan Aniel hingga mereka menghilang di dalam portal dimensi
" Jaga diri kalian baik-baik "
Sean menggumam
" Kalian pergi dari sini , aku akan pergi "
Sean naik ke atas perahu kecil yang di siapkan untuknya
" Dan tolong jaga Roux , dia tidak terlihat dari tadi "
Sean menaikkan jangkarnya
" Baik "
Tetua mengangguk
" Tapi tuan , anda yakin "
North bertanya
" Kalian para petarung di perlukan di sini , jadi aku akan pergi sendiri "
Sean menjawab
Setelah beberapa percakapan dan beberapa pemberian di terima Sean , akhirnya pulau berlayar meninggalkan Sean dan menyamarkan dirinya dengan laut
" Hm... Sepi sekali "
Sean menyadari dirinya berada di tengah-tengah laut sendirian
*Krusuk.. krusuk...
Terlihat sebuah gerakan dari salah satu tas bawaan Sean
*Sring
Sean mengeluarkan belatinya
" KYUUUUUNG... "
Terlihat Roux langsung melompat ke dalam pelukan Sean
" Astaga "
*Brak
Sean terkejut saat Kyung langsung membuatnya terlentang di atas perahu
" Hahahaha kau mengikutiku ya "
Sean mengusap kepala Kyung
" Kyung.... Kyung.... "
Roux menjilati seluruh wajah Sean
" Iya iya aku tidak akan meninggalkanmu "
Sean mengangkat Roux dari wajahnya
" Kyung... "
Terlihat senyuman dari wajah Roux
" Hahaha aku ngak sendiri hahaha "
Sean tertawa
" Ayo berlayar Roux "
Sean membuka layar kapal dan kapal Sean mulai berlayar
Dua bulan Sean terombang ambing di lautan hingga persediaan makanan Sean hampir menipis
" Kita harus segera menepi "
Sean berdiri dan mengeluarkan teropongnya
" Kyung "
Roux berteriak dari belakang
" Woah.... Pulau "
Sean terkejut
" Kita ke sana Roux "
Sean melipat layarnya dan mulai berlayar menuju pulau yang terlihat di ujung
Setelah beberapa saat
" Akhirnya , kita temukan daratan "
Sean turun dan dan menurunkan Roux dari perahu
*Nguuung
Sean mendengar suara mendengung di telinganya
Saat Sean membuka portal miliknya, batu biru miliknya bercahaya dan mengeluarkan suara dengungan
" Kyung... Ggrrrr.... "
Roux terlihat menunjukkan taringnya dan terlihat mewaspadai arah hutan di sana
" Ada apa Roux "
Sean mengembalikan batu birunya
" Kyung.. Kyung... Kyung... Kyung... "
Roux terus mengeluarkan suara
*Sring
Sean mengeluarkan pedangnya dari dalam kotak
" Siapa di sana "
Sean berjalan mendekati semak-semak
*Krusuk.. krusuk
Semak semak itu bergerak
" Kya... Hahaha "
Terlihat seorang anak kecil yang baru belajar merangkak mengejutkan Sean
" Bagaimana bisa anak ini ada di sini "
Sean meletakkan pedangnya
" Apa orang tuamu ada di sini "
Sean menggendong batita itu dan membersihkan pakaiannya yang terlihat terbuat dari kulit hewan
" Kya Kya hahaha "
Batita itu tertawa dan terlihat bermain dengan pakaian Sean
" Ayo Roux "
Sean berjalan meninggalkan pantai
" Kyung... "
Roux melompat lompat menatap perahu
" Sudah ku bawa semua Roux "
Sean berjalan masuk ke dalam hutan di ikuti Roux
" Kyung... "
Roux mengikuti langkah kaki Sean
" Hm.... Kalau kamu di sini , pasti di sekitar sini ada desa atau semacamnya "
__ADS_1
Sean menggumam
" Kyung "
Tiba-tiba Roux menarik celana Sean
" Kenapa Kyung "
Sean berhenti
" Kyung... Kyung... "
Roux meninggalkan Sean dan berjalan ke arah kanan dan itu membuat Roux hilang di antara semak-semak
" Apa kau menemukan sesuatu "
Sean bertanya
" Kyung... "
Roux berteriak dari kejauhan
" Jangan jauh-jauh Roux "
Sean mengikuti suara Roux
" Kyung... Kyuuuuung... "
Roux membuat tumbuhan di sekitarnya bergoyang
Sean mendekati tumbuhan yang di duga asal Roux dan membelah rumput liar yang tinggi itu
" Desa "
Sean terkejut melihat sebuah pemukiman yang sepertinya itu desa dengan manusia normal
" Kyaaaaaaa mama mama "
Anak kecil itu melambai lambaikan tangannya kepada seorang wanita muda
" Anakku "
Wanita itu berlari dan mengambil batita kecil itu dari Sean dengan kasar
" Mau apa kau "
Laki-laki di sekitar sana menempatkan wanita itu di belakang mereka
" Bahasa Indonesia.... Bahasanya sama nih"
Sean menggumam
" Aku hanya menemukan anak manis itu di tepi hutan , jadi aku bawa dia untuk mencari setidaknya orang tuanya "
Sean menjawab
" Bagaimana kami bisa percaya "
Orang orang di sana masih terlihat waspada
" Ada apa ini "
Terlihat seorang pria dengan pakaian prajurit jaman perang menghampiri Sean dan penduduk
" Ini tuan , laki-laki ini mau menculik anak-anak kami"
Salah satu pria di sana mengadu
" Menculik... Tangkap dia "
Prajurit itu langsung memerintahkan anak buahnya menahan Sean
*Sreeet
Tiba-tiba tangan Sean terikat dengan sebuah tali
" Eh.... Aku kira ini salah paham "
Sean mengikuti tarikan para penjaga
" Kyung Kyung "
Roux tidak mengikuti Sean dan hanya melihatnya pergi di seret para penjaga
" Eh.... Kalian bisa melepaskan aku "
Sean berbicara dengan salah satu penjaga
" Diam "
Penjaga di sana menggertak Sean
" Oh ayolah aku ini tidak tau apa-apa "
Sean mengedikkan bahunya
" Kita bawa langsung ke raja "
Prajurit paling depan memerintahkan
" Baik kepala "
Semua prajurit berkata dengan serentak
Selama perjalanan , Sean memperhatikan bangunan dan lingkungan kota juga desa yang terasa tidak asing baginya
" Ketedral "
Sean terkejut ada katedral dengan lambang bunga melati yang di ukir besar tepat di atas pintu ketedral
Keterdal : gereja agung tempat uskup atau imam agung di dudukkan ( tahta milik imam agung ada di keterdal )
" Melati "
Sean memperhatikan desain bunga melati di sana yang sangat detail
" Bunga mawar "
Sean melihat satu bangunan yang memiliki ukiran mawar di pintunya
" Tunggu... Aku tidak asing dengan bangunan ini "
Sean mengerenyitkan keningnya
*Ckit
Semua penjaga berhenti karena suatu kondisi
Sean terus memperhatikan bangunan itu dan melihat orang yang mengenakan mukenah keluar dari bangunan itu
" Eeehhhhh.... Ini kan masjid "
Sean membelalakkan matanya , masjid di sana berdampingan dengan keterdal dan mereka berdua saling bermegah megahan di satu lingkungan yang sama
" Ayo "
Para penjaga mendorong Sean untuk terus berjalan
" Kalau di pikir-pikir aku tidak asing dengan pimpinan ini "
Sean memperhatikan pimpinan prajurit di depannya
Sepanjang jalan , Sean memperhatikan semua bangunan yang memiliki ukiran bunga yang indah
Bahkan semua tanaman mulai bayam hingga rumput liar ada di setiap tembok bengunan
" Woah.... Ini kerajaannya "
Sean kagum melihat yang katanya kastil ada di atas bukit
" Kita lapor dulu ke kepala gerbang "
Semua prajurit membawa Sean menuju tempat seperti loket yang ada di samping gerbang masuk
" Selamat siang pak "
Semua prajurit memberi hormat untuk seseorang yang berdiri di dalam ruangan
Selama menunggu , Sean memperhatikan sekeliling dan mendengarkan beberapa percakapan kecil dari orang-orang yang berlalu-lalang
" Aku dengar pangeran muda sakit lagi "
" Benarkah "
" Iya , katanya pagi ini pangeran muda memanggil manggil ayah... Ayah... Begitu "
" Kasihan pangeran muda "
Suara percakapan antara para pelayan dan prajurit sayup-sayup terdengar
" Hm.... Dimana ya Roux "
Sean mengerucutkan bibirnya
" Haisss... Aku akan mencari Roux setelah terbebas dari sini "
Sean menggumam
" Ayo "
Prajurit mendorong bahu Sean dan mulai berjalan
" Ini kemana atuh "
Sean bertanya
" Diam "
Para prajurit tidak menjawab
Sean di bawa melewati beberapa pintu besar dan berhenti di satu pintu yang mewah dan indah
" Kami membawa tersangka kasus penculikan akhir-akhir ini "
Kepala prajurit memberitahu penjaga gerbang
" Aku akan memberitahu yang mulia dan pangeran "
Penjaga gerbang langsung berlari meninggalkan tempat
" Hei kalian "
Penjaga gerbang yang lain berteriak memanggil sekelompok prajurit yang baru saja lewat
" Siap "
Segerombolan prajurit itu mendekat
" Setelah ini kami yang akan membawanya"
Penjaga gerbang mengambil Sean dari para prajurit
" Kita kemana "
Sean bertanya
" Kami akan membawamu menemui yang mulia raja "
Prajurit di sana menjawab
" Huh... Kalian lebih ramah , tidak seperti mereka tadi "
Sean menggerutu kesal
" Hahaha , tentu saja kami ramah , kau kan akan mati setelah ini "
Para prajurit menertawakan Sean
" Coba aja "
Sean menggerutu
Sean di bawa melewati beberapa taman dan ruangan
Setelah itu Sean di bawa ke ruang terbuka yang di sebut ruang sidang terbuka
" Dimana yang mulia raja "
Prajurit di depan Sean bertanya
" Yang mulia sedang bermain dengan para putri di taman "
Para prajurit menjawab
" Lalu , pangeran "
Prajurit kembali bertanya
" Pangeran sedang menemani para pangeran muda bermain pedang "
Prajurit lain kembali menjawab
*Brak
Sean di jatuhkan dan itu membuat Sean berlutut di lantai
" Apa apaan kalian "
Sean memelototi para prajurit
" Diamlah , kau akan mati setelah ini "
Para prajurit kembali membuat Sean duduk dengan tenang secara paksa
" AYAAAAH "
Terdengar sebuah suara yang menggema di ruangan
" Pangeran , anda tidak boleh masuk "
Terdengar suara para prajurit
" LEPASKAN AYAHKU , KALIAN JAHAT... AYAAAAH "
Suara itu kembali menggema
" Ada apa "
*Set
Saat Sean hendak menoleh , kepala Sean di hentikan oleh para prajurit
" ADA APA INI "
Sebuah suara yang berat membuat ruangan menjadi hening
*Ngung....ngung....
Suara dari kalung biru Sean terdengar nyaring
*Deg
Sean terbelalak
" Ukiran itu "
Sean memperhatikan satu kursi yang ada di tengah-tengah kursi yang lain
Kursi itu memiliki ukiran bunga teratai dengan warna perak yang indah
" " AYAAAAH "
Kembali terdengar suara teriakan tadi
*Grep
Tanpa aba-aba dan peringatan , terasa sesuatu yang kecil masuk ke dalam pelukan Sean
" Ayah.... Hiks.... Aku rindu ayah "
Sesosok kecil mungil ada di dalam pelukan Sean
" Ayah "
Sean memperhatikan anak kecil yang ada di hadapannya
" Neve rindu ayah huaaaaaa... Ayaaaaah "
Anak kecil di depannya menangis meraung-raung di hadapan Sean
*Ctas
Sean melepaskan tali yang mengikat tangannya dengan mudah
" Sudahlah , jangan menangis lagi "
Sean mengusap kepala anak kecil di depannya dengan lembut
" Aku seperti mengenal namanya , tapi Neve itu... "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Nama putra terakhirku"
Sean terkejut
*Grep
Sean menjauhkan wajah Neve dari dirinya
" Namamu siapa nak "
Sean menangkup wajah kecil di hadapannya
" Fils..hiks.. ne ..hiks... neuvieme Rudeus "
Neve menjawab dengan terbata-bata
" Fils Neuviaeme Rudeus "
Sean mengulangi kalimatnya
" Iya "
Anak kecil itu melepaskan tangan Sean dan kembali memeluk Sean
" Bagaimana mungkin... Apa ini hanya kebetulan namanya sama dengan putraku "
Sean membawa Neve ke dalam gendongannya dan berdiri
" Berapa usiamu sayang "
Sbastian mengusap lembut punggung Neve yang terasa rapuh dan lembut
" Du..hiks.. Dua belas "
Neve kecil menjawab dengan sedikit sesenggukan
" Hm... Kamu sudah besar ya "
Sean mengusap lembut kepala Neve
Tanpa Sean sadari , banyak orang berkumpul di belakangnya , semuanya menunggu Sean selesai berurusan dengan Neve
__ADS_1