Aku Pangeran

Aku Pangeran
#11 { agama si kembar }


__ADS_3

Mulai pukul lima kurang dua puluh menit, ketiga anak manusia yang dari tadi membuat keramaian kini tidak terlihat bahkan tidak terdengar suara dan rupanya


Kamar sbastian yang biasanya di huni Sean saat menunggu waktu magrib juga terlihat sepi


Di sana hanya ada sbastian , juga laptopnya dan kopi panas yang di temani oleh camilan di atas meja


Sedangkan kamar Sean yang biasanya tidak di tempati setelah sbastian pulang pukul lima sore , kini di tempati oleh Sean dan kedua manusia kembar yang sedari tadi mengikuti Sean kemanapun Sean berjalan


Sean mengambil beberapa buku yang di miliki sbastian di rak yang ada di perpustakaan pribadi yang ada di samping kamar Sean


Sean meminta lili untuk membacakan buku tentang ilmu pengetahuan alam yang sangat tebal


Dan Leon di minta Sean untuk menjelaskan dan menunjukkan hal-hal yang tidak di ketahui oleh dirinya


Meskipun bukan Leon tidak berbicara dan hanya menjelaskan lewat fidio


Tidak lama alarm di atas meja di tengah ruangan mengumandangkan azan , yang menunjukkan waktu magrib tiba


*Tok..tok..tok..*


Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar Sean


" Siapa ya "


Lili bertanya kepada orang-orang yang ada di dalam kamar itu


" Asti apapa "


(Pasti papa )


Kata Sean berdiri


" Apa katanya "


Lili menoleh kepada Leon


" Kak Tian "


Jawab Leon singkat


Sean menaiki tangga kecil yang tertempel di dinding dekat pintu dan membuka kunci pintu kamar


" Apapa "


Kata Sean


" Sudah magrib , waktunya sholat anak papa , kamu lupa ya "


Sbastian mencolek hidung Sean dan di sambut tawa renyah Sean yang kelupaan akan sholat magribnya


" Tenapa eleka dak itut "


( Kenapa mereka ngak ikut )


Sean menunjuk ke arah saudara kembar itu


" Sean mengajak kalian ikut sholat "


Kata sbastian kepada mereka berdua


" Sholat "


Mereka kompak dan saling melihat satu sama lain


Sbastian yang sudah membelakangi mereka kini kembali berbalik


" Aku yakin papa dan mama tidak pernah mengajari kalian seperti itu . Iya kan"


Sbastian menekan kalimat terakhirnya dengan mata yang sedikit melotot


" Sudahlah , aku akan mengajari kalian , cepat ikut ke kamar "


Perintah sbastian di ikuti oleh kedua saudara kembar itu


Di kamar sbastian , Sean terlebih dahulu berwudlu sebelum yang lainnya


" Lihat dia berwudlu "


Kata sbastian memperingati


Mereka berdua melihat Sean mengangkat tangan dan mengeraskan suaranya untuk membaca doa wudu


Lidahnya yang masih cadel menjadi lucu namun mengagumkan , anak berumur satu tahun sudah bisa menghafal doa sebelum wudu


Setelah Sean selesai berwudlu sbastian meminta Sean untuk menyiapkan mukenah dan perlengkapan sholat lainnya


" Sean , ambilkan mukenah yang pernah papa tunjukkan ke Sean di laci paling bawah , dan siapkan sajadah juga dua peci milik papa . Mengerti "


Perintah sbastian kepada sean


" Ya apapa "


Sean mengangguk dan keluar dari kamar mandi menuju ke arah tempat sholat yang di buat di sudut ruangan


Setelah sesi berwudlu yang sangaaat panjang , sbastian mengajari lili untuk memakai mukenah putih milik adinda , almarhum istri sbastian

__ADS_1


" Apa benar gini "


Tanya Leon


" Hahaha..... Tatak taya man Acep"


( Hahaha ... Kakak kayak mang Asep)


Sean tertawa di sambut lirikan tajam oleh Leon yang salah memakai peci


" Emang , mang Asep siapa?? "


Tanya Leon penasaran


" Itu , mang Asep itu tukang sate yang biasanya lewat di depan rumah "


Jawab sbastian sambil membenarkan peci Leon


" Aku kok di samain sama tukang sate"


Gerutu Leon


" Sudah sudah , waktunya sholat , kalian berdua ikutin kakak "


Perintah sbastian


Sholat magrib yang biasanya hanya dua orang kini bertambah menjadi empat orang


Setelah sholat magrib sbastian membawa Sean untuk belajar mengaji iqro' dan membaca surat surat pendek di dalam juz 30 sambil menunggu waktu azan isya'


" Ini apa kak "


Tanya lili saat melihat Sean membawa buku kecil yang tebal dengan tulisan asing yang tidak sepertinya pernah dia lihat


" Ni iklo , uat aji "


( ini iqro' . Buat ngaji )


Jawab Sean


Namun lili malah bingung , tidak dapat mengartikan kalimat cadel Sean


" Kalo yang besar "


Leon menunjuk buku yang lebih besar yang di bawa Sean


" ni jus Ama , uat aji sulat pendek "


(Ini juz amma , buat ngaji surat pendek)


" Ayo Sean , kita ngaji "


Sbastian menggandeng Sean menuju sofa di kamar sbastian


" Kalo ini apa kak "


Tanya lili kepada sbastian


" Ini Al-Qur'an , kitab kita , nanti kakak ajari , tapi iqro' dulu kayak Sean , baru nanti bisa baca Al-Qur'an "


Jawab sbastian untuk pertanyaan lili


Leon dan lili mengamati Sean yang mengaji iqro' dan juz amma , lalu mengamati sbastian yang mengaji surat surat dalam Al-Qur'an yang terdengar indah di telinga mereka berdua


Di saat sbastian mengaji , Sean akan selalu duduk di pangkuan sbastian dan mengamati sbastian yang menunjuk-nunjuk sampai ayat mana ia mengaji


Saat sbastian selesai mengaji , Sean akan selalu bertanya beberapa ayat yang menurutnya susah , terdengar asing ataupun meminta makna dari ayat ayat itu


" Apa kalian pernah belajar Islam "


Tanya sbastian kepada kedua mahluk kembar di hadapannya


" Kami tau apa itu Islam , dan kami Islam , namun...."


Kalimat Leon tidak selesai terucap dan Leon malah tertunduk menghadap ke bawah


" Jika kalian tetap mau tinggal di sini , maka kalian harus belajar ilmu Islam setiap selesai sholat magrib , seperti saat ini , bagaimana ?? "


Tanya sbastian melihat mereka berdua


Karena mereka tidak kuncung menjawab , sbastian menyambung kembali kalimatnya


" Ngak mau , ya sudah "


Sbastian berbicara dengan cuek


" Baiklah , kami mau , tapi kak Tian harus janji kami bisa selalu bermain dengan Sean"


Pinta lili


Leon hanya melirik sinis adik perempuannya


" Menguntungkan dirimu dong , akunya enggak "


Batin Leon menjerit

__ADS_1


" Boleh , sepakat ya "


Sbastian mengulurkan tangannya sebagai tanda persetujuan


" Okeh "


Lili menerima jabat tangan sbastian


Dan terjadilah perjanjian dimana jika mereka berdua mau tinggal dan bermain dengan Sean , maka mereka berdua wajib belajar agama bersama sbastian


Sebenarnya perjanjian itu ada antara sbastian dan lili


Namun tidak Leon dan Sean , Leon hanya mengikuti kemauan adik perempuannya, sedangkan Sean hanya iya iya saja


Sbastian memutuskan untuk mengajari lili membaca iqro'


Sedangkan Sean mengajari membaca Leon , karena Leon mengerti kalimat yang Sean ucapkan


" Ini apa "


Leon bertanya kepada Sean


" Ni amanya jim "


(Ini namanya Jim )


Sean menjelaskan huruf huruf Hijaiyah


Jika Sean tidak bisa menjelaskan tentang huruf yang sudah untuk di lafalkan , maka sbastian yang akan menjelaskan


Saat memasuki waktu isya' . sbastian mengajak mereka untuk berwudhu kembali


" Lho , tapi kan udah wudu tadi "


Kata lili


" Tapi lebih baik memperbarui wudhu "


Leon memberitahu


" Betul itu hahahaha..."


Sbastian tertawa melihat Leon yang biasanya pendiam kini mengeluarkan suaranya


Sholat isya' di laksanakan secara berjamaah dengan khusu'


Setelah sholat isya'


" Kak kenapa sholatnya ngak kayak sholat magrib "


Tanya lili


" Sholatnya sama , cuma beda jumlah raka'at shalat "


Jelas sbastian sambil merapihkan sajadah dan perlengkapan sholat lainnya


" Apapa , ean epel"


( Papa , Sean laper )


Kata Sean menggosok perutnya


" Kamu mau apel "


Tanya lili


" Dia laper , bukan mau apel , dasar cerdas lo dek"


Sahut Leon sambil menjewer telinga lili


" Kakak , sakit tau , lagian kan aku ngak bisa bahasa bayi "


Sahut lili menggosok telinganya yang sakit


" Belajar lah , ya kan Sean "


Leon meminta pendapat Sean


" Iya ..."


Sungguh jawaban yang pendek untuk seorang Sean yang sangat banyak bicara


" Ayo nak , kita makan malam , kalian keluar aja dulu , Sean mau ritual "


Perintah sbastian sambil menggendong Sean menuju kamar mandi


" Ritual apa "


Tanya lili kepo


" Cuci tangan sayang "


Jawab Leon keluar dari kamar sbastian


" Sungguh , berapa kapasitas otak kak Leon , bahkan isyarat bayi bisa di baca , astaga "

__ADS_1


Lili menggerutu sambil geleng-geleng kepala berjalan keluar kamar


__ADS_2